PENDAHULUAN

A. KONTEKS PENELITIAN

Pendidikan pada hakikatnya merupakan pilar utama dalam pembentukan peradaban suatu bangsa. Dalam konteks Islam, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan sebuah upaya sistematis dalam pembentukan nilai, karakter, dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs). Namun, dinamika digitalisasi dan modernisasi global di abad ke-21 ini telah membawa pergeseran paradigma yang cukup signifikan dalam dunia pendidikan. Kurikulum formal saat ini cenderung terjebak pada pemenuhan aspek kognitif, pragmatisme pasar, dan pencapaian materialistis. Akibatnya, institusi pendidikan sering kali berhasil melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual dan miskin secara moral.

Dunia pendidikan Islam kontemporer tengah menghadapi tantangan dualisme dan dekadensi moral yang dilematis. Di satu sisi, modernisasi menuntut standarisasi kurikulum yang berorientasi pada aspek kognitif dan pragmatisme pasar kerja. Di sisi lain, terjadi krisis spiritualitas dan erosi akhlak (moral-decay) di kalangan pelajar, seperti plagiarisme, hilangnya rasa hormat kepada pendidik, hingga tawuran pelajar. Fenomena ini menunjukkan adanya mata rantai yang terputus (missing link) antara transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dan penanaman nilai (transfer of values). Kurikulum modern dinilai terlalu mekanistik dan administratif, sehingga melupakan substansi utama pendidikan Islam, yaitu membentuk manusia seutuhnya (insan kamil).

Di tengah kegamangan arah kurikulum modern ini, menengok kembali pemikiran para ulama klasik Nusantara menjadi sebuah urgensi yang tidak dapat ditunda. Salah satu tokoh sentral yang memilki pengaruh besar dan pemikiran pendidikan yang kokoh adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Melalui karya monumental beliau, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, beliau tidak hanya merumuskan teori, tetapi meletakkan fondasi kurikulum pendidikan berbasis karakter (adab) yang diterapkan secara sukses di Pesantren Tebuireng. Pemikiran beliau menawarkan konsep pendidikan yang integratif, di mana ilmu pengetahuan dan adab spiritualitas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan maha guru pesantren Nusantara, telah merumuskan sebuah mahakarya pedagogis monumental bertajuk Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Kitab ini secara spesifik menguraikan kode etik, epistemologi, dan tata laku spiritual yang wajib dimiliki oleh pendidik (‘alim) dan peserta didik (muta’allim). Nilai-nilai di dalamnya sejatinya merupakan sebuah bangunan kurikulum karakter yang berbasis rekonsiliasi etis-spiritual. Sayangnya, pemikiran dalam kitab ini sering kali hanya dipandang sebagai traktat moralitas individual yang dibacakan secara tradisional (metode sorogan atau wetonan) tanpa dibedah strukturnya sebagai sebuah sistem kurikulum yang utuh, integratif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Oleh karena itu, rekonstruksi model kurikulum pendidikan Islam berbasis perspektif beliau sangat urgensi untuk diteliti agar kurikulum di madrasah atau pesantren memiliki fondasi filosofis yang kuat dan relevan dengan tantangan zaman. Namun demikian, pemikiran-pemikiran KH. Hasyim Asy'ari yang sarat nilai filosofis tersebut selama ini sering kali hanya dikaji dari sudut pandang moral atau teologis normatif saja. Jarang sekali pemikiran beliau dibedah dan direkonstruksi menggunakan instrumen manajemen modern yang struktural. Agar pemikiran klasik beliau dapat diimplementasikan dan menjawab tantangan kelembagaan masa kini, diperlukan sebuah pisau analisis manajemen yang komprehensif.

Untuk menjembatani pemikiran klasik beliau dengan kebutuhan manajemen modern, peneliti memilih menggunakan model analisis CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam dengan menawarkan pendekatan evaluasi manajemen dan kurikulum yang holistik. Model CIPP biasanya digunakan sebagai alat evaluasi program di lapangan. Namun, dalam penelitian kajian pustaka ini, CIPP akan ditransformasikan fungsinya sebagai kerangka konseptual (framework analisis) untuk memetakan, mengkategorikan, dan mengorganisasikan teks-teks pemikiran KH. Hasyim Asy'ari. CIPP tidak hanya melihat hasil akhir (product), melainkan secara komprehensif membedah landasan kebutuhan (context), kesiapan instrumen dan SDM (input), dinamika implementasi (process), hingga dampak jangka panjang dari sebuah kurikulum.

Dengan membedah pemikiran beliau melalui dimensi Context (tujuan dan urgensi), Input (sumber daya manusia dan materi kitab), Process (metode pengajaran dan adab interaksi), serta Product (kriteria kelulusan dan output insan kamil), penelitian ini diharapkan dapat melahirkan sebuah formulasi baru berupa Model Kurikulum Perspektif KH. Hasyim Asy'ari. Model ini nantinya diharapkan dapat menjadi acuan teoretis-praktis bagi pengelola pendidikan Islam dalam merancang kurikulum yang modern secara struktural namun tetap salaf/klasik secara substansi nilai.

