PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sejak pertama kali diturunkan, Al-Qur’an telah menarik perhatian banyak orang, baik dari kalangan mukmin maupun non-mukmin, karena keindahan bahasanya, kedalaman maknanya, serta isi kandungan yang tidak mungkin dibuat oleh manusia. Salah satu hal yang membuat Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat istimewa adalah adanya i‘jaz, yaitu kemukjizatan yang hanya dimiliki oleh Al-Qur’an dan tidak dapat ditandingi oleh siapa pun.

Pembahasan tentang i‘jazul Qur’an sangat penting karena menjadi bukti bahwa Al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah ﷻ, bukan hasil karya manusia, bukan pula dari pengalaman Nabi Muhammad ﷺ. Pada masa turunnya Al-Qur’an, bangsa Arab dikenal sebagai masyarakat yang sangat ahli dalam sastra. Mereka mampu membuat syair dan pidato yang indah serta memiliki tingkat kefasihan bahasa yang tinggi. Namun, ketika Al-Qur’an turun, para sastrawan Arab pun terpesona dan tidak mampu menandingi keindahan susunan bahasanya. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki keistimewaan yang melampaui kemampuan manusia, bahkan manusia terbaik pada zaman itu.

Seiring perkembangan zaman, i‘jazul Qur’an tidak hanya dilihat dari sisi bahasa saja, tetapi juga pada kandungan ilmiahnya, berita-berita ghaib yang terbukti kebenarannya, serta hukum-hukum yang tetap relevan hingga hari ini. Banyak penelitian modern yang justru semakin memperkuat kebenaran Al-Qur’an, baik dalam aspek kosmologi, embriologi, sejarah, maupun aspek lainnya. Walaupun Al-Qur’an bukan kitab sains, tetapi firman Allah ﷻ di dalamnya sesuai dengan fakta yang baru ditemukan oleh manusia di era modern. Hal ini menjadi salah satu bukti kuat bahwa Al-Qur’an bukan tulisan manusia yang terbatas pengetahuannya.

Selain itu, pemahaman tentang i‘jazul Qur’an juga penting bagi umat Islam masa kini agar semakin yakin dan bangga dengan agama yang dianut. Di tengah banyaknya pemikiran modern yang mempertanyakan kebenaran agama, mempelajari i‘jazul Qur’an dapat memperkuat keyakinan (aqidah) bahwa Islam dibangun di atas dasar wahyu ilahi. Dengan memahami kemukjizatan Al-Qur’an, seorang muslim akan merasa lebih dekat dengan kitab sucinya, lebih sering membacanya, serta lebih terdorong untuk mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

5. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan I‘jaz al-Qur’an?

2. Apa saja jenis-jenis kemukjizatan Al-Qur’an?

6. Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan konsep i‘jaz secara sederhana

2. Menguraikan macam-macam kemukjizatan Al-Qur’an

BAB II

LANDASAN TEORI

1. Pengertian I‘jazul Qur’an

Secara bahasa kemukjizatan al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yaitu اِعْجَازُ dan اَلْقُرْاَن Kata اِعْجَازُ merupakan varian dari kata dasar yang terdiri dari tiga huruf ع-ج-ز , dan mempunyai makna asli melemahkan. Dalam bahasa Indonesia kata ini kemudian diserap menjadi mukjizat, namun dengan pengertian yang agak berbeda. Dalam KBBI kata mukjizat dimaknai sebagai kejadian (peristiwa) luar biasa yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Padahal, dalam bahasa aslinya (bahasa Arab) kata mukjizat ini mengandung makna melemahkan dan mengandung unsur tantangan.

Secara istilah, mukjizat dipahami oleh sementara ulama sebagai sesuatu hal atau peristiwa di luar kebiasaan tapi tetap bisa diterima oleh akal, yang Allah anugerahkan kepada nabi-nabi-Nya, sebagai bukti atas kenabiannya untuk melemahkan orang-orang yang menentang nabi-nabi dan mereka tidak mampu menandinginya . Defenisi yang ditawarkan para ulama di atas sesuai dengan makna kebahasaan dari mukjizat itu sendiri.

