PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Ilmu pengetahuan merupakan landasan utama dalam pengembangan pendidikan, termasuk dalam manajemen pendidikan Islam. Manajemen pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada efektivitas dan efisiensi pengelolaan lembaga pendidikan, tetapi juga harus berlandaskan nilai-nilai etika dan moral Islam. Tanpa etika, ilmu pengetahuan dapat disalahgunakan sehingga tujuan pendidikan Islam, yaitu membentuk insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, tidak tercapai secara optimal.

Etika ilmu pengetahuan dalam manajemen pendidikan Islam menjadi penting karena pengelola pendidikan memiliki tanggung jawab moral dalam mengambil keputusan, merancang kebijakan, serta mengelola sumber daya manusia dan sarana prasarana pendidikan secara adil dan bertanggung jawab.

2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan etika ilmu pengetahuan?

2. Bagaimana konsep manajemen pendidikan Islam?

3. Bagaimana penerapan etika ilmu pengetahuan dalam manajemen pendidikan Islam?

3. Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan pengertian etika ilmu pengetahuan.

2. Menjelaskan konsep manajemen pendidikan Islam.

3. Menjelaskan penerapan etika ilmu pengetahuan dalam manajemen pendidikan Islam.

4. Manfaat Penulisan

1. memberi pemahaman mengenai pengertian etika ilmu pengetahuan.

2. memberi pemahaman mengenai konsep manajemen pendidikan Islam.

3. memberi pemahaman mengenai penerapan etika ilmu pengetahuan dalam manajemen pendidikan Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN ETIKA ILMU PENGETAHUAN

Islam menempatkan nilai etika di tempat yang paling tinggi. Pada dasarnya, Islam diturunkan sebagai kode perilaku moral dan etika bagi kehidupan manusia, seperti yang disebutkan dalam hadis: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (Al-Baihaqi, no. 21301) (Hidayat & Rifa‟i, 2018). Etika Islam juga bersumber dalam QS. al-Baqarah (2):2 sebagai berikut :

َۙهْيِقَّتُمْلِّلَۙىًدُهََِۙۙهْيِفََۙۙبْيرََۙۙلََُۙۙبٰتِكْلاََۙۙكِلٰذ

Artinya: “Kitab (al-Qur‟an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”

Etika ilmu pengetahuan adalah seperangkat nilai dan norma moral yang mengatur penggunaan, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan agar tidak menyimpang dari nilai kemanusiaan dan kebenaran. Dalam perspektif Islam, etika ilmu pengetahuan bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, yang menekankan bahwa ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ilmu pengetahuan dalam Islam tidak bersifat bebas nilai, melainkan terikat oleh nilai tauhid, keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab.

Etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan, atau adat (Qorib & Zaini, 2020). Etika ialah cabang filsafat (bagian dari filsafat axiologi) yang membahas mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Secara etimologi etika berasal dari bahasa Yunani „ethos‟ yang berarti watak dan kesusilaan. (Soelaiman, 2019).

Etika dalam pendidikan dan pelatihan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, moral, dan disiplin individu, terutama bagi para guru dan pendidik. Dalam konteks pendidikan, etika berbicara merujuk pada prinsip-prinsip yang menentukan bagaimana manusia seharusnya berperilaku, membuat keputusan yang etis, dan memahami prinsip-prinsip moral yang menjadi pedoman dalam tindakan mereka

2. KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

Manajemen pendidikan adalah manajemen yang diterapkan dalam pengembangan pendidikan. Dalam arti ia merupakan seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan Islam untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Bisa juga diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber daya pendidikan Islam untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efesien. Manajemen pendidikan lebih bersifat umum untuk semua aktifitas pendidikan pada umumnya, sedangkan manajemen pendidikan lebih khusus lagi mengarah pada manajemen yang diterapkan dalam pengembangan pendidikan Islam. Dalam arti bagaimana menggunakan dan mengelola sumber daya pendidikan Islam secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pengembangan, kemajuan dan kualitas proses dan hasil pendidikan Islam itu sendiri. Sudah barang tentu aspek manager dan leader yang Islami atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam dan/atau yang berciri khas Islam, harus melekat pada manajemen pendidikan Islam.

