PENDAHULUAN

1. Konteks Penelitian

Pendidikan merupakan salah satu faktor utama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu menghadapi perkembangan zaman. Dalam konteks pendidikan Islam, pondok pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan agama, tetapi juga memiliki karakter, kedisiplinan, dan akhlak yang baik. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, pesantren dituntut untuk terus meningkatkan mutu pendidikannya agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi ciri khasnya.

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan lembaga pendidikan adalah manajemen yang diterapkan oleh kepala sekolah atau pimpinan lembaga. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengoordinasikan, serta mengevaluasi seluruh kegiatan pendidikan. Kemampuan kepala sekolah dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen akan sangat memengaruhi kualitas proses pembelajaran, profesionalisme tenaga pendidik, serta mutu lulusan atau santri yang dihasilkan.

Mutu santri merupakan salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Mutu tersebut tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kemampuan membaca dan memahami kitab kuning, penguasaan ilmu agama, akhlakul karimah, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, peningkatan mutu santri memerlukan pengelolaan yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan.

Dalam upaya meningkatkan mutu santri, kepala sekolah menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sarana dan prasarana, perbedaan kemampuan santri, peningkatan kompetensi guru, perkembangan teknologi, serta tuntutan masyarakat terhadap kualitas pendidikan. Kondisi tersebut menuntut kepala sekolah untuk memiliki kemampuan manajerial yang baik agar seluruh sumber daya yang dimiliki lembaga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai tujuan pendidikan.

Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang berupaya meningkatkan mutu santri melalui penguatan pembelajaran keagamaan, pembinaan karakter, peningkatan disiplin, serta pengembangan berbagai program pendidikan. Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah memiliki peran sentral dalam menyusun kebijakan, mengembangkan program, membina tenaga pendidik, mengelola lingkungan belajar, serta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan.

Keberhasilan peningkatan mutu santri tidak terlepas dari efektivitas manajemen kepala sekolah dalam mengelola seluruh komponen pendidikan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, serta evaluasi yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani. Penelitian ini juga diperlukan untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan manajemen tersebut sehingga dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan lembaga pada masa mendatang.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian dengan judul "Manajemen Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Santri Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani" penting dilakukan untuk memperoleh gambaran secara mendalam mengenai praktik manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu manajemen pendidikan Islam dan menjadi referensi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

2. Fokus Penelitian

1. Bagaimana perencanaan (planning) kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani?

2. Bagaimana pengorganisasian (organizing) kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani?

3. Bagaimana pelaksanaan atau pengarahan (actuating) kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani?

4. Bagaimana pengawasan dan evaluasi (controlling) kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani?

5. Apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani?

3. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan dan menganalisis perencanaan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

2. Mendeskripsikan dan menganalisis pengorganisasian kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

3. Mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan atau pengarahan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

4. Mendeskripsikan dan menganalisis pengawasan serta evaluasi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

5. Mendeskripsikan dan menganalisis faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

4. Signifikansi dan manfaat Penelitian

1. Signifikansi Penelitian

1. Signifikansi Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan dalam bidang Manajemen Pendidikan Islam, khususnya mengenai manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri pada lembaga pendidikan berbasis pesantren. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan teori dan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan manajemen pendidikan Islam.

2. Signifikansi Praktis Penelitian ini memberikan gambaran mengenai praktik manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani. Hasil penelitian diharapkan menjadi bahan evaluasi dan dasar penyusunan kebijakan dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan lembaga serta kualitas pendidikan santri. �

2. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

* Menambah wawasan dan pengalaman dalam melakukan penelitian ilmiah di bidang Manajemen Pendidikan Islam.

* Mengembangkan kemampuan menganalisis penerapan fungsi-fungsi manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri.

2. Bagi Kepala Sekolah

* Menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan efektivitas fungsi manajemen, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.

* Menjadi masukan dalam merumuskan strategi peningkatan mutu santri secara berkelanjutan.

3. Bagi Guru/Ustaz

* Memberikan pemahaman mengenai pentingnya sinergi antara kepala sekolah dan tenaga pendidik dalam mewujudkan peningkatan mutu santri.

* Mendorong peningkatan profesionalisme guru dalam mendukung program-program peningkatan mutu.

4. Bagi Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani

* Menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lembaga.

* Menjadi acuan dalam menyusun program peningkatan mutu santri yang lebih efektif, terarah, dan berkesinambungan.