Adapun al-Qur’an merupakan bentuk masdar dari kata قَرَاَ , yang berarti membaca. Sedangkan menurut istilah al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan sebagai wahyu kepada nabi Muhammad saw. melalui perantara malaikat Jibril as. tertulis di dalam mushaf, terjaga di dalam dada, terdiri dari 144 surat, terbagi ke dalam 30 juz, sumber pertama syariat Islam, serta merupakan ibadah bagi yang membacanya (Muhammad Dirman Rasyid & Anugrah Reskiani, 2022).

I‘jāzul Qur’ān adalah konsep kemukjizatan Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki keunikan dan keagungan yang tidak dapat ditandingi atau ditiru oleh manusia maupun jin. Secara etimologi, i‘jāz berarti ketidakmampuan seseorang untuk menandingi atau menyamai suatu kehebatan. Dalam istilah khusus, i‘jāz al-Qur’ān merujuk pada aspek kemukjizatan Al-Qur’an yang tidak dapat ditandingkan, baik dalam kandungan, struktur, keindahan bahasa, maupun keistimewaan lainnya, sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW.

Beberapa aspek utama i‘jāz al-Qur’ān meliputi:

1. Bahasa dan gaya bahasa yang luar biasa tanpa kesalahan maupun kesamaran.

2. Informasi tentang hal ghaib dan ilmu pengetahuan yang tidak dapat diketahui manusia pada masa itu.

3. Keseimbangan, harmoni, dan ketepatan dalam penyampaian pesan yang sulit ditiru manusia.

4. Bukti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul yang membawa wahyu dari Allah, terutama dengan latar belakangnya sebagai orang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) sehingga tidak mungkin menciptakan Al-Qur’an sendiri (Dinda Jumiati, et al, 2025).

Singkatnya, i‘jāz al-Qur’ān menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat Allah yang tetap tak tertandingi dan menjadi argumentasi kuat bahwa Al-Qur’an bukan buatan manusia, melainkan wahyu Ilahi.

2. Dalil-Dalil Al-Qur’an Tentang I‘jaz

Dalil-dalil utama dalam Al-Qur’an tentang i‘jāz al-Qur’ān berupa tantangan Allah SWT kepada manusia dan jin untuk menandingi Al-Qur’an, yang disampaikan dalam tiga tahapan bertingkat untuk membuktikan kemukjizatan alqur’an sebagai berikut (Wisnu Arto Subari, 2025) :

Tantangan Pertama: Sepuluh Surah

Al-Qur’an menantang untuk membuat sepuluh surah yang serupa dengannya.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kamu (orang-orang kafir) dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah yang seperti itu (dari segi keindahan dan kebenaran), dan panggillah syahid-syahidmu (teman-teman dan pembantumu) selain Allah, jika perkataanmu itu benar.” (QS. Al-Baqarah:23).

Tantangan Kedua: Satu Surah

Tantangan dilonggarkan menjadi satu surah saja yang setara.

أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۖ قُلۡ فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

“Atau mereka mengatakan, 'Muhammad membuat-buatnya.' Katakanlah: 'Maka datangkanlah satu surah yang seperti (Al-Qur’an), dan panggillah siapa saja yang kamu dapat (untuk membantumu), selain Allah, jika kamu benar.'” (QS. Yunus:38).

Tantangan Ketiga: Yang Sebanding

Tantangan terakhir menekankan kesetaraan mutlak tanpa kompromi.

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

“Apakah mereka mengatakan, 'Ia (Muhammad) telah mengada-adakan Al-Qur’an itu?' Katakanlah: 'Maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang seperti (Al-Qur’an), yang kamu adakan itu, dan panggillah siapa saja yang kamu dapat selain Allah, jika kamu benar.'" (QS. Hud:13); juga “Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.'” (QS. Al-Isra:88).

Dalil-dalil ini menegaskan bahwa tidak ada yang mampu menandingi Al-Qur’an hingga akhir zaman, sebagai bukti kebenarannya sebagai wahyu Ilahi.

3. Asal Turunnya I‘jaz

I‘jāzul Qur’ān berasal dari wahyu Al-Qur’an itu sendiri yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sejak masa dakwah awal di Makkah, sebagai respons terhadap cercaan kaum kafir Quraisy yang meragukan kenabian beliau dan menuduh Al-Qur’an sebagai karangan manusia (Ansar Zainuddin, 2018).

Sebab Turunnya Ayat Tantangan

Ayat-ayat i‘jāz turun akibat penolakan dan ejekan kaum musyrikin yang menantang Nabi untuk menunjukkan mukjizat seperti nabi-nabi sebelumnya.

1. Tantangan pertama (QS. Al-Baqarah:23) diturunkan setelah orang-orang kafir meminta bukti kebenaran wahyu.

2. Tantangan selanjutnya (QS. Yunus:38, Hud:13, Al-Isra:88) muncul sebagai balasan atas tuduhan bahwa Nabi mengada-adakan Al-Qur’an, dengan konteks sabab nuzul terkait perdebatan dengan pemimpin Quraisy seperti Abu Jahal.

Perkembangan Konsep Historis

Konsep i‘jāz secara formal muncul pada abad III H/IX M melalui ulama seperti al-Jahizh dan al-Nazzham, meskipun praktiknya telah ada sejak zaman Nabi sebagai bukti kenabian bagi bangsa Arab yang ahli bahasa. Allah SWT memalingkan kemampuan mereka (konsep sharfah) agar tak mampu menandingi, sehingga i‘jāz menjadi mukjizat abadi.

D. Fungsi Kemukjizatan Al-Qur’an

Kemukjizatan Al-Qur’an, atau i’jaz, berfungsi utama sebagai bukti kerasulan Nabi Muhammad SAW dengan menantang manusia untuk menandinginya, sekaligus membuktikan kebenaran Al-Qur’an sebagai kalam Allah SWT yang tak tertandingi (Diah Ayu Rahmani & Alwizar 2024).

Fungsi Utama

1. Bukti Kerasulan Nabi Muhammad SAW: Kemukjizatan ini mengukuhkan klaim kenabian melalui tantangan abadi yang tak terpenuhi, seperti permintaan untuk membuat surah serupa, sehingga melemahkan penentang dakwah.

2. Bukti Kebenaran Al-Qur’an: Menegaskan otoritas Al-Qur’an sebagai firman Allah yang valid, menjadikannya sumber syariat utama tanpa keraguan.

3. Penguat Iman: Memperkokoh keyakinan umat beriman terhadap Al-Qur’an dan elemen keimanan lainnya, meski bagi yang tidak beriman memerlukan hidayah Allah.

4. Melemahkan Musuh Nabi: Mengalahkan lawan dakwah, termasuk yang menggunakan kekuatan palsu, untuk menjaga kebenaran risalah.​

BAB III

MACAM-MACAM I’JAZUL QUR’AN

1. Al-I’jazul Bayani

Al-I‘jaz al-bayani merupakan istilah lain dari kemukjizatan al-Qur’an dari aspek kebahasaan yang berkaitan dengan beberapa hal, yaitu; pertama, terkait kefasihan dan balagah-nya, kedua terkait sistematika susunannya, dan ketiga terkait uslub-nya. (Sabri Yaacob, 2025)

Kemukjizatan al-Qur’an dari aspek kebahasaan ini sejalan dengan kondisi masyarakat yang dihadapi nabi Muhammad saw. ketika al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana diketahui, bangsa Arab merupakan bangsa yang terkenal dengan kefasihan serta kesusastraannya. Oleh sebab itu, turunlah al-Qur’an dengan kefasihan serta kesustraan yang di luar dari yang mereka ketahui, meskipun alQur’an itu turun dengan bahasa mereka sendiri. (Hakmi Hidayat dkk, 2024) Demikian pula dari segi sistematika penyusunan kalam serta uslub yang digunakan al-Qur’an 18. Namun, al-Qur’an bukanlah karya sastra. sebagai contoh firman Allah swt. dalam QS Luqman/31: 17:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Terjemahnya: Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.

Dengan firman Allah swt. QS al-Syura/42: 43:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِࣖ

Terjemahnya: Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.

Pada QS al-Syura/42: 43 terdapat tambahan huruf lam pada kalimat :

لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِࣖ

pada umumnya orang-orang menyatakan bahwa lam pada ayat tersebut sebagai penegasan (taukid). Tetapi, mengapa pada QS al-Syura/42: 43 tersebut menggunakan lam taukid? Ketika hal tersebut diteliti lebih jauh akan ditemukan jawaban yang sungguh menakjubkan. Pada QS Luqman/31: 17, Allah swt. Berfirman وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ keadaan ini (sesuatu yang menimpa seseorang) mencakup dua hal, yaitu; keadaan yang terdapat musuh atau lawan yang mencelakai seseorang, seperti terkena musibah pencurian atau perampokan. Keadaan selanjutnya, tertimpa musibah atau kecelakaan tanpa musuh atau orang yang mencelakai, seperti jatuh sakit, rumah terkena badai.

Sebagaimana diketahui, dalam menghadapi musibah haruslah dengan sabar. Sabar pun terbagi dua sebagaimana musibah yang telah diuraikan. Sabar yang pertama yaitu sabar karena memang tidak ada daya dan upaya atau tidak ada pilihan selain bersabar untuk menghadapinya, seperti jatuh sakit dan rumah yang terkena badai. Adapun sabar yang kedua adalah sabar dalam artian menahan diri ketika mampu untuk membalasnya, seperti pencurian dan pencurinya ditemukan. (Idris Siregar dkk, 2024)

Ketika al-Qur’an berbicara masalah musibah yang menimpa manusia tanpa adanya orang yang terlibat dalam musibah tersebut, maka al-Qur’an cukup menggunakan إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ hal ini dikarenakan memang tidak ada daya selain sabar untuk merespon musibah tersebut. Namun, ketika al-Qur’an berbicara masalah musibah yang menimpa seseorang akibat dari perbuatan orang lain, dan dalam keadaan mampu untuk menuntut balas, maka al-Qur’an menggunakan اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِࣖ dengan lam taukid. Hal ini menunjukkan memilih sabar pada saat mampu untuk menuntut balas atas perlakuan orang lain yang menyebabkannya celaka, lebih utama. Adapaun indikasi pada QS al-Syura/42: 43 yang menyatakan bahwa musibah yang terjadi atas perlakuan orang lain Adalah وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ (tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan). Kata ‘memaafkan’ pada ayat tersebut merupakan indikator adanya lawan atau musuh (yang menyebabkan seseorang terkena musibah) dan kemampuan untuk menuntut balas. (Diah Ayu Rahmani & Alwizar 2024).

Dari uraian di atas jelas terlihat betapa serasi dan selarasnya pemilihan serta penempatan tiap kata dalam susunan serta uslub al-Qur’an dengan makna yang dimaksudkan.

2. Al-I‘jazul ‘Ilmi

Al-I‘jaz al-‘ilmi atau biasa juga disebut sebagai kemukjizatan ilmiah alQur’an atau kemukjizatan al-Qur’an dari aspek isyarat ilmiah, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, merupakan salah satu hal yang baru dalam kajian i‘jaz alQur’an. Maksudnya adalah hal ini belum dibincangkan pada masa awal-awal munculnya diskursus tentang i‘jaz al-Qur’an. (Diah Ayu Rahmani & Alwizar 2024).

Berikut contoh isyarat ilmiah di dalam al-Qur’an yang kemudian dibuktikan dengan ilmu pengetahuan modern atas informasi ilmiah tersebut. Di dalam QS alAnbiya’/21: 30:

وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ

Terjemahnya: Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?

ayat di atas sebagian dari ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah. Pada ayat tersebut al-Qur’an menginformasikan bahwa sebab keberlangsungan hidup adalah air, dan tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya air. Hal ini kemudian dibuktikan dengan eksperimen bahwa air merupakan factor utama kehidupan, bahkan di dalam tubuh manusia air merupakan unsur yang paling banyak Hal ini semakin membuktikan bahwa al-Qur’an memanglah datang dari Allah swt. dan bukan perkataan dan hasil pemikiran nabi Muhammad saw.

3. Al-I’jazut Tasyri’i

Al-I‘jaz al-tasyri‘i adalah kemukjizatan al-Qur’an dari aspek penerapan hukumnya, baik dari bidang akidah, syariat (fikih) maupun akhlak. (Dinda Jumiati, et al, 2025). Contoh yang termaktub dalam firman Allah QS al-Anbiya’/21: 22:

لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Terjemahnya: Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.

4. Al-I’jazul Ghaibi

Al-I‘jaz al-gaibi merupakan kemukjizatan al-Qur’an yang berkaitan dengan pemberitaan al-Qur’an tentang hal-hal yang gaib. Maksud dari kata gaib adalah sesuatu yang luput dari pandangan manusia, baik sifatnya telah terjadi pada masa lampau, ataupun pemberitaan al-Qur’an terkait kejadian yang akan datang.

Adapun terkait pemberitaan tentang masa yang akan datang, sebagai contoh pemberitaan al-Qur’an tentang kemenangan Romawi setelah kekalahannya pada QS al-Rum/30: 1-5:

الۤمّۤ . غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ . فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ .

فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الۤمّۤ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُۗ وَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ . بِنَصْرِ اللّٰهِۗ يَنْصُرُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُالرَّحِيْمُ

Terjemahnya: Alif Lam Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa, Maha Penyayang.

Berita al-Qur’an di atas terbukti telah kebenarannya, yakni tujuh tahun setelah kekalahan Romawi, tetapnya pada tahun 622 M, terjadi lagi peperangan antara kedua adikuasa (Romawi dan Persia) tersebut, dan kali pemengannya adalah Romawi (Rais Abdurrahman Siregar, Milhan, 2025)

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang Allah ﷻ turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan kemukjizatan ini bersifat abadi hingga akhir zaman. I‘jazul Qur’an merupakan bukti kuat bahwa Al-Qur’an bukan hasil pemikiran manusia, melainkan wahyu Ilahi yang membawa petunjuk, ilmu, dan kebenaran bagi seluruh umat manusia.

Secara bahasa, kata i‘jaz bermakna melemahkan, yaitu ketidakmampuan manusia dan jin untuk membuat sesuatu yang menandingi Al-Qur’an. Hal ini terbukti melalui tantangan-tantangan Allah dalam Al-Qur’an, mulai dari menandingi sepuluh surah, satu surah, hingga seluruh isi Al-Qur’an. Tantangan tersebut tidak pernah mampu dipenuhi siapa pun, meskipun bangsa Arab saat itu merupakan ahli sastra dengan kemampuan bahasa yang sangat tinggi.

Dalam kajian teori, i‘jazul Qur’an mencakup beberapa aspek utama, yaitu:

1. Al-I‘jazul Bayani (kemukjizatan bahasa), yang terlihat dari keindahan susunan kata, kesesuaian makna, dan kefasihan yang tidak mungkin ditiru manusia.

2. Al-I‘jazul ‘Ilmi (kemukjizatan ilmiah), yakni isyarat-isyarat ilmiah yang disampaikan Al-Qur’an jauh sebelum dibuktikan oleh sains modern.

3. Al-I‘jazut Tasyri‘i (kemukjizatan hukum), yang menunjukkan kesempurnaan aturan akidah, syariat, dan akhlak dalam Al-Qur’an.

4. Al-I‘jazul Ghaibi (kemukjizatan berita ghaib), yaitu berita tentang masa depan dan masa lalu yang semuanya terbukti benar.

Kesemua bentuk kemukjizatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang sempurna dari segala sisi. Tidak ada pertentangan di dalamnya, tidak ada kebatilan yang dapat mendekatinya, dan seluruh isinya sejalan dengan fitrah manusia serta kebenaran yang dapat dibuktikan sepanjang masa. Selain sebagai mukjizat, i‘jazul Qur’an juga berfungsi untuk menguatkan iman, mengokohkan keyakinan akan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, serta melemahkan hujah kaum yang menentang kebenaran Islam.

