Abstrak :
This study aims to analyze the organizational culture at the Salafiyah Al Utsmani Islamic Boarding School, including the applied organizational cultural values and the factors influencing its formation in Islamic educational institutions. This study used a qualitative approach with a descriptive approach. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. Data sources were obtained from the boarding school's caretakers, administrators, religious teachers (ustaz), and students involved in the boarding school's organizational activities. Data analysis was conducted through the stages of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing.
The results indicate that the organizational culture at the Salafiyah Al Utsmani Islamic Boarding School is implemented through religious values, discipline, responsibility, togetherness, and respect for the kiai (religious leaders) and teachers. Religious values are manifested through congregational prayer, recitation of yellow books, and recitation of Rotibul Haddad (The Word of God). Discipline is implemented through boarding school regulations, study schedules, and student duty. Furthermore, a culture of togetherness is manifested through mutual cooperation, deliberation, and cooperation among students. Factors influencing the formation of organizational culture include the individual character of the students, organizational ethics, division of responsibilities, and the organizational structure of the Islamic boarding school. The organizational culture implemented in Islamic boarding schools plays a vital role in shaping the character of students who are disciplined, responsible, independent, and have good morals.
Abstrak :
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis budaya organisasi di Pesantren Salafiyah Al Utsmani, meliputi nilai-nilai budaya organisasi yang diterapkan serta faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya budaya organisasi di lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data diperoleh dari pengasuh pesantren, pengurus, ustaz, dan santri yang terlibat dalam aktivitas organisasi pesantren. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi di Pesantren Salafiyah Al Utsmani diterapkan melalui nilai religius, disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, dan penghormatan kepada kiai serta guru. Nilai religius diwujudkan melalui kegiatan salat berjamaah, pengajian kitab kuning, dan pembacaan Rotibul Haddad. Budaya disiplin diterapkan melalui aturan pesantren, jadwal belajar, dan kegiatan piket santri. Selain itu, budaya kebersamaan diwujudkan melalui kegiatan gotong royong, musyawarah, dan kerja sama antar-santri. Faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya budaya organisasi meliputi karakter individu santri, etika organisasi, pembagian tanggung jawab, dan struktur organisasi pesantren. Budaya organisasi yang diterapkan di pesantren berperan penting dalam membentuk karakter santri yang disiplin, bertanggung jawab, mandiri, dan berakhlakul karimah.
Kata Kunci: Budaya organisasi, lembaga Pendidikan islam, pesantren
1. PENDAHULUAN
Budaya organsasi merupakan hal yang sangat penting, untuk membangun sistem sosial dan menciptakan interaksi yang baik antar sesama serta menjaga keharmonisan didalam bekerja, yang akan membawa organisasi kepada kinerja yang baik dan mencapai kesuksesan (Junariset al., 2022). Dalam kajian budaya menyatakan budaya organisasi dapat menentukan kinerja perusahaan, penampilan organisasi dan kemajuan organisasi (Ghazaliet al., 2022). Stephen P. Robbins dalam bukunya yang berjudul Perilaku Organisasi (Organizational Behavior)bahwa Budaya Organisasi mengacu pada suatu system berbagi arti yang dilakukan oleh para anggota yang membedakan organisasi dari organisasi lainnya. Manusia merupakanmakhluk sosial yang saling berinteraksi dan bekerja sama. Kumpulan individu yang datang dari berbagai latar belakang berbeda dapat disatukan dengan hadirnya budaya yang disepakati secara bersama-sama. Kerja tim yang dilandasi dengan budaya yang positif akan menghasilkan kerja sama dan menciptakan interaksi positif. Penciptaan Iklim atau suasana ditempat kerja merupakan suatu faktor yang mampu mendorong kenyamanan anggota organisasi dalam menjalankan tanggung jawabnya. Secara implisit manusia diatur oleh lingkungan dimana ia hidup dan berkembang, lingkungan yang baik akan menciptakan iklim atau suasana yang baik dan harmonis.
