PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, moral, dan intelektual masyarakat. Sejak awal keberadaannya, pesantren telah menjadi pusat pembelajaran agama sekaligus pembinaan akhlak bagi para santri.[1] Dalam perkembangannya, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan tradisional, tetapi juga mengalami transformasi menjadi lembaga pendidikan yang lebih modern dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan globalisasi menuntut pondok pesantren untuk meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikannya. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem manajemen pendidikan yang baik agar pesantren mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya tanpa kehilangan identitas keislamannya.[2] Manajemen pendidikan menjadi kunci utama dalam mengatur seluruh kegiatan pendidikan, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi.

Manajemen pendidikan di pondok pesantren memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari lembaga pendidikan formal lainnya. Hal ini dikarenakan adanya nilai-nilai tradisional, kepemimpinan kiai yang kuat, serta sistem pembelajaran khas seperti sorogan dan bandongan.[3] Namun demikian, tidak sedikit pesantren yang masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya sistem administrasi yang profesional, serta minimnya pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan pendidikan.[4]

Selain itu, keberagaman tipe pesantren—baik yang bersifat salaf, khalaf, maupun kombinasi—menuntut adanya pendekatan manajemen yang fleksibel dan kontekstual. Pengelolaan kurikulum, tenaga pendidik, sarana prasarana, serta hubungan dengan masyarakat harus dilakukan secara sistematis agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.[5] Oleh karena itu, kajian mengenai manajemen pendidikan pondok pesantren menjadi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan daya saing lembaga tersebut.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan manajemen pendidikan di pondok pesantren?

2. Bagaimana penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam pengelolaan pendidikan di pondok pesantren?

3. Apa saja komponen utama dalam manajemen pendidikan pondok pesantren?

3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengertian manajemen pendidikan di pondok pesantren.

2. Untuk memahami penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam pesantren.

3. Untuk mengidentifikasi komponen utama dalam manajemen pendidikan pesantren.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Manajemen Pendidikan di Pondok Pesantren

Manajemen pendidikan di pondok pesantren adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan seluruh kegiatan pendidikan yang berlangsung di lingkungan pesantren untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.[6] Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional maupun modern memiliki karakteristik khas, sehingga manajemennya tidak hanya mencakup aspek administratif formal, tetapi juga nilai-nilai keagamaan, budaya, dan kepemimpinan khas kiai.[7]

Secara umum, manajemen pendidikan di pesantren mencakup beberapa aspek utama. Pertama, perencanaan (planning), yaitu proses merumuskan tujuan pendidikan, kurikulum, program pembelajaran, serta kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan visi pesantren.[8] Perencanaan ini biasanya mengintegrasikan antara ilmu agama (seperti fikih, tafsir, hadis) dan ilmu umum, terutama pada pesantren modern.[9]

Kedua, pengorganisasian (organizing), yaitu pengaturan struktur organisasi pesantren yang melibatkan kiai sebagai pemimpin tertinggi, ustaz/ustazah sebagai tenaga pendidik, serta santri sebagai peserta didik. Dalam tahap ini juga diatur pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab agar seluruh kegiatan berjalan terarah.[10]

Ketiga, pelaksanaan (actuating), yaitu implementasi dari seluruh rencana yang telah disusun. Ini meliputi proses belajar mengajar di kelas, pengajian kitab kuning, pembinaan akhlak, serta kegiatan keseharian santri di asrama.[11] Pelaksanaan pendidikan di pesantren sering kali berlangsung selama 24 jam, karena mencakup pembinaan kehidupan sehari-hari.[12]

Keempat, pengawasan (controlling), yaitu proses evaluasi dan monitoring terhadap seluruh kegiatan pendidikan untuk memastikan bahwa tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.[13] Pengawasan dilakukan baik secara langsung oleh kiai maupun oleh pengurus pesantren melalui berbagai bentuk evaluasi, seperti ujian, penilaian akhlak, dan kedisiplinan santri.[14]

Selain empat fungsi manajemen tersebut, manajemen pendidikan pesantren juga memiliki ciri khas, yaitu kuatnya peran kepemimpinan kiai sebagai figur sentral.[15] Kiai tidak hanya berfungsi sebagai manajer, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing spiritual, dan teladan bagi santri. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan disiplin menjadi landasan utama dalam pengelolaan pendidikan di pesantren.[16]

Dengan demikian, manajemen pendidikan di pondok pesantren merupakan sistem pengelolaan pendidikan yang memadukan prinsip-prinsip manajemen modern dengan tradisi dan nilai-nilai Islam, sehingga mampu membentuk santri yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak mulia dan mandiri.