5. Bagi Akademisi dan Peneliti Selanjutnya

* Menjadi referensi bagi penelitian yang berkaitan dengan manajemen kepala sekolah, kepemimpinan pendidikan, dan peningkatan mutu santri di lembaga pendidikan Islam.

* Menambah literatur ilmiah mengenai praktik manajemen pendidikan di lingkungan pondok pesantren.

5. Definisi Konseptual

Untuk menghindari perbedaan penafsiran terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan definisi konseptual sebagai berikut.

1. Manajemen Kepala Sekolah

Manajemen kepala sekolah adalah serangkaian proses yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam mengelola seluruh sumber daya pendidikan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan. Manajemen tersebut meliputi fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan/pengarahan (actuating), serta pengawasan dan evaluasi (controlling) terhadap seluruh kegiatan pendidikan di lembaga.

Dalam penelitian ini, manajemen kepala sekolah dipahami sebagai kemampuan kepala sekolah Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani dalam merencanakan program, mengorganisasikan tenaga pendidik dan kependidikan, mengarahkan pelaksanaan program pendidikan, serta melakukan pengawasan dan evaluasi untuk meningkatkan mutu santri.

2. Mutu Santri

Mutu santri adalah tingkat kualitas yang dimiliki santri sebagai hasil dari proses pendidikan yang mencerminkan pencapaian kompetensi akademik, kompetensi keagamaan, sikap, akhlak, kedisiplinan, kemandirian, serta keterampilan yang sesuai dengan tujuan pendidikan pesantren.

Dalam penelitian ini, mutu santri diukur melalui beberapa indikator, yaitu:

* Kemampuan memahami dan menguasai materi pembelajaran agama.

* Kemampuan membaca dan memahami kitab kuning.

* Akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

* Kedisiplinan dalam mengikuti kegiatan pesantren.

* Tanggung jawab dan kemandirian.

* Prestasi akademik maupun nonakademik.

* Kepatuhan terhadap tata tertib dan nilai-nilai pesantren.

3. Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani

Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani adalah lembaga pendidikan Islam tingkat Ulya yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani. Lembaga ini menyelenggarakan pendidikan yang memadukan pembelajaran ilmu-ilmu keislaman dengan pembinaan karakter, akhlak, dan kedisiplinan santri berdasarkan nilai-nilai Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Dalam penelitian ini, Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani menjadi lokasi penelitian untuk mengkaji bagaimana kepala sekolah menjalankan fungsi-fungsi manajemen dalam upaya meningkatkan mutu santri.

Berdasarkan uraian di atas, yang dimaksud dengan "Manajemen Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani" adalah proses pengelolaan yang dilakukan oleh kepala sekolah melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan dan evaluasi terhadap seluruh program pendidikan guna meningkatkan kualitas santri, baik dalam aspek akademik, keagamaan, akhlak, kedisiplinan, maupun keterampilan sesuai dengan tujuan pendidikan di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

6. Orisinalitas Penelitian (Penelitian Terdahulu)

No.

Penelitian Terdahulu

Persamaan

Perbedaan/Novelty Penelitian

1

Nurmela dkk. (2016), Manajemen Pondok Pesantren Salafiyah dalam Meningkatkan Kualitas Santri

Sama-sama mengkaji manajemen dalam meningkatkan kualitas santri.

Fokus penelitian terdahulu pada manajemen pondok pesantren secara kelembagaan (POAC), sedangkan penelitian ini memfokuskan pada manajemen kepala sekolah di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani, sehingga menekankan fungsi kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan mutu santri.

2

Rofiq & Siswanto (2020), Manajemen Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMP Berbasis Pesantren

Sama-sama membahas manajemen kepala sekolah.

Penelitian sebelumnya dilakukan pada sekolah formal berbasis pesantren dengan orientasi mutu pendidikan, sedangkan penelitian ini berfokus pada mutu santri pada lembaga pendidikan diniyah tingkat Ulya di lingkungan pesantren salafiyah.

3

Hidayah (2025),

Total Quality Management dalam Mengembangkan Kompetensi Santri

Sama-sama membahas peningkatan kualitas santri.

Penelitian terdahulu menggunakan pendekatan Total Quality Management (TQM), sedangkan penelitian ini mengkaji praktik manajemen kepala sekolah yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan dalam meningkatkan mutu santri.

4

Bagus Maulana (2025), Optimalisasi Fungsi Manajemen Pondok Pesantren dalam Meningkatkan Kualitas Akademik Santri

Sama-sama membahas fungsi manajemen dalam peningkatan kualitas santri.

Penelitian terdahulu berorientasi pada kualitas akademik santri secara umum, sedangkan penelitian ini menelaah kepemimpinan kepala sekolah pada lembaga Ulya dengan indikator mutu yang mencakup aspek akademik, keagamaan, akhlak, dan kedisiplinan santri.

7. Kajian Pustaka

1. Manajemen Kepala Sekolah

Manajemen adalah proses mengelola sumber daya melalui fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling) untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien (George R. Terry). Dalam lembaga pendidikan, kepala sekolah berperan sebagai pemimpin yang bertanggung jawab mengelola seluruh kegiatan pendidikan, mulai dari penyusunan program, pengelolaan tenaga pendidik, pelaksanaan pembelajaran, hingga evaluasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.

2. Mutu Santri

Mutu santri merupakan tingkat keberhasilan santri dalam mencapai kompetensi yang diharapkan, baik dalam aspek akademik maupun nonakademik. Di lingkungan pesantren, mutu santri tidak hanya diukur dari penguasaan ilmu agama, tetapi juga dari akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, serta kemampuan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pondok Pesantren Salafiyah

Pondok pesantren salafiyah adalah lembaga pendidikan Islam yang mempertahankan sistem pembelajaran kitab kuning dan pembinaan akhlak sebagai ciri utamanya. Selain mengembangkan kemampuan intelektual, pesantren salafiyah menanamkan nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan kemandirian melalui kehidupan berasrama.

4. Manajemen Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Santri

Keberhasilan peningkatan mutu santri dipengaruhi oleh kemampuan kepala sekolah dalam menjalankan fungsi manajemen. Melalui perencanaan program, pengorganisasian sumber daya, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, serta pengawasan dan evaluasi secara berkelanjutan, kepala sekolah dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung peningkatan kualitas santri. Oleh karena itu, efektivitas manajemen kepala sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan santri yang unggul dalam ilmu pengetahuan, akhlak, dan keterampilan.

8. Pendekatan dan Jenisi Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan secara mendalam fenomena manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh informasi yang komprehensif mengenai proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang dilakukan kepala sekolah, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat peningkatan mutu santri.

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) dengan desain studi kasus. Penelitian lapangan dilakukan dengan mengumpulkan data secara langsung di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Desain studi kasus dipilih karena penelitian berfokus pada satu lembaga secara mendalam untuk memahami praktik manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai pelaksanaan manajemen kepala sekolah beserta faktor pendukung, faktor penghambat, dan upaya yang dilakukan dalam meningkatkan mutu santri di Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

9. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, instrumen utama penelitian adalah peneliti (human instrument). Peneliti berperan dalam menetapkan fokus penelitian, menentukan informan, mengumpulkan data, menganalisis data, menafsirkan data, serta menarik kesimpulan. Untuk memperoleh data yang valid, peneliti menggunakan instrumen pendukung berupa pedoman wawancara, pedoman observasi, dan pedoman dokumentasi.

1. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara digunakan untuk memperoleh informasi secara mendalam dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan santri mengenai manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri.

Indikator wawancara

Aspek

Indikator

Perencanaan

Penyusunan visi, misi, program kerja, dan target peningkatan mutu santri.

Pengorganisasian

Pembagian tugas guru, wali kelas, dan pembina santri.

Pelaksanaan

Pelaksanaan program pembelajaran, pembinaan karakter, dan kegiatan keagamaan.

Pengawasan

Supervisi, monitoring, evaluasi, dan tindak lanjut program.

Mutu Santri

Prestasi, kedisiplinan, akhlak, kemampuan akademik, dan keagamaan.

Faktor Pendukung dan Penghambat

Kendala dan solusi dalam meningkatkan mutu santri.

2. Pedoman Observasi

Observasi dilakukan untuk memperoleh data secara langsung mengenai pelaksanaan manajemen kepala sekolah dan kondisi nyata di lingkungan Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

Aspek yang diamati:

* Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

* Kedisiplinan santri.

* Pembinaan akhlak dan kegiatan keagamaan.

* Interaksi kepala sekolah dengan guru dan santri.

* Pelaksanaan program peningkatan mutu santri.

* Sarana dan prasarana pendukung pembelajaran.

3. Pedoman Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data hasil wawancara dan observasi.

Dokumen yang dikumpulkan antara lain:

* Profil Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani.

* Struktur organisasi.

* Visi, misi, dan tujuan lembaga.

* Program kerja kepala sekolah.

* Jadwal kegiatan pembelajaran.

