PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan sejarah, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami transformasi yang signifikan. Pada awal sejarah filsafat di Yunani, konsep "philosophia" mencakup hampir semua aspek pemikiran teoritis. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan, terjadi pergeseran dinamika ini. Filsafat Yunani Kuno, awalnya bersatu, mengalami fragmentasi, terutama dengan munculnya Ilmu Pengetahuan Alam pada abad ke-17. Inilah awal dari perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan.[1] Sebelum abad ke-17, filsafat dan ilmu pengetahuan dianggap identik. Namun, dengan kemunculan Ilmu Pengetahuan Alam, perpecahan ini semakin nyata. Sebagaimana diuraikan oleh Koento Wibisono (1999), filsafat membentuk suatu konfigurasi yang menunjukkan bagaimana "pohon ilmu pengetahuan" tumbuh subur dan bercabang. Setiap cabang ilmu melepaskan diri dari batang filsafatnya, mengembangkan diri secara mandiri, dan mengadopsi metodologi masing-masing.

Sejak zaman Yunani kuno hingga era modern, filsafat terus berkembang menjadi landasan bagi lahirnya berbagai disiplin ilmu seperti fisika, biologi, psikologi, hingga sosiologi. Namun demikian, masih sering muncul pertanyaan: apakah filsafat dapat dikategorikan sebagai ilmu (science)? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dikaji hakikat filsafat dan karakteristik ilmu pengetahuan.

2. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian filsafat dan ilmu?

2. Apa saja Ciri-ciri ilmu pengetahuan?

3. Bagaimana kedudukan filsafat sebagai ilmu?

3. Tujuan Masalah

1. Menjelaskan definisi filsafat dan ilmu

2. Menguraikan ciri-ciri ilmu pengetahuan

3. Menjelaskan bahwa filsafat sebagai ilmu

BAB II

PEMBAHASAN

1. Hakikat Filsafat

Filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, philosophia yang terdiri dari kata philos yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kebijaksanaan atau hikmat. Cinta dapat dimaknai sebagai hasrat yang besar atau berkobar-kobar dan sungguh-sungguh. Kebijaksanaan merupakan suatu kebenaran yang hakiki atau kebenaran yang sesungguhnya. Fisafat secara harfiah memiliki makna kecintaan terhadap suatu kebijaksanaan. Filsafat merupakan hasrat atau keinginan yang sungguh-sungguh terhadap kebenaran sesungguhnya.

Filsafat merupakan cabang ilmu yang berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan

mendasar tentang kehidupan dan eksistensi, merambah ke berbagai aspek seperti hakikat realitas, pengetahuan, kebenaran, moralitas, dan keindahan. Filsafat memainkan peran sentral dalam membentuk kerangka berpikir manusia terhadap eksistensi dan makna hidup. Dalam lingkup ini, filsafat terbagi ke dalam beberapa cabang, masing-masing membahas aspek-aspek hakikat tersebut.

Beberapa pendapat tentang filsafat menurut para ahli antara lain John Dewey yang

mengatakan bahwa filsafat merupakan pengungkapan usaha dan perjuangan manusia secara terus menerus, untuk melakukan penyesuaian berbagai tradisi, sehingga hasilnya dapat membentuk budi pekerti yang memiliki cita-cita politik serta kecenderungan ilmiah baru yang tidak sejalan dengan wewenang yang telah diakui. Disisi lain Plato juga berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu yang berusaha untuk mendapatkan pencapaian akan kebenaran yang sebenarnya. Aristoteles juga menyebutkan bahwa filsafat merupakan suatu ilmu yang berisi kebenaran. Unsur- unsur kebenaran meliputi ekonomi, metafisika, estetika,retorik, politik, dan logika. Filsafat juga mempelajari sebab dan asas segala sesuatu. Sedangkan Emmanuel Kant mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan yaitu: metafisika, etika,agama, dan anthropologi. [2]

Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, maka berfilsafat atau berpikir filsafat pada dasarnya merupakan cara berpikir yang mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan bersifat menyeluruh atau mendalam. Berpikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga dalam setiap pemikiran setiap permasalahan atau subtansi akan mendapatkan pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban, dengan cara yang benar sebagai bentuk kecintaan terhadap kebenaran.