2. Penerapan Fungsi-Fungsi Manajemen dalam Pengelolaan Pendidikan di Pondok Pesantren

Pengelolaan pendidikan di pondok pesantren tidak terlepas dari penerapan prinsip-prinsip manajemen modern, meskipun tetap berakar pada nilai-nilai tradisional Islam. Fungsi-fungsi manajemen yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling) menjadi landasan penting dalam memastikan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan di pesantren.

1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen yang berfungsi untuk menentukan tujuan, strategi, serta program yang akan dilaksanakan. Di pondok pesantren, perencanaan pendidikan mencakup penyusunan kurikulum, jadwal kegiatan santri, serta target pembelajaran baik dalam aspek keilmuan agama maupun umum.

Kurikulum di pesantren biasanya memadukan sistem tradisional seperti pengajian kitab kuning dengan sistem pendidikan formal. Perencanaan ini juga mencakup pembinaan karakter santri melalui kegiatan harian seperti shalat berjamaah, pengajian rutin, dan kegiatan sosial keagamaan. Peran kiai sebagai pemimpin sangat dominan dalam menentukan arah perencanaan pendidikan di pesantren.[17]

2. Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian merupakan proses pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab dalam suatu lembaga. Dalam konteks pesantren, struktur organisasi biasanya terdiri dari kiai sebagai pimpinan utama, dibantu oleh ustaz, pengurus harian, serta santri senior.

Pembagian tugas dilakukan untuk memastikan setiap aspek pendidikan berjalan dengan baik, mulai dari pengajaran, administrasi, hingga pengelolaan asrama. Pengorganisasian yang baik memungkinkan terciptanya koordinasi yang efektif antar bagian, sehingga kegiatan pendidikan dapat berlangsung secara sistematis.[18]

Selain itu, pesantren modern mulai menerapkan sistem organisasi yang lebih formal dengan adanya divisi-divisi seperti kurikulum, kesiswaan, dan sarana prasarana, tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khas pesantren.

3. Pelaksanaan (Actuating)

Pelaksanaan atau actuating merupakan proses menggerakkan seluruh sumber daya agar rencana yang telah disusun dapat terlaksana dengan baik. Dalam pesantren, pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pembelajaran di kelas, pengajian kitab, serta kegiatan ekstrakurikuler.

Kiai dan ustaz berperan sebagai motivator sekaligus teladan bagi santri. Pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat instruktif, tetapi juga persuasif dan spiritual. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, keikhlasan, dan kemandirian ditanamkan melalui praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari di pesantren.[19]

Keunikan pesantren terletak pada integrasi antara pendidikan formal dan nonformal, di mana proses pembelajaran berlangsung selama 24 jam dalam lingkungan yang terkontrol.

4. Pengawasan (Controlling)

Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang bertujuan untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Di pondok pesantren, pengawasan dilakukan secara langsung oleh kiai, ustaz, maupun pengurus.

Bentuk pengawasan meliputi evaluasi hasil belajar santri, disiplin harian, serta kepatuhan terhadap aturan pesantren. Evaluasi dilakukan secara berkala melalui ujian, musyawarah, dan laporan kegiatan. Sistem pengawasan di pesantren cenderung bersifat menyeluruh karena mencakup aspek akademik, moral, dan spiritual.[20]

Pengawasan yang efektif memungkinkan adanya perbaikan berkelanjutan dalam sistem pendidikan pesantren, sehingga kualitas lulusan dapat terus ditingkatkan.

Penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam pengelolaan pendidikan di pondok pesantren menunjukkan bahwa lembaga ini tidak hanya mengandalkan tradisi, tetapi juga mengadopsi prinsip-prinsip manajemen modern. Perencanaan yang matang, pengorganisasian yang jelas, pelaksanaan yang terarah, serta pengawasan yang ketat menjadi faktor utama dalam keberhasilan pendidikan pesantren. Dengan demikian, pesantren mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang kuat, tetapi juga memiliki karakter dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

3. Komponen Utama dalam Manajemen Pendidikan Pondok Pesantren

Manajemen pendidikan pondok pesantren merupakan suatu sistem pengelolaan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan prinsip-prinsip manajemen modern guna mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisien. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki karakteristik khas, seperti kepemimpinan kyai yang karismatik, sistem asrama (boarding system), serta kurikulum berbasis kitab klasik (kitab kuning). Oleh karena itu, pengelolaannya tidak hanya menitikberatkan pada aspek administratif, tetapi juga pada pembinaan moral dan spiritual santri.