Melalui pendekatan CIPP, pemikiran etis K.H. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim tidak hanya dianalisis secara tekstual-historis, melainkan direkonstruksi secara struktural menjadi sebuah Model Kurikulum formal yang memiliki komponen tujuan, isi/materi, metode/proses, dan evaluasi yang terukur. Rekonstruksi ini penting agar nilai-nilai luhur kepesantrenan tersebut dapat diimplementasikan secara sistematis pada institusi pendidikan Islam modern (madrasah, sekolah Islam terpadu, maupun perguruan tinggi) demi menjawab tantangan krisis moral bangsa.

B. FOKUS PENELITIAN

1. Bagaimana karakteristik komponen kurikulum (Tujuan, Isi, Metode, Evaluasi) yang terkandung secara implisit maupun eksplisit dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH Hasyim Asy’ari?

2. Bagaimana analisis kritis terhadap pemikiran etis-pedagogis dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim ditinjau dari perspektif dimensi CIPP (Context, Input, Process, dan Product)?

3. Bagaimana bentuk rekonstruksi model kurikulum berbasis Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang adaptif, sistematis, dan relevan dengan tantangan pendidikan kontemporer berbasis kerangka CIPP?

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengidentifikasi dan memetakan karakteristik komponen kurikulum yang terdapat dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH Hasyim Asy’ari.

2. Untuk menganalisis secara mendalam teks dan konteks Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menggunakan pisau analisis evaluatif Model CIPP (Context, Input, Process, Product).

3. Untuk menghasilkan sebuah draf/desain rekonstruksi model kurikulum karakter yang berbasis nilai-nilai Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim dengan sistematika kerangka kerja CIPP yang siap diadaptasikan pada lembaga pendidikan Islam modern.

D. SIGNIFIKANSI DAN MANFAAT PENELITIAN

1. Signifikansi Penelitian (Urgensi Makro)

1. Signifikansi Epistemologis (Akademis/Ilmiah):

Penelitian ini memiliki signifikansi tinggi dalam menjembatani jurang pemisah (epistemological gap) antara tradisi pedagogik Islam klasik dengan ilmu manajemen kurikulum modern Barat. Selama ini, pemikiran tokoh pesantren seperti K.H. Hasyim Asy'ari sering kali berhenti pada tataran kajian tekstual-filosofis atau implementasi tradisional secara kultural. Penelitian ini mendobrak batasan tersebut dengan menempatkan Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim sebagai subjek formal yang dianalisis menggunakan model evaluasi sistemik CIPP (Context, Input, Process, Product). Hal ini membuka cakrawala baru bahwa khazanah lokal Nusantara mampu ditransformasikan menjadi model kurikulum formal yang terukur, ilmiah, dan diakui secara global.

2. Signifikansi Teoritis-Sosiologis:

Di tengah gempuran krisis moral kontemporer seperti pudarnya kesantunan akademik, plagiarisme digital, hingga komersialisasi Pendidikan penelitian ini signifikan dalam menawarkan resolusi teoritis baru. Rekonstruksi kurikulum berbasis akhlak ini memberikan fondasi teoritis kuat bagi konsep pendidikan karakter nasional. Penelitian ini membuktikan secara ilmiah bahwa reformasi moral pelajar tidak cukup hanya dengan menyisipkan materi budi pekerti, melainkan harus diintervensi melalui rekonstruksi sistem kurikulum yang utuh mulai dari hulu Context, Input, Process, Product.

2. Manfaat Penelitian (Kontribusi Mikro)

a. Manfaat Teoretis

1) Pengembangan Ilmu Kurikulum:

Menjadi referensi orisinal dalam pengembangan teori Kurikulum Pendidikan Islam Terintegrasi, khususnya dalam merumuskan indikator-indikator evaluasi pembentukan karakter berbasis model CIPP.

2) Studi Pemikiran Tokoh:

Memperkaya khazanah pustaka mengenai pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari, bukan sekadar dari sudut pandang sejarah atau teologi Islam, melainkan dari lensa Manajemen Pendidikan Islam Kontemporer.

b. Manfaat Praktis

1. Bagi Kementerian Agama (Kemenag) dan Pengambil Kebijakan:

Sebagai bahan pertimbangan dan rujukan strategis dalam menyusun kebijakan kurikulum berbasis Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) atau penguatan pendidikan karakter (character building) di lingkungan Madrasah ( RA, MI, MTs, MA) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

2. Bagi Pengelola Lembaga Pesantren dan Yayasan Pendidikan Islam:

Memberikan cetak biru (blue print) praktis mengenai bagaimana melakukan modernisasi manajemen dan kurikulum pesantren tanpa harus kehilangan ruh dan identitas kitab kuning. Draf rekonstruksi CIPP dalam penelitian ini dapat langsung diadopsi sebagai instrumen penjaminan mutu karakter santri.