Filsafat dalam kasusnya, memiliki dua objek kajian, yaitu objek materiil dan objek formil. Objek materiil merupakan objek yang secara wujudnya dapat digunakan sebagai bahan telaahan dalam berpikir filsafat, sedangkan objek formal dalam filsafat adalah objek yang menyangkut sudut pandang atau menggambarkan cara dan sifat berpikir dalam melihat objek materiil.

2. Hakikat Ilmu

Kata ilmu itu asalnya dari bahasa arab “alima” yang berarti pengetahuan. Maka ilmu adalah pengetahuan, yang didasari pada kenyataan yang tersusun dengan baik. Pengetahuan adalah apa yang diketahui, kenal, mengerti, dan pandai. Maka, dapat disimpulkan pengetahuan adalah hasil dari proses mencari tahu oleh manusia. Upaya

untuk mendapatkan pengetahuan adalah aktif (menggunakan penalaran pikiran dan juga perasaan) dan pasif (menggunakan keyakinan dan juga kepercayaan terhadap kebenaran yang diberitakan). [3]

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang objek kajiannya adalah dunia empiris sebagai penentu kebenaran ilmu tersebut dan menggunakan metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan. Sumber ilmu itu sendiri merupakan penggabungan antara logika deduktif dan logika induktif. [4] Ilmu pengetahuan dianggap sebagai upaya kolektif dan sadar untuk menganalisis, mendapatkan, dan menambah pemahaman manusia tentang berbagai perspektif yang muncul di dunia.

Jacob menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan ialah sistem yang dikembangkan manusia terkait dengan kehidupan dan lingkungannya, adaptasi terhadap lingkungan itu, dan adaptasi terhadap lingkungan itu sendiri sebagai bagian dari strategi pengembangan kehidupan. Joesoef menambahkan bahwa ilmu memiliki makna sebagai produk, proses dan masyarakat. Ilmu pengetahuan sebagai produk berarti pengetahuan yang diterima sebagai kebenaran oleh komunitas ilmiah.

3. Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan juga memiliki karakteristik, seperti yang dipaparkan oleh Achmad (2018:109-110) yaitu:

1) Konkret, yaitu kebenaran dapat diukur.

2) Kehadiran subjek dan subjek saling terkait.

3) Tidak ada batasan sehingga masih banyak pengetahuan yang bisa ditemukan.

4) Metodologi yang dipakai guna mendapatkan pengetahuan.

5) Rasionalis, yaitu pemikirannya didasarkan pada ide yang nyata dan rasional.

6) Wahyu, wahyu dijadikan sebagai sumber pengetahuan, bukan akal.

7) Hasil pengetahuan menjadi milik bersama dan bersifat akumulatif.

8) Kebenaran tidak mutlak dan dapat dikacaukan.

9) Tujuannya tidak tergantung pada pengetahuan pribadi.

Disamping memiliki karakteristik, menurut The Liang Gie (Achmad, 2018:110)

ilmu pengetahuan juga memiliki 5 ciri-ciri utama sebagai berikut:

1) Empiris (diperoleh atas dasar peninjauan dan pengalaman)

2) Sistematis (terorganisir dan terstruktur)

3) Objektif, (tanpa prasangka personal)

4) Analitis (pengetahuan ilmiah yang berupaya memecah subjek menjadi bagian- bagian mendetail untuk memahami atribut, hubungan, serta peran yang berbeda dari bagian-bagiannya)

5) Verifikatif (dapat diverifikasi oleh siapa saja) Tujuan sains/ilmu pengetahuan adalah untuk mencari penjelasan atas fenomena yang telah ditemukan dan memungkinkan seseorang untuk sepenuhnya memahami sifat objek yang ada. Pengetahuan memungkinkan masyarakat untuk dapat memahami masalah dan menyelesaikannya. Hal ini berlaku untuk ilmu alam dan ilmu sosial (Suriasumantri dalam Rofiq, 2018:167). Berdasarkan uraian di atas, dapat sisntesiskan bahwa kedudukan ilmu pengetahuan secara keseluruhan mampu menyentuh seluruh sendi dan aspek kehidupan, dan mampu secara dominan mewarnai dunia melalui perkembangannya. [5]