Nilai-nilai budaya organisasi merupakan dasar yang menjadi pedoman sikap, perilaku, dan kebiasaan seluruh anggota organisasi dalam menjalankan aktivitas di lembaga pendidikan. Dalam lembaga pendidikan Islam, nilai-nilai budaya organisasi tidak hanya berorientasi pada efektivitas kerja, tetapi juga berlandaskan ajaran Islam yang menekankan pembentukan akhlak, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah atau madrasah agar tercipta suasana pendidikan yang religius, disiplin, dan harmonis (Hasanah, 2021).
Lembaga pendidikan Islam memiliki karakteristik budaya organisasi yang berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Nilai-nilai religius, kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, serta penghormatan terhadap guru dan ilmu pengetahuan menjadi bagian dari budaya yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan pendidikan Islam. Budaya tersebut terbentuk melalui proses pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dalam kegiatan belajar mengajar maupun aktivitas sosial di lingkungan lembaga pendidikan. Dengan adanya budaya organisasi yang baik, lembaga pendidikan Islam mampu menciptakan suasana pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan akhlak dan spiritual peserta didik. budaya organisasi memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Budaya organisasi yang kuat dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik, memperkuat loyalitas dan komitmen guru, serta meningkatkan citra lembaga pendidikan Islam di masyarakat. Dengan adanya budaya organisasi yang positif, lembaga pendidikan Islam mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Pembentukan budaya organisasi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakter individu anggota organisasi, etika organisasi, pembagian hak dan tanggung jawab, serta struktur organisasi. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dalam membentuk budaya organisasi yang efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penguatan budaya organisasi perlu terus dilakukan agar lembaga pendidikan Islam mampu berkembang menjadi lembaga pendidikan yang unggul, berkualitas, dan berdaya saing tinggi.
Dalam penelitian (Dedik dan Hikmah Dkk, 2025) bahwa budaya organisasi merupakan komponen strategis dalam manajemen lembaga pendidikan. Budaya ini tidak hanya mencerminkan nilai dan identitas lembaga, tetapi juga menjadi penggerak dalam pencapaian tujuan pendidikan. Faktor pembentuk budaya organisasi melibatkan peran aktif pemimpin, nilai-nilai internal, dan pengaruh eksternal masyarakat. Penerapan budaya organisasi yang positif akan menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan meningkatkan mutu Pendidikan. Budaya organisasi merupakan sistem nilai, norma, dan keyakinan yang dimiliki oleh anggota organisasi yang membentuk identitas dan perilaku organisasi tersebut. Budaya ini berperan penting dalam mempengaruhi kinerja, motivasi, dan sikap anggota, serta membantu organisasi dalam mencapai tujuan secara efektif. Faktor-faktor utama yang membentuk budaya organisasi meliputi kepemimpinan, visi dan misi organisasi, lingkungan kerja, dan nilai-nilai yang dianut oleh anggota. Dalam konteks lembaga pendidikan, budaya organisasi sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan dan keberhasilan lembaga, di mana kepala sekolah memiliki peran penting dalam pengelolaan dan pengembangan budaya tersebut agar dapat menciptakan suasana yang positif dan mendukung pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, pengelolaan budaya organisasi secara baik sangat krusial untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan harmonis serta meningkatkan mutu pendidikan di lembaga pendidikan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis budaya organisasi di Lembaga Pendidikan islam pesantren salafiyah al – utsmani beddian jambesari.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Deskriptif yang bertujuan untuk memahami secara mendalam mengenai budaya organisasi yang diterapkan di lingkungan pesantren, nilai – nilai yang berkembang, serta faktor – faktor yang mempengaruhi terbentuknya budaya organisasi tersebut.
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung melalui observasi dan wawancara dengan pengasuh pesantren, ustaz, pengurus, dan santri yang terlibat dalam aktivitas organisasi pesantren. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari dokumen pesantren, buku, jurnal, artikel ilmiah, serta berbagai sumber tertulis yang berkaitan dengan budaya organisasi dan lembaga pendidikan Islam.