1. Manajemen Kurikulum

Manajemen kurikulum dalam pondok pesantren mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembelajaran. Kurikulum pesantren secara tradisional berorientasi pada pengkajian kitab-kitab klasik dalam bidang fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak pesantren yang mengadopsi kurikulum nasional dengan memasukkan mata pelajaran umum seperti matematika, sains, dan bahasa asing.

Integrasi ini bertujuan agar santri tidak hanya memiliki kompetensi keagamaan, tetapi juga mampu bersaing di dunia modern. Oleh karena itu, pengelolaan kurikulum harus dilakukan secara adaptif dan kontekstual sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.[21]

2. Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)

Manajemen SDM di pesantren melibatkan pengelolaan kyai, ustadz, tenaga kependidikan, dan santri. Kyai sebagai pemimpin utama memiliki peran strategis dalam menentukan visi, misi, serta kebijakan pesantren. Ustadz berfungsi sebagai pelaksana proses pembelajaran yang berinteraksi langsung dengan santri.

Pengelolaan SDM meliputi proses rekrutmen, pelatihan, pengembangan profesional, serta evaluasi kinerja. Peningkatan kualitas tenaga pendidik menjadi hal penting agar proses pendidikan berjalan efektif dan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas baik secara intelektual maupun spiritual.[22]

3. Manajemen Kesiswaan (Santri)

Manajemen kesiswaan berfokus pada pengelolaan seluruh aktivitas santri sejak proses penerimaan hingga kelulusan. Pesantren menerapkan sistem pendidikan 24 jam yang mencakup kegiatan belajar, ibadah, serta pembinaan karakter.

Kegiatan seperti pengajian rutin, organisasi santri, serta kegiatan ekstrakurikuler menjadi bagian dari proses pembentukan kepribadian santri. Oleh karena itu, manajemen kesiswaan tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kemandirian.[23]

4. Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan merupakan aspek penting dalam menjamin keberlangsungan operasional pesantren. Pengelolaan ini meliputi perencanaan anggaran, penggalian sumber dana, penggunaan dana, serta pelaporan keuangan.

Sumber dana pesantren umumnya berasal dari iuran santri, wakaf, donasi masyarakat, serta bantuan pemerintah. Prinsip transparansi dan akuntabilitas harus dijunjung tinggi agar tercipta kepercayaan dari masyarakat dan para pemangku kepentingan.[24]

5. Manajemen Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung utama dalam proses pendidikan. Fasilitas seperti masjid, ruang kelas, asrama, perpustakaan, dan laboratorium harus dikelola secara optimal.

Pengelolaan sarana dan prasarana mencakup perencanaan kebutuhan, pengadaan, pemeliharaan, serta pengawasan penggunaan. Lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif akan meningkatkan efektivitas pembelajaran serta kesejahteraan santri.[25]

6. Manajemen Hubungan Masyarakat (Humas)

Pesantren memiliki hubungan erat dengan masyarakat sebagai basis sosialnya. Oleh karena itu, manajemen humas berperan dalam membangun komunikasi yang baik antara pesantren dengan masyarakat, alumni, pemerintah, dan lembaga lainnya.

Kegiatan seperti dakwah, bakti sosial, dan kerja sama pendidikan merupakan bentuk implementasi hubungan tersebut. Hubungan yang harmonis akan memperkuat eksistensi dan keberlanjutan pesantren.[26]

7. Manajemen Kepemimpinan

Kepemimpinan dalam pesantren umumnya bersifat sentralistik dengan kyai sebagai figur utama. Kepemimpinan kyai tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga spiritual dan kultural.

Kyai berperan sebagai pengasuh, pendidik, sekaligus teladan bagi santri. Dalam konteks modern, kepemimpinan pesantren perlu mengadopsi prinsip-prinsip manajemen partisipatif tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khas pesantren.[27]

BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Manajemen pendidikan pondok pesantren merupakan proses pengelolaan seluruh kegiatan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Keberhasilan pengelolaan pesantren sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kiai sebagai figur sentral yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan prinsip-prinsip manajemen modern.

Penerapan fungsi-fungsi manajemen di pondok pesantren telah menunjukkan bahwa sistem pendidikan pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas dan tradisi keislamannya. Melalui perencanaan yang matang, pengorganisasian yang jelas, pelaksanaan yang terarah, dan pengawasan yang berkelanjutan, pesantren dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi keilmuan, akhlak mulia, kemandirian, serta kesiapan menghadapi tantangan global.

Komponen-komponen utama dalam manajemen pendidikan pondok pesantren, seperti manajemen kurikulum, sumber daya manusia, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan masyarakat, serta kepemimpinan, saling berkaitan dan menjadi faktor penting dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren. Oleh karena itu, pengelolaan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas menjadi kunci keberhasilan pondok pesantren dalam menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Manajemen pendidikan pondok pesantren merupakan proses pengelolaan seluruh kegiatan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Keberhasilan pengelolaan pesantren sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kiai sebagai figur sentral yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan prinsip-prinsip manajemen modern.

Penerapan fungsi-fungsi manajemen di pondok pesantren telah menunjukkan bahwa sistem pendidikan pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas dan tradisi keislamannya. Melalui perencanaan yang matang, pengorganisasian yang jelas, pelaksanaan yang terarah, dan pengawasan yang berkelanjutan, pesantren dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi keilmuan, akhlak mulia, kemandirian, serta kesiapan menghadapi tantangan global.

Komponen-komponen utama dalam manajemen pendidikan pondok pesantren, seperti manajemen kurikulum, sumber daya manusia, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan masyarakat, serta kepemimpinan, saling berkaitan dan menjadi faktor penting dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren. Oleh karena itu, pengelolaan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas menjadi kunci keberhasilan pondok pesantren dalam menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

2. SARAN

Pengelola pondok pesantren diharapkan terus meningkatkan kualitas manajemen pendidikan dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang profesional tanpa menghilangkan nilai-nilai dan tradisi pesantren. Peningkatan kompetensi kiai, ustaz, dan tenaga kependidikan melalui pendidikan dan pelatihan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar mampu menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata. (2010). Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana.

Abuddin Nata. (2012). Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Arikunto, S. (2013). Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Departemen Agama RI. (2003). Pola Pengembangan Pondok Pesantren. Jakarta: Depag RI.

Dhofier, Z. (2011). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES.

Fattah, N. (2013). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hasbullah. (2009). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hasbullah. (2015). Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Hasibuan, M. S. P. (2016). Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2020). Pedoman Penyelenggaraan Pondok Pesantren. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Manullang, M. (2008). Dasar-Dasar Manajemen. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mastuhu. (1994). Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS.

Muhaimin. (2009). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Terry, G. R. (1972). Principles of Management. Homewood, IL: Richard D. Irwin.

[1] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 143.

[2] George R. Terry, Principles of Management, (Homewood: Richard D. Irwin, 1977), hlm. 4.

[3] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 55.

[4] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 89.

[5] Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren, (Jakarta: Depag RI, 2003), hlm. 23.

[6] George R. Terry, Principles of Management (Homewood: Richard D. Irwin, 1972), hlm. 4.

[7] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm. 44.

[8] George R. Terry, Principles of Management (Homewood: Richard D. Irwin, 1972), hlm. 4.

[9] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 58–60.

[10] M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001), hlm. 12.

[11] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 58–60.

[12] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm. 44.

[13] George R. Terry, Principles of Mangement (Homewood: Richard D. Irwin, 1972), hlm. 4.

[14] Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren (Jakarta: Depag RI, 2003), hlm. 23.

[15] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm. 44.

[16] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 58–60.

[17] George R. Terry, Principles of Management, (Homewood: Richard D. Irwin, 1972), hlm. 55.

[18] Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), hlm. 118.

[19] M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2008), hlm. 165.

[20] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 92.

[21] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009).

[22] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2012).

[23] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994).

[24] Suharsimi Arikunto, Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: Rineka Cipta, 2013).

[25] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2015).

[26] Kementerian Agama Republik Indonesia, Pedoman Penyelenggaraan Pondok Pesantren (Jakarta: Kemenag RI, 2020).

[27] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Jakarta: LP3ES, 2011).