4. Filsafat Sebagai Ilmu

Pada dasarnya ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Ilmu bertugas untuk menggambarkan dan filsafat bertugas untuk menjelaskan fenomena alam semesta dan kebenarannya berasal dari hasil pemikiran sepanjang pengalaman yang dialami. Dengan demikian, perkembangan ilmu juga memperkuat keberadaan filsafat dimana tujuan dari berfilsafat itu sendiri adalah untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya.

Filsafat selain dilihat sebagai suatu pandangan hidup dan cara berpikir, filsafat juga dapat dilihat sebagai ilmu. Sebagai ilmu, filsafat memiliki objek dan metode khusus yang bertujuan untuk memahami fenomena alam semesta dan kehidupan manusia secara komprehensif dan mendalam. Filsafat berupaya untuk mencari tentang suatu hakikat atau inti dari suatu hal sebagai sebuah ilmu. Inti dari suatu hal itu sendiri sifatnya sangat mendalam dan hanya dapat dimengerti oleh akal manusia. Karenanya dalam mencari pengetahuan tantang suatu hakikat, mesti dilakukan dengan abstraksi yaitu suatu perbuatan atau suatu kerja akal untuk menghilangkan keadaan, sifat tertentu sehingga muncul substansi atau sifat mutlak. Kemudian pada perkembangan berikutnya, ilmu itu sendiri terbagi menjadi beberapa disiplin ilmu, yang semuanya membutuhkan suatu pendekatan, sifat, objek, tujuan serta ukuran yang berbeda-beda antar suatu disiplin ilmu. [6]

Secara sejarah, filsafat telah menjadi landasan bagi ilmu pengetahuan, meskipun seiring perkembangannya, ilmu pengetahuan semakin bersifat khusus dan mandiri. Tetapi, mengingat adanya banyak permasalahan kehidupan yang tidak bisa untuk dipecahkan oleh ilmu pengetahuan, filsafat menjadi pijakan untuk memberikan jawaban. Filsafat memberikan penjelasan berupa solusi yang mendalam dan mendasar

terhadap permasalahan tersebut.

Filsafat sangat penting dalam ilmu pengetahuan karena didalamnya kita dapat menemukan perspektif tentang hal-hal seperti kompleksitas, bagaimana memeriksa dan menguji pemikiran yang sah, dan gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Filsafat ilmu adalah refleksi filsafat yang tidak akan pernah ada hentinya untuk menjelajahi bidang ilmiah untuk mencapai kebenaran yang tidak pernah habis- habisnya. Diharapkan filsafat ilmu berada di tengah-tengah ilmu pengetahuan. [7]

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan disiplin pengetahuan yang berusaha mencari hakikat kebenaran melalui pemikiran rasional, kritis, dan mendalam. Jika ditinjau dari karakteristik ilmu pengetahuan — seperti rasionalitas, sistematis, metodis, dan bersifat universal — filsafat memenuhi unsur-unsur tersebut sehingga layak dikategorikan sebagai ilmu. Meskipun tidak selalu bersifat empiris seperti ilmu-ilmu alam modern, filsafat memiliki metode tersendiri dalam membangun pengetahuan, seperti refleksi, logika deduktif, dan analisis konseptual. Lebih dari itu, filsafat memiliki kedudukan penting sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of science) karena menjadi fondasi bagi lahirnya berbagai cabang ilmu lainnya.

2. Saran

Melihat pentingnya peran filsafat sebagai dasar pengembangan ilmu, penulis menyarankan agar filsafat tidak hanya dipelajari secara teoritis, tetapi juga diaplikasikan sebagai pendekatan berpikir dalam kehidupan akademik maupun sosial. Mahasiswa, pendidik, dan peneliti diharapkan mampu menjadikan filsafat sebagai alat untuk berpikir kritis, logis, dan reflektif dalam menghadapi berbagai persoalan keilmuan dan kehidupan. Selain itu, kajian filsafat perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan ilmu pengetahuan modern secara relevan dan kontekstual.