3. Bagi Kepala Sekolah dan Pendidik (Guru/Dosen):

Menyediakan panduan implementatif operasional dalam mengelola interaksi belajar-mengajar di kelas. Pendidik mendapatkan format konkrit tentang bagaimana mentransformasikan ajaran etika K.H. Hasyim Asy'ari ke dalam langkah-langkah konkret pembelajaran (Process) dan indikator ketercapaian perilaku lulusan (Product).

4. Bagi Peneliti Selanjutnya:

Menjadi acuan, batu pijakan, atau pembanding bagi peneliti lain yang ingin merekonstruksi kitab-kitab klasik lainnya menggunakan model evaluasi manajemen modern yang berbeda (seperti model IPO, Kirkpatrick, atau Stake).

E. DEFINISI KONSEPTUAL

Untuk menghindari ambiguitas dan salah penafsiran terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam judul penelitian ini, peneliti merumuskan definisi konseptual sebagai berikut:

1. Model Kurikulum

Model kurikulum dalam penelitian ini adalah konstruksi teoritis yang mengorganisasikan seluruh komponen pendidikan secara sistematis. Model ini mencakup rumusan tujuan pembelajaran (apa yang ingin dicapai), organisasi isi/materi (apa yang diajarkan), strategi/metode implementasi (bagaimana diajarkan), dan sistem evaluasi (bagaimana ketercapaian diukur). Dalam konteks ini, model kurikulum yang dimaksud adalah hasil abstraksi sistemik dari nilai-nilai etis yang terkandung dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim.

2. Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim KH Hasyim Asy’ari

Sebuah karya monumental bidang pedagogik Islam yang ditulis oleh K.H. Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama). Kitab ini berfokus pada konsep epistemologi Islam sufistik yang menekankan bahwa keberkahan ilmu hanya dapat diraih melalui kesucian jiwa (tazkiyatun nafsi) dan penerapan kode etik (adab) yang ketat, baik oleh pendidik (‘alim) maupun peserta didik (muta’allim) di dalam maupun di luar majelis ilmu.

3. Analisis dan Rekonstruksi

a. Analisis: Proses membedah teks-teks klasik di dalam kitab secara kritis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kurikulum yang masih tersembunyi (implicit) maupun yang sudah tersurat (explicit).

b. Rekonstruksi: Proses menata ulang, memformulasikan, dan mengadaptasikan struktur pemikiran etis K.H. Hasyim Asy'ari ke dalam format kurikulum modern agar memiliki daya guna, fungsionalitas, dan aplikabilitas yang tinggi di lembaga pendidikan formal saat ini tanpa merusak esensi nilai aslinya.

4. Model CIPP (Context, Input, Process, Product)

Model evaluasi kurikulum dan manajemen yang dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam. Dalam penelitian ini, CIPP tidak digunakan untuk mengevaluasi program yang sedang berjalan di lapangan, melainkan diadopsi sebagai kerangka kerja analisis balik dan sintesis untuk membedah latar belakang kebutuhan (Context), kesiapan instrumen/SDM (Input), mekanisme internalisasi nilai (Process), dan standardisasi capaian lulusan (Product) dari rekonstruksi kurikulum yang dicanangkan.

F. ORISINALITAS PENELITIAN (PENELITIAN TERDAHULU)

Untuk menegaskan keaslian penelitian dan menghindari plagiarisme, peneliti melakukan telaah terhadap beberapa penelitian terdahulu yang memiliki kemiripan objek material (Kitab/Tokoh) atau objek formal (Model CIPP). Berikut adalah pemetaannya :

No.

Nama Peneliti dan Judul

Persamaan

Perbedaan

Orisinalitas Tesis

1

Rahmat (2022) Konsep Pendidikan Karakter Perspektif KH Hasyim Asy'ari dalam Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim

Meneliti objek material yang sama, yaitu Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim

Penelitian Rahmat hanya berfokus pada kajian teks filosofis-deskriptif mengenai nilai-nilai karakter tanpa mengaitkannya dengan sistem kurikulum formal

Tesis ini tidak sekadar mendeskripsikan nilai karakter, melainkan merekonstruksinya menjadi struktur kurikulum utuh (Tujuan, Materi, Metode, Evaluasi)

2

Sari (2023) Evaluasi Kurikulum Terintegrasi Pesantren dengan Model CIPP di MAN 1 Malang

Menggunakan objek formal yang sama, yaitu Model Evaluasi CIPP dari Daniel Stufflebeam

Penelitian Sari adalah penelitian lapangan (field research) untuk mengevaluasi kurikulum yang sudah berjalan di suatu madrasah

Tesis ini adalah penelitian pustaka (library research), di mana model CIPP digunakan sebagai pisau analisis teoritis untuk membangun sebuah draf kurikulum baru

3

Hidayat (2024) Rekonstruksi Pendidikan Pesantren Era Digital: Analisis Pemikiran Tokoh Kedepanan

Menggunakan pendekatan metode rekonstruksi pemikiran tokoh pendidikan Islam

Tokoh yang diteliti bersifat umum (lintas tokoh modern) dan fokus pada adaptasi teknologi digital secara makