PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Filsafat pengetahuan (epistemologi) adalah cabang filsafat yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu pengetahuan. Ciri utama filsafat adalah sebab musabab yang paling akhir atau paling dalam, sedangkan ciri filsafat pengetahuan adalah mencari sebab musabab dengan bertitik tolak pada gejala-gejala pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Sumber pengetahuan diperoleh melalui berfikir, indera, otoritas dan intuisi.
Hakikat ilmu pengetahuan adalah upaya manusia untuk mendapatkan kebenaran dengan metode ilmiah atau metode keilmuan. Epistemologi memiliki keterkaitan dengan ilmu-ilmu lain seperti ilmu alam, ilmu sosial, agama dan seni sehingga melahirkan falsafah "ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh " Albert Einstein. Sedangkan pendidikan adalah jalan yang menjembatani antara manusia dengan ilmu pengetahuan yang sudah barang tentu keduanya adalah berkaitan.
Belajar hendaknya menjadi salah satu karakter yang selalu melekat di dalam perilaku suatu bangsa. Dari hal itulah setiap bangsa berusaha mengunggulakan pendidikan sebagai sebuah fondasi dari pendirian sebuah bangsa. Proses pendidikan tidak terlepas dari konsep epistemologi dalam pengkajiaanya, di mana pelaksannanya harus mencerminkan aktualisasi dari cita-cita suatu bangsa. Untuk itu penting dalam makalah ini kami uraikan mengenai pengertian epistemologi, ruang lingkupnya, sumber pendidikan, struktur pendidikan, serta kebenaran dalam pendidikan.
2. Rumusan masalah
1. Bagaiman pendidikan islam dalam perspektif epistemologi ?
2. Apa saja metode epistemologi dalam pendidikan islam?
3. bagaimana hubungan antara epistemologi dengan manajemen pendidikan islam?
3. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pendidikan islam dalam perspektif epistemologi
2. Mengetahui apa saja metode epistemologi dalam pendidikan islam
3. Mengetahui bagaimana hubungan antara epistimologi dengan manajemen pendidikan islam
BAB II
PEMBAHASAN
1. Bagaimana pendidikan islam dalam perspektif epistemologi
Definisi epistemologi Sebagai subsistem filsafat, epistemologi menyimpan "misteri" pengertian yang tidak mudah dipahami. Para ahli pun tidak bisa menghindar dari perbedaan ketika mendefinisikannya, beberapa para ahli mengemukakan epistimologi.
1. Jujun S. Suriasumantri, dalam bukunya Filsafat il mu, mendefinisikan epistemologi, cara mendapatkan pengetahuan yang benar.
2. Juhaya S. Praja, menurutnya epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas ruang lingkup dan batas-batas pengetahuan.
3. M. Zainuddin, epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang, asal muasal, metode, kesahihan ilmu pengetahuan.
4. D. W. Hamlyn mendefinisikan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang berusaha membahas dasar, hakikat, ruang lingkup, dan analogi pengetahuan. Jika unsur-unsur pengetahuan tersebut berkumpul pada diri seseorang, secara umum dapat dikatakan bahwa ia memiliki pengetahuan.
Dari beberapa para ahli tersebut kita ketahui bahwa definisi epistemologi pada intinya adalah menyajikan pandangan yang saling melengkapi dan mengkritik tentang asal, hakikat, dan batas pengetahuan manusia, dari sini dapat dikesimpulkan fikiran tanpa isi adalah kosong, intuisi tanpa konsep adalah buta dengan demikian pengetahuan muncul dari interaksi kedua.
Epistemologi pendidikan islam pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan kesatuan kehidupan manusia dan masyarakat sebagai pelaksanaan dan realisasi fungsi khalifah dan ibadah. Hal ini merupakan realisasi dari keyakinan bahwa Islam yang termaktub dalam Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia yang diwahyukan Allah kepada seluruh Nabi dan rasul sampai terakhir yaitu Muhammad SAW.
Sesuai dengan kerangka dasar pandangan hidup muslim, aktivitas pendidikan adalah pelaksanaan uswah sunnah rasul yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia dan masyarakat. Namun, dengan adanya kecenderungan kehidupan modern dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memasuki seluruh ruang hidup manusia telah menggantikan fungsi manusia melalu berbagai produk ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mengakibatkan ketergantungan sistematik manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berangkat dari ilustrasi tersebut, sebenarnya pendidikan memiliki korelasi positif dengan proses modernisasi dalam kehidupan sosial manusia. Postulat semacam ini telah terbaca setidaknya oleh Ghulam Nabi Sagib, intelektual muslim Pakistan dalam disertasinya Modernism of Muslim Education pada University of London (1977) sebagaimana dikutip oleh Syarif Hidayatullah Sagib mengemukakan bahwa kaitannya antara pendidikan dan modernisasi sesungguhnya ada dua cara pandang yang dapat saling melengkapi. Pertama, bahwa pendidikan dianggap sebagai satu variabel dari apa yang disebut modernisasi, kedua, bahwa pendidikan adalah sistem yang menjadi obyek dari proses modernisasi tersebut108.
Hal ini dapat dipahami, bahwa pada satu Sisi pendidikan dianggap merupakan prasyarat dan kondisi mutlak bagi masyarakat untuk menjalankan program dalam mencapai tujuan-tujuan modernisasi atau membangun tanpa pendidikan yang memadai, akan sulit bagi masyarakat manapun untuk mencapai kemajuan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu ke arah modernisasi. Pada Sisi yang lain, pendidikan di negara- negara yang tengah menjalankan program modernisasi pada umumnya dipandang masih terbelakang dalam berbagai hal, dan karena itu sulit diharapkan bisa memenuhi dan mendukung program modernisasi. Oleh karena itulah, pendidikan harus diperbaharui atau di modernisasi, sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang dipikulkan kepadanya.
Munculnya presoalan epistemologi pendidikan Islam itu diantara sebabnya adalah epistemologi Pendidikan Islam 'kiblat"nya belum jelas, bahkan kalau tidak terlalu berlebihan bahwa epistemologi Pendidikan Islam masih mengikuti epistemologi Barat. Perkembangan ilmu pendidikan Islam masih memiliki sikap "mendua". Pertama, ketika melihat temuan teori pendidikan dari Barat maupun Timur yang dikembangkan di lingkungan, cenderung diterima tanpa kritik, kemudian dicarikan dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadits yang terkadang cenderung dipindahkan. Kedua, sikap yang sangat normatif, dalam menghadapi dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadits cenderung tidak melalui tahap analisis yang cukup mendalam.
Dengan demikian, pendidikan Islam sebagai tulang punggung sebuah peradaban sangat signifikan dalam usaha dicarikan epistemologinya. Pendidikan Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits, secara otomatis epistemologi yang dipakai adalah epistemologi Islam (bersumber dari al Quran dan Hadits). Sehingga, pendidikan Islam dalam prakteknya dilihat dari kerangka epistemologis bukan menggunakan pendekatan naturalisik-positivistik.
2. Apa saja metode epistemologi dalam pendidikan islam
Ada tiga metode dalam epistemologi pendidikan Islam, yaitu: rasional, intuitif, dialogis,
1. Metode rasional adalah metode yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan atau kriteria-kriteria kebenaran yang bisa diterima rasio. Menurut metode ini sesuatu dianggap benar apabila bisa diterima oleh akal, seperti sepuluh lebih banyak dari lima. Tidak ada orang yang mampu menolak kebenaran ini berdasarkan penggunaan akal sehatnya karena secara rasional sepuluh lebih banyak dari lima. Metode ini digunakan dalam mencapai pengetahuan pendidikan Islam terutama yang bersifat apriori. Akal memberi penjelasan-penjelasan yang logis terhadap suatu masalah, sedangkan indra membuktikan penjelasan-penjelasan itu. Penggunaan akal untuk mencapai pengetahuan termasuk pengetahuan pendidikan Islam mendapat pembenaran agama Islam. Hal ini berarti bahwa tidak mudah dimengerti apa yang terkandung dalam Al-Qur'an tanpa mencari, menganalisis atau menggali sesuatu yang tersimpan di balik bahasa harfiah. Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran yang makin rasional sebagai media atau alat untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap kandungan Al-Qur'an.
2. Metode intuitif merupakan metode yang khas dalam epistemologi pendidikan Islam. Dalam tradisi ilmiah Barat, metode ini tidak pernah dianggap perlu dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, di kalangan ilmuwan Muslim, intuisi dianggap sebagai metode yang sah untuk mengembangkan pengetahuan, dan mereka telah terbiasa meng-gunakannya untuk menangkap perkembangan pengetahuan. Muhammad Iqbal menyebut intuisi ini dengan istilah "cinta" atau kadang-kadang disebut sebagai pengalaman kalbu. Dalam pendidikan Islam, pengetahuan intuitif ditempatkan pada posisi yang layak. Pendidikan Islam saat ini menjadikan manusia sebagai objek material, sementara objek formalnya adalah kemampuan manusia. Secara spesifik, pendidikan Islam terfokus pada pemahaman manusia, baik melalui wahyu, pemberdayaan akal, maupun pengamatan langsung. Di kalangan pemikir Islam, intuisi tidak hanya disetarakan dengan akal dan indera, melainkan lebih dihargai dan diistimewakan daripada keduanya. Bagi al-Ghazali (2010), al-zawaq (intuisi) lebih tinggi dan lebih dipercaya daripada akal dalam menangkap pengetahuan yang diyakini benar.
Penggunaan akal dan intuisi secara integral dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan metode-metode yang digunakan untuk menggali pengetahuan. Metode-metode ini diyakini akan tumbuh dan berkembang melalui pemanfaatan akal dan intuisi. Intuisi dapat dimanfaatkan untuk memberikan pencerahan, konsentrasi, kontemplasi, dan imajinasi. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengembangkan tradisi ketiganya dalam menyusun atau mengembangkan konsep pendidikan Islam yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah di hadapan ilmu pengetahuan dan secara normatif jika disandingkan dengan wahyu.
3. Metode dialogis adalah upaya menggali pengetahuan pendidikan Islam yang dilakukan melalui karya tulis yang disajikan dalam bentuk percakapan antara dua orang ahli atau lebih. Percakapan ini didasarkan pada argumentasi-argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode ini memiliki landasan teologis yang jelas. Upaya untuk mencari jawaban-jawaban adalah upaya yang baik, baik menurut Islam maupun ilmu pengetahuan. Peristiwa sebagai wujud dialog telah dikemukakan dalam Al-Qur'an. Pendidikan Islam perlu dibicarakan dengan nalar untuk memperoleh jawaban yang signifikan dalam pengembangannya. Nalar membantu daya analisis yang tajam untuk meng-hadapi tantangan-tantangan ilmu pengetahuan. 11mu pendidikan Islam harus bertumpu pada gagasan -gagasan yang dialogis dengan pengalaman empiris yang terdiri atas fakta atau informasi untuk diolah menjadi teori yang valid dan menjadi landasan pengetahuan ilmiah.
3. Bagaiman hubungan antara epistemologi dengan manajemen pendidikan islam
Antara filsafat dengan teori pendidikan memiliki keterkaitan yang erat, karena hubungan keduanya hanya dapat dibedakan tidak dapat dipisahkan, berikut hubungan erat antara filsafat dengan teori pendidikan.
1. Filsafat pendidikan memberikan pandangan-pandangan filsafatnya kepada teori pendidikan, khususnya pandangannya tentang manusia, peserta didik, tujuan pendidikan, dan bagaimana seharusnya belajar.
2. Teori pendidikan sebagai sebuah disiplin ilmu yang otonom, sering menemui masalah- masalah yang membutuhkan bantuan filsafat pendidikan. Kadang-kadang pandangan filsafat pendidikan dapat mengubah teori pendidikan.
3. Jika suatu teori pendidikan tidak dipertanggungjawabkan secara filsafiah, khususnya yang berhubungan dengan hidup dan manusia maka akan melibatkan perlakuan yang tidak bertanggung jawab.
4. Pelaksanaan teori pendidikan sering memberikan bahan-bahan baru kepada filsafat pendidikan untuk direnungkan.
5. Teori pendidikan dapat membuat pandangan filsafat pendidikan yang cocok baginya, meskipun pandangan-pandangan tersebut harus diolah kembali.
Dari penjelasan di atas terlihat hubungan yang demikian erat antara keduanya. Keduanya saling mempengaruhi. Terdapat hubungan fungsional antara keduanya. Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan pula dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah salah satu pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori pendidikan. Pandangan filsafat-termasuk aliran filsafat- akan mempengaruhi bangunan teori.
2. Filsafat berfungsi untuk memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan, memiliki relevansi dengan dunia nyata. Teori yang dikembangkan itu setelah diarahkan oleh filsafat sesuai dengan kehidupan saat ini
3. Filsafat memberi arah terhadap penngembangan teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan.
BAB III
KESIMPULAN
Definisi epistemologi Sebagai subsistem filsafat, epistemologi menyimpan "misteri" pengertian yang tidak mudah dipahami. Para ahli pun tidak bisa menghindar dari perbedaan ketika mendefinisikannya, beberapa para ahli mengemukakan epistimologi.
Dari beberapa para ahli tersebut kita ketahui bahwa definisi epistemologi pada intinya adalah menyajikan pandangan yang saling melengkapi dan mengkritik tentang asal, hakikat, dan batas pengetahuan manusia, dari sini dapat dikesimpulkan fikiran tanpa isi adalah kosong, intuisi tanpa konsep adalah buta dengan demikian pengetahuan muncul dari interaksi kedua.
Perspektif pistemologi terhadap pendidikan islam pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan kesatuan kehidupan manusia dan masyarakat sebagai pelaksanaan dan realisasi fungsi khalifah dan ibadah.
Ada tiga metode dalam epistemologi pendidikan Islam, yaitu: rasional, intuitif, dialogis.
Hubungan antara filsafat dengan manajemen pendidikan islam Keduanya saling mempengaruhi. Terdapat hubungan fungsional antara keduanya. Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan
DAFTAR PUSTAKA