DAFTAR PUSTAKA

Istikhomah, Radenraran Imro’atun, and Abdul Wachid. “Filsafat Sebagai Landasan Ilmu Dalam Pengembangan Sains.” Jurnal Filsafat Indonesia 4, no. 1 (2021): 59–64.

Khairul M, Cut A,Toharuddin S,Khairil A,Rosita D. “FILSAFAT SEBAGAI DASAR PERKEMBANGAN PENGETAHUAN Jurnal Ilmiah Nusantara ( JINU)Vol.1, No.4 Juli 2024” 1, no. 4 (2024): 217–29.

Mariyah, Siti, Ahmad Syukri, Badarussyamsi Badarussyamsi, and Ahmad Fadhil Rizki. “Filsafat Dan Sejarah Perkembangan Ilmu.” Jurnal Filsafat Indonesia 4, no. 3 (2021): 242–46. https://doi.org/10.23887/jfi.v4i3.36413.

Muhibburrohman, Ohib, Fitri Khoriroh, A Royani, Wahyu Hidayat, and Supardi. “Kedudukan Filsafat Sebagai Ilmu Manajemen Pendidikan Islam.” Jurnal Manajemen Pendidikan 08, no. 3, Desember 2023 (2023): 151–58. https://ejurnal.stkip-pessel.ac.id/index.php/kp.

Rokhmah, D. “Ilmu Dalam Tinjauan Filsafat: Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi.” Cendekia: Jurnal Studi Keislaman 7, no. 2 (2021): 172–86. https://ejurnal.staiha.ac.id/index.php/cendekia/article/view/124.

Santi, Tri, Muhammad Nurwahidin, and Sudjarwo. “Peran Filsafat Ilmu Dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan Di Era Modern.” Journal of Innovation Research and Knowledge vol.2, no. no.6 (2022): 1–13.

Supian, Sopwan, Yudi Wahyudi, Teguh Karya, Wahyu Hidayat, Anis Fauzi, U I N Sultan, and Maulana Hasanuddin. “Kedudukan Teori Filsafat Manajemen Ilmu Dalam Islam” 3, no. 4 (2023): 429–34.

[1] Cut A,Toharuddin S,Khairil A,Rosita D Khairul M, “FILSAFAT SEBAGAI DASAR PERKEMBANGAN PENGETAHUAN Jurnal Ilmiah Nusantara ( JINU)

Vol.1, No.4 Juli 2024” 1, no. 4 (2024): 217–29.

[2] Radenraran Imro’atun Istikhomah and Abdul Wachid, “Filsafat Sebagai Landasan Ilmu Dalam Pengembangan Sains,” Jurnal Filsafat Indonesia 4, no. 1 (2021): 59–64.

[3] Sopwan Supian et al., “Kedudukan Teori Filsafat Manajemen Ilmu Dalam Islam” 3, no. 4 (2023): 429–34.

[4] D Rokhmah, “Ilmu Dalam Tinjauan Filsafat: Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi,” Cendekia: Jurnal Studi Keislaman 7, no. 2 (2021): 172–86, https://ejurnal.staiha.ac.id/index.php/cendekia/article/view/124.

[5] Tri Santi, Muhammad Nurwahidin, and Sudjarwo, “Peran Filsafat Ilmu Dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan Di Era Modern,” Journal of Innovation Research and Knowledge vol.2, no. no.6 (2022): 1–13.

[6] Siti Mariyah et al., “Filsafat Dan Sejarah Perkembangan Ilmu,” Jurnal Filsafat Indonesia 4, no. 3 (2021): 242–46, https://doi.org/10.23887/jfi.v4i3.36413.

[7] Ohib Muhibburrohman et al., “Kedudukan Filsafat Sebagai Ilmu Manajemen Pendidikan Islam,” Jurnal Manajemen Pendidikan 08, no. 3, Desember 2023 (2023): 151–58, https://ejurnal.stkip-pessel.ac.id/index.php/kp.