Berbicara masalah manajemen tentunya tidak bisa lepas dengan empat komponen yang ada yaitu (POAC) planning, organizing, actuating dan controlling. Menurut hemat penulis empat komponen tersebut di jelaskan di beberapa ayat al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya maka akan penulis uraikan satu persatu sebagai berikut:

1. Perencanaan (planning)

Planning atau perencanaan adalah keseluruhan proses dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Ketika dikaitkan dengan sistem pendidikan dalam suatu organisasi kependidikan, maka perencanaan pendidikan menurut ST Vembriarto (1988 : 39) dapat didefiniskan sebagai penggunaan analisa yang bersifat rasional dan sistematis terhadap proses pengembangan pendidikan yang bertujuan untuk menjadikan pendidikan menjadi lebih efektif dan efisien dalam menanggapi kebutuhan dan tujuan murid-murid serta masyarakat. Dalam perencanaan terlebih yang harus diperhatikan adalah apa yang harus dilakukan dan siapa yang akan melakukannya. Jadi perencanaan disini berarti memilih sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagimana, dan oleh siapa. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi diwaktu yang akan dating dalam mana perencanaan dan kegiatan yang akan diputuskan akan dilaksanakan, serta periode sekarang pada saat rencana di buat. Perencanaan merupakan aspek penting dari pada manajemen. Keperluan merencanakan ini terletak pada kenyataan bahwa manusia dapat mengubah masa depan menurut kehendaknya. Manusia tidak boleh menyerah pada keadaan dan masa depan yang menentu tetapi menciptakan masa depan itu. Masa depan adalah akibat dari keadaan masa lampau, keadaan sekarang dan disertai dengan usaha-usaha yang akan kita laksanakan. Dengan demikian landasan dasar perencanaan adalah kemampuan manusia untuk secara sadar memilih alternative masa depan yang dikehendakinya dan kemudian mengarahkan daya upayanya untuk mewujudkan masa depan yang dipilihnya dalam hal ini manajemen yang akan diterapkan seperti apa. Sehingga dengan dasar itulah maka suatu rencana itu akan terealisasikan dengan baik.

2. Pengorganisasian (Organizing)

Kegiatan administratif manajemen tidak berakhir setelah perencanaan tersusun. Kegiatan selanjutnya adalah melaksanaan perencanaan itu secara operasional. Salah satu kegiatan administratif manajemen dalam pelaksanaan suatu rencana disebut organisasi atau pengorganisasian. Organisasi adalah sistem kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Langkah pertama dalam pengorganisasian diwujudkan melalui perencanaan dengan menetapkan bidang-bidang atau fungsi-fungsi yang termasuk ruang lingkup kegiatan yang akan diselenggarakan oleh suatu kelompok kerjasama tertentu. Keseluruhan pembidangan itu sebagai suatu kesatuan merupakan total sistem yang bergerak ke arah satu tujuan. Dengan demikian, setiap pembidangan kerja dapat ditempatkan sebagai sub sistem yang mengemban sejumlah tugas yang sejenis sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan yang diemban oleh kelompok-kelompok kerjasama tersebut. Pembagian atau pembidangan kerja itu harus disusun dalam suatu struktur yang kompak dengan hubungan kerja yang jelas agar yang satu akan mampu melengkapi yang lain dalam rangka mencapai tujuan. Struktur organisasi disebut “segi formal” dalam pengorganisasian karena merupakan kerangka yang terdiri dari satuan-satuan kerja atau fungsi fungsi yang memiliki wewenang dan tanggung jawab yang bersifat hierarki / bertingkat. Diantara satuan-satuan kerja itu ditetapkan pula hubungan kerja formal dalam menyelanggarakan kerjasama satu dengan yang lain, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya masing masing. Disamping segi formal itu, suatu struktur organisasi mengandung kemungkinan diwujudkannya “hubungan informal” yang dapat meningkatkan efisiensi pencapaian tujuan. Segi informal ini diwujudkan dalam bentuk hubungan kerja yang mungkin dikembangkan karena hubungan pribadi antar personal yang memikul beban kerja dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Satuan kerja yang ditetapkan berdasarkan pembidangan kegiatan yang diemban oleh suatu kelompok kerja sama, pada dasarnya merupakan pembagain tugas yang mengandung sejumlah pekerjaan sejenis. Oleh setiap itu, setiap unit kerja akan menggambarkan jenis-jenis aktivitas yang menjadi kewajibannya untuk diwujudkan.

3. Penggerakan (actuating)

Fungsi actuating merupakan bagian dari proses kelompok atau organisasi yang tidak dapat dipisahkan. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan ke dalam fungsi ini adalah directing commanding, leading dan coordinating.20 Karena tindakan actuating sebagaimana tersebut di atas, maka proses ini juga memberikan motivating, untuk memberikan penggerakan dan kesadaran terhadap dasar dari pada pekerjaan yang mereka lakukan, yaitu menuju tujuan yang telah ditetapkan, disertai dengan memberi motivasi motivasi baru, bimbingan atau pengarahan, sehingga mereka bisa menyadari dan timbul kemauan untuk bekerja dengan tekun dan baik.

4. Evaluasi/Controlling

Evaluasi dalam konteks manajemen adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas yang dilaksanakan benar sesuai apa tidak dengan perencanaan sebelumnya. Evaluasi dalam manajemen pendidikan Islam ini mempunyai dua batasan pertama; evaluasi tersebut merupakan proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan, kedua; evaluasi yang dimaksud adalah usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) dari kegiatan yang telah dilakukan. Evaluasi dalam manajemen pendidikan Islam ini mencakup dua kegiatan, yaitu penilaian dan pengukuran. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu, maka dilakukan pengukuran dan wujud dari pengukuran itu adalah pengujian. Controlling itu penting sebab merupakan jembatan terakhir dalam rantai fungsional kegiatan-kegiatan manajemen. Pengendalian merupakan salah satu cara para manajer untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan organisasi itu tercapai atau tidak dan mengapa terpai atau tidak tercapai. Selain itu controlling adalah sebagai konsep pengendalan, pemantau efektifitas dari perencanaan, pengorganisasian, dan kepemimpinan serta pengambilan perbaikan pada saat dibutuhkan. Adapun ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan evaluasi/controllilg dapat diterjemahkan sebagai berikut: “ padahal ssungguhnya bagi kamu ada malaikat yang mengawasi pekerjaanmu (10) yang mulia disisi Allah dan yang mencatat pekerjaan itu (11) mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (12) (Al-Qur’an 82:10-12).

3. PENERAPAN ETIKA ILMU PENGETAHUAN DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM.

Penerapan etika pengetahuan dalam manajemen Pendidikan islam menekankan integrasi prinsip moral, akhlak, dan tata Kelola ilmiah untuk mewujudkan Pendidikan yang efektif, berkualitas dan islami. Berdasarkan kajian literatur dan praktik berbagai institusi, beberapa aspek utama dapat dipresentasikan sebagai berikut :

1. Landasan konseptual

1. Ontologi Pendidikan islam: Mnajemen pendidikan islam berakar pada konsep tauhid, menegaskan bahwa seluruh aktifitas pendidikan berpusat pada kesatuan tujuan manusia sebagai khalifah di bumi.

2. Epistemologi dan sumber pengetahuan: pengetahuan dalam manajemen Pendidikan islam diperoleh melalui :

* Empiris : Pengalaman praktik di Lembaga Pendidikan, observasi, dan implementasi.

* Rasionalisme : Penggunaan akal dan analisis sistematis untuk Menyusun manajemen dan strategi Pendidikan.

* Intuisi : Pemahaman internal dan penilaian moral yang mendukung pengambilan keputusan.

* Wahyu : Panduan Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber utama prinsip etika dan Pendidikan.