Dengan memahami konsep i‘jazul Qur’an, seorang muslim akan semakin yakin terhadap agamanya, semakin mencintai kitab sucinya, serta terdorong untuk mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mempelajari i‘jazul Qur’an bukan hanya kajian ilmiah, tetapi juga bentuk tadabbur yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dan menumbuhkan keimanan yang lebih kuat.

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai i‘jazul Qur’an, penulis merasa bahwa masih banyak ruang untuk memperdalam kajian ini. Oleh karena itu, beberapa saran berikut diajukan sebagai bahan pertimbangan bagi berbagai pihak:

1. Bagi Pelajar dan Mahasiswa

Diharapkan lebih serius mempelajari Al-Qur’an, tidak hanya membaca tetapi juga memahami isi dan kemukjizatannya. Dengan mengenal i‘jazul Qur’an, para pelajar akan memiliki keyakinan yang lebih kuat terhadap keaslian dan kebenaran Al-Qur’an.

2. Bagi Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan Islam sebaiknya memberikan ruang yang lebih besar untuk kajian i‘jazul Qur’an, baik melalui mata pelajaran khusus, seminar, maupun pelatihan keagamaan. Penyediaan buku dan sumber referensi yang memadai juga sangat membantu pengembangan pengetahuan siswa.

3. Bagi Guru dan Dosen

Para pendidik dianjurkan untuk memperkaya metode pengajaran Al-Qur’an dengan contoh-contoh kemukjizatan yang relevan dengan kehidupan modern. Penyampaian materi yang menarik akan membantu siswa lebih dekat dengan Al-Qur’an dan memahami keistimewaannya.

4. Bagi Keluarga Muslim

Orang tua diharapkan dapat menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada anak sejak dini melalui pembiasaan membaca, mendengar murattal, serta menjelaskan makna ayat secara sederhana. Lingkungan keluarga yang cinta Al-Qur’an akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan iman anak.

5. Bagi Peneliti dan Pemerhati Kajian Islam

Penelitian mengenai i‘jazul Qur’an perlu terus dikembangkan, terutama dalam bidang bahasa, sains, dan sejarah. Penelitian yang berkelanjutan akan memperkaya wawasan umat dan memperkuat bukti-bukti ilmiah tentang kemukjizatan Al-Qur’an.

6. Bagi Umat Islam secara umum

Setiap muslim diharapkan terus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, dengan memperbanyak tadabbur dan mengamalkan isi kandungannya. Menyadari bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar akan membuat kita lebih bersyukur dan semakin dekat kepada Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Quranul Karim

2. Dirman Rasyid Muhammad & Anugrah Reskiani. “Memahami kemukjizatan al-Qur’an”. Jurnal PAPPASANG 1 Volume 4 No1 (2022)

3. Jumiatil Dinda, Alwizar, Kadar M Yusuf. “I’jazul Qur’an (Mukjizat Al-Qur’an)”. JETBUS Journal. No 1 (2025)

4. Arto Subari Wisnu. “Mukjizat Al-Qur'an: Tiga Tantangan kepada Manusia Membuat yang Serupa”. Media Indonesia.com. (2025)

5. Hakmi Hidayat, Aulia Rosferyn Mufidah P.J, Moch. Nazirel Ilham Attallah, Moh.Idris, Moh.Seto Nugroho. “Mu’jizat Dan I’jaz Al-Qur’an”. Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan. https://jurnal.ittc.web.id/ Vol 1No 4 (2024)

6. Abdurrahman Siregar Rais, Milhan “Memahami Kemukjizatan Al-Qur’an”. Al-Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, https://journal.staiypiqbaubau.ac.id/index.php/Al-Tarbiyah Vol 3 No 4 (2025)

7. Siregar Idris, Nadilla Putri, Imelda Fedian. “I’jaz Bayani Pada Ayat-Ayat Al-Qur’an”. Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. https://jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id/ Vol 2 No 5 (2024)