* Data guru, tenaga kependidikan, dan santri.

* Tata tertib santri.

* Data prestasi santri.

* Foto kegiatan dan arsip pendukung lainnya.

Instrumen-instrumen tersebut digunakan secara terpadu untuk memperoleh data yang akurat dan mendalam mengenai manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri. Keabsahan data diperkuat melalui teknik triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu sehingga hasil penelitian memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi.

10. Data dan Sumber Data

1. Data Penelitian

Data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder.

1. Data primer diperoleh langsung dari hasil wawancara dan observasi mengenai manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan mutu santri.

2. Data sekunder diperoleh dari dokumen lembaga, seperti profil sekolah, visi dan misi, struktur organisasi, program kerja, data guru, data santri, serta dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini meliputi:

1. Kepala Sekolah Lembaga Ulya Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani sebagai informan utama.

2. Guru dan tenaga kependidikan sebagai informan pendukung.

3. Santri sebagai informan yang memberikan informasi mengenai pelaksanaan program peningkatan mutu.

4. Dokumen yang berkaitan dengan kebijakan, program kerja, dan administrasi lembaga.

11. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Observasi, yaitu mengamati secara langsung pelaksanaan manajemen kepala sekolah serta kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan mutu santri.

2. Wawancara, yaitu melakukan tanya jawab secara mendalam dengan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan santri untuk memperoleh informasi mengenai proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.

3. Dokumentasi, yaitu mengumpulkan berbagai dokumen yang mendukung penelitian, seperti profil lembaga, struktur organisasi, program kerja, foto kegiatan, serta data prestasi santri.

L. Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalamunit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola (hubungan antar kategori), memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang-ulang sehingga selanjutnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Bila berdasarkan data yang dapat dikumpulkan secara berulang-ulang dengan tehnik trianggulasi, ternyata hipotesis diterima, mka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori. (Sugiono, 2015:368).

Dalam penelitian ini, menggunakan analisis data dari Miles & Humberman, Menurut miles & Humberman (1992:16) analisis terdiri dari tiga kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu : reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verivikasi. Mengenai ketiga alur tersebut secara lebih lengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Kondensasi data

Kondensasi data merujuk pada proses pemilihan memfokuskan, menyederhanakan, mengabstraksikan, dan mentransformasikan data yang mendekati keseluruhan bagian dari catatan lapangan secara tertulis, transkip wawancara, dokumen-dokumen dan menteri-menteri empiris. Kesimpulannya bahwa proses kondensasi data ini diperoleh setelah peneliti melakukan wawancara dan mendapatkan data tertulis yang ada di lapangan, yang nantinya transkip wawancara tersebut dipilah-pilah untuk mendapatkan fokus penelitian yang dibutuhkan oleh peneliti.

2. Penyajian Data

Miles & Huberman membatasi suatu penyajian sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Mereka menyakini bahwa penyajian-penyajian yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid, yang meliputi: Berbagai jenis matrik, grafik, jaringan dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih. Dengan demikian seorang penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi, dan menentukan pakah menarik kesimpulan yang benar ataukah terus melangkah melakukan analisis yang menurut saran yang dikisahkan oleh penyajian sebagai sesuatu yang mungkin berguna.

3. Menarik Kesimpulan

Penarikan kesimpulan menurut miles & Humberman hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi itu mungkin sesingkat pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis (peneliti) selama ia menulis, suatu tinjauuan ulang pada catan-catatan lapangan, atau mungkin menjadi begitu seksama dan menghabiskan tenaga dengan peninjauan kembali serta tukar pikiran diantara teman sejawat untuk mengembangkan kesepakatan intersubjektif atau juga upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Singkatnya, makna-makna yang muncul dari data yang lain harus diuji kebenarannya, kekokohannya,dan kecocokannya, yakni yang merupakan validitasnya. Kesimpulan akhir tidak hanya terjadi pada waktu proses pengumpulan data saja, akan tetapi perlu diverifikasi agar benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Secara skematis proses analisis data menggunakan model analisis data interaktif Miles dan Humberman dapat dilihat dari bagan sebagai berikut:

M. Uji keabsahan data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber (Sugiyono,2013:274). Dengan demikian, triangulasi dengan sumber data artinya membandingkan dan mengecek kembali sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan(member check) dari berbagai sumber tersebut. Teknik triangulasi berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama yaitu teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serentak.

Triangulasi juga dapat diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggambungkan berbagai teknik pengumpulan data sari sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triagulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.(sugiono,2016:241)