3. Aksiologi Pendidikan Islam : Tujuan utama Pendidikan adalam membentuk insan kamil dan individu yang beriman, berakhlak mulia, cakap, dan bertanggung jawab secara spiritual dan sosial.

2. Prinsip-prinsip etika dalam manajemen Pendidikan islam

1. Tauhid dan Integritas : Setiap pengelola Pendidikan diwajibkan menempatkan Allah SWT sebagai pusat pertimbangan etis dan moral.

2. Keadilan (Adl) : Keputusan manajerial harus memprioritaskan kebaikan peserta didik dan masyarakat.

3. Amanah dan Pertanggung jawaban : semua kebijakan dan perencanaan harus dapat dipertanggung jawabkan baik secara vertikal (kepada tuhan) maupun horizontal (kepada masyarakat)

4. Kepedulian (Ri’ayah) : pengelola Pendidikan perlu memiliki jiwa kepemimpinan yang membimbing, mengawasi, dan memberi teladan yang baik.

5. Sustainabilitas dan Inovasi Bertanggung Jwab : Inovasi Pendidikan harus mengikuti prinsip Syariah, tetap relevan dengan perkembangam ilmu, tanpa merusak nilai moral.

3. Praktik penerapan etika dalam manajemen

1. Kepemimpinan yang bertanggung jawab : Kepala sekolah dan pengelola harus menjadi contoh perilaku etis untuk guru dan siswa, termasuk konsistensi antara ucapan dan tindakan.

2. Penediaan Lingkungan Pendidikan Bermoral : Integrasi pengajaran akhlak dalam kegiatan harian, doa, siraman roahani, dan pembelajaran berbasis islam.

3. Pembentukan Kultus Organisasi Positif : Organisasi yang mendukung praktik etika melalui kepemimpinan, kerja tim, dan kegiatan sosial.

4. Pendelolaan Sumber Daya Secara Etis : Perencanaan, penggunaan, dan evaluasi SDM, sarana, dan dana dilakukan secara transparan dan adil.

5. Pembentuka Karakter Siswa : Pendidikan Karakter Islam menanamkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kasih saying, dan kreatifitas.

6. Landasan Pembelajaran Holistik : Kurikulum dan metode pengajaran menekan keseimbangan antara aspek kognitif, dan psikomotorik.

7. Pengelolaan konflik dan Tantangan : Keputusan administrasi dilakukan secara adil, menggunakan pendekatan non-kekerasan dan teladan etis.

8. Dorongan pada Inovasi Bertanggung Jawab : guru dan staf diajarkan kreatif secara Islami, mempertimbangkan dampak sosial bermoral.

4. Integrasi pengetahuan modern dengan nilai islam

1. Pendekatan interdispliner menggabungkan ilmu, sains, dan teknologi dengan nilai etika islami, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga bermoral dan berakhlak.

2. Kurikulum dan metode pembelajaran harus relevan dengan local, kebutuhan peserta didik, dan perkembangan zaman.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Etika ilmu pengetahuan memiliki peran yang sangat penting dalam manajemen pendidikan Islam. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan dan diterapkan berdasarkan nilai-nilai Islam agar mampu mewujudkan tujuan pendidikan yang holistik, yaitu keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan moral. Manajemen pendidikan Islam yang beretika akan melahirkan lembaga pendidikan yang berkualitas dan bermartabat.

2. Saran

Pengelola lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu mengintegrasikan etika ilmu pengetahuan dalam setiap aspek manajemen pendidikan, sehingga pendidikan Islam tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga kuat dalam nilai moral dan spiritual.

DAFTAR PUSTAKA

Basri Hamdani Henny, Heliwasnimar, Ardimen (2024) Etika dan Moral Dalam Ilmu

Pengetahuan. Indonesian Reseach Journal education. Volume 4. 343 – 351.

Mokh. Sya’roni (2014) Etika Keilmuan. Amintheologia. Volume 25. 7-16.

Nasution Fattah Abdul, Zulqaidah, Dian Pratiwi BR. Marpaung (2024) Etika dalam

Manajemen Pendidikan dan Diklat. Cemara Journal. Volume II. 6-7.