Teknik pengumpulan data melalui Teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis deskriptif kualitatif, yaitu melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang telah diperoleh dianalisis untuk memahami pola budaya organisasi yang berkembang di pesantren dan kaitannya dengan pembentukan karakter serta kualitas pendidikan Islam. penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sehingga data yang diperoleh lebih valid dan dapat dipercaya. Dengan metode penelitian ini diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas mengenai budaya organisasi di Pesantren Salafiyah Al Utsmani Beddian Jambesari.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
1. Profil pesantren salafiyah al – utsmani
Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani (lebih dikenal dengan Pesantren Beddian) adalah salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Kabupaten Bondowoso. Berlokasi di Desa Beddian, Kecamatan Jambesari Darussholah, pesantren ini terkenal dengan komitmennya yang kuat dalam mempertahankan sistem pendidikan murni salaf.
Dengan TRILOGI yakni BERIMAN, BERILMU dan BERAMAL.
2. Nilai-nilai budaya organisasi yang diterapkan dalam lembaga pendidikan Islam
Nilai-nilai budaya organisasi merupakan dasar yang menjadi pedoman sikap, perilaku, dan kebiasaan seluruh anggota organisasi dalam menjalankan aktivitas di lembaga pendidikan. Dalam lembaga pendidikan Islam, nilai-nilai budaya organisasi tidak hanya berorientasi pada efektivitas kerja, tetapi juga berlandaskan ajaran Islam yang menekankan pembentukan akhlak, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah atau madrasah agar tercipta suasana pendidikan yang religius, disiplin, dan harmonis (Hasanah, 2021).
* Nilai religius diwujudkan melalui pembiasaan ibadah, membaca Al-Qur’an, doa bersama, menjaga akhlak, serta menanamkan sikap taat kepada Allah Swt. Penerapan nilai religius bertujuan membentuk karakter peserta didik yang beriman dan berakhlakul karimah. Budaya religius juga menjadi ciri khas utama yang membedakan lembaga pendidikan Islam dengan lembaga pendidikan umum lainnya (Fauzi & Nikmah, 2022).
* Nilai disiplin tercermin dalam kepatuhan terhadap aturan sekolah, ketepatan waktu, tanggung jawab dalam melaksanakan tugas, serta konsistensi dalam menjalankan kegiatan pendidikan. Penerapan disiplin yang baik dapat menciptakan lingkungan belajar yang tertib dan mendukung peningkatan mutu pendidikan. Dalam perspektif Islam, disiplin merupakan bentuk tanggung jawab dan amanah yang harus dijaga oleh setiap individu (Rahman, 2020).
* Nilai kejujuran atau amanah menjadi dasar dalam membangun kepercayaan antaranggota organisasi, baik antara pimpinan, guru, peserta didik, maupun tenaga kependidikan. Sikap amanah dapat diwujudkan melalui pelaksanaan tugas secara bertanggung jawab, transparansi dalam pengelolaan lembaga, dan perilaku jujur dalam proses pembelajaran. Nilai ini sangat penting untuk membentuk integritas moral peserta didik dan seluruh warga sekolah (Syarifuddin, 2023).
* Nilai kerja sama atau ukhuwah melalui hubungan yang harmonis antara guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Budaya ukhuwah Islamiyah mendorong terciptanya sikap saling menghargai, tolong-menolong, dan menjaga persatuan di lingkungan lembaga pendidikan Islam (Maulana, 2021).
* Nilai tanggung jawab memiliki kewajiban menjalankan tugas dan perannya dengan baik sesuai aturan dan tujuan lembaga. Guru bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran, peserta didik bertanggung jawab terhadap kewajiban belajar, sedangkan pimpinan bertanggung jawab dalam pengelolaan lembaga secara profesional. Dengan adanya nilai tanggung jawab, kegiatan pendidikan dapat berjalan secara efektif dan terarah (Nugroho & Azizah, 2024).
Salah satu pengurus mengatakan : “Budaya organisasi yang diterapkan dipesantren memilik tujuan untuk membentuk karakter santri yaitu disiplin, bertanggung jawab serta yang utama berakhlak yang bisa diterapkan sehari – hari dilingkungan pesantren dengan aturan – aturan yang berlaku” (Haris,2026)
Kepala Daerah B juga mengatakan : “Nilai – nilai budaya organisasi menjadi budaya utama yang diterapkan diantaranya nilai religius dengan sholat berjamaah, pengajian rutin pagi hari kitab kuning hadis, serta pembacaan rotibul hadad di sore hari. dari budaya disiplin seperti piket bergantian setiap daerah, jam belajar serta mengikuti kegiatan sesuai jam yg ditentukan. Budaya kebersamaannya seperti gotong royong, piket Bersama, musyawaroh dan banyak kegiatan- kegiatan lainnya tapi yang paling utama menhormati kyai dan keluarga pesantren lainnya serta guru – guru yang ada” (Faidzin,2026)
Dari hsil wawancara diatas hasil wawancara dengan pengurus dan Kepala Daerah di Pesantren Salafiyah Al Utsmani, dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi yang diterapkan di pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri. Budaya organisasi tersebut diarahkan untuk menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, serta akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari santri di lingkungan pesantren.
3. Faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya budaya organisasi di lembaga pendidikan Islam
Jones uga menjelaskan bahwa budaya organisasi dibentuk melalui interaksi empat faktor utama, yaitu:
* Faktor karakter perorangan (characteristics of organizational members): Faktor yang berperan dalam sebuah budaya organisasi adalah individu yang berada dalam organisasi tersebut, setiap perusahaan memiliki budaya organisasi yang berbeda-beda hal ini disebabkan oleh perbedaan nilai, kepribadian dan etik setiap individu dalam organisasi masing-masing.
* Faktor etika perusahaan (organizational ethics): Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memiliki etika yang baik terhadap pelanggan ataupun sesama karyawan. Etika perusahaan disini meliputi moral, kepercayaan dan aturan yang menjaga kestabilan hubungan dengan sesama anggota organisasi.
* Faktor pembagian hak (property of rights): Pembagian hak dalam sebuah organisasi (property of rights) yaitu hak untuk memakai sumber-sumber daya yang ada dalam organisasi tersebut. Pembagian hak memberikan aturan dan tanggung jawab kepada setiap individu yang termasuk dalam organisasi tersebut dan mempengaruhi perkembangan nilai, norma dan attitude dalam organisasi tersebut.
* Faktor struktur organisasi (organizational structure): Faktor Struktur Organisasi adalah sistem formal tentang tugas dan hubungan kekuasaan yang digunakan untuk mengatur jalannya perusahaan/organisasi tersebut. Perbedaan dalam pemilihan struktur organisasi akan menyebabkan perbedaan nilai budaya organisasi dalam tiap-tiap perusahaan. Struktur organisasi memiliki peranan penting dalam budaya organisasi karena hal inilah yang membentuk karyawan dalam melakukan aktivitas mereka serta berjalannya informasi dalam organisasi (Ardiyana, 2013).
Proses pembentukan budaya organisasi dapat berlangsung secara bertahap atau revolusioner, dan dipengaruhi oleh nilai-nilai dan perilaku anggota organisasi. Pemimpin dan anggota lama memiliki peran penting dalam mengkomunikasikan nilai-nilai utama organisasi dan membentuk budaya yang kuat. Membangun budaya organisasi yang kuat membutuhkan waktu dan komitmen yang kuat dari semua anggota organisasi. Budaya organisasi dapat mempengaruhi berbagai aspek, seperti nilai-nilai perusahaan, suasana kerja, dan gaya kepemimpinan. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengelola budaya organisasi dengan baik untuk mencapai tujuan organisasi.
Salah satu pengurus mengatakan:
“Setiap santri memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga pesantren membiasakan mereka mengikuti aturan dan kegiatan bersama agar memiliki sikap disiplin, tanggung jawab, dan saling menghormati sesama santri maupun guru.” (Haris, 2026)
Kepala Daerah B juga menjelaskan:
“Budaya yang diterapkan di pesantren bukan hanya tentang aturan, tetapi juga bagaimana santri memiliki etika yang baik kepada kiai, guru, pengurus, dan sesama teman. Sikap sopan dan menghormati menjadi hal utama yang selalu diajarkan di pesantren.” (Faidzin, 2026)
Berdasarkan hasil wawancara dengan pengurus dan Kepala Daerah di Pesantren Salafiyah Al Utsmani, dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi di pesantren terbentuk melalui beberapa faktor penting, yaitu karakter individu, etika organisasi, pembagian tanggung jawab, dan struktur organisasi pesantren. Perbedaan karakter santri dibentuk melalui pembiasaan kegiatan dan aturan pesantren agar tercipta sikap disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan.
4. KESIMPULAN
Budaya organisasi merupakan unsur penting dalam lembaga pendidikan Islam karena berfungsi sebagai pedoman dalam membentuk sikap, perilaku, dan karakter seluruh anggota organisasi. Di Pesantren Salafiyah Al Utsmani, budaya organisasi diterapkan melalui berbagai nilai yang berlandaskan ajaran Islam, seperti nilai religius, disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, serta penghormatan kepada kiai dan guru. Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan ibadah, pengajian kitab kuning, gotong royong, musyawarah, dan kegiatan pesantren lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi di pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri agar menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, mandiri, dan berakhlakul karimah. Budaya organisasi juga mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang religius, harmonis, dan kondusif sehingga mendukung tercapainya tujuan pendidikan Islam.
Selain itu, terbentuknya budaya organisasi di pesantren dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu karakter individu santri, etika organisasi, pembagian hak dan tanggung jawab, serta struktur organisasi pesantren. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dalam membangun budaya organisasi yang kuat dan berkelanjutan. Peran pengasuh, pengurus, dan seluruh warga pesantren sangat penting dalam menjaga serta menerapkan nilai-nilai budaya organisasi agar tetap berkembang sesuai tujuan pendidikan Islam.
Dengan demikian, budaya organisasi di Pesantren Salafiyah Al Utsmani tidak hanya menjadi identitas lembaga pendidikan Islam, tetapi juga menjadi sarana dalam meningkatkan kualitas pendidikan, membentuk akhlak santri, serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Ardiyana. (2013). Budaya Organisasi dan Faktor Pembentuknya dalam Organisasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Fauzi, A., & Nikmah, L. (2022). Budaya religius dalam lembaga pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 8(2), 45–56.
Ghazali, M., dkk. (2022). Pengaruh budaya organisasi terhadap kemajuan organisasi. Jurnal Manajemen Pendidikan, 5(1), 23–31.
Hasanah, U. (2021). Nilai-nilai budaya organisasi dalam lembaga pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Islam, 6(2), 88–97.
Junaris, dkk. (2022). Budaya organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi. Jurnal Administrasi dan Manajemen, 4(1), 15–24.
Maulana, R. (2021). Ukhuwah Islamiyah dalam budaya organisasi pendidikan Islam. Jurnal Studi Keislaman, 7(1), 55–66.
Nugroho, A., & Azizah, N. (2024). Tanggung jawab organisasi dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Modern, 9(1), 34–42.
Rahman, F. (2020). Disiplin sebagai budaya organisasi dalam pendidikan Islam. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 5(3), 77–86.
Robbins, Stephen P. (2019). Organizational Behavior (Perilaku Organisasi). Jakarta: Salemba Empat.
Syarifuddin. (2023). Amanah dan kejujuran dalam budaya organisasi pendidikan. Jurnal Etika Pendidikan Islam, 4(2), 40–52.
Dedik, & Hikmah, dkk. (2025). Budaya organisasi sebagai strategi manajemen lembaga pendidikan. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 10(1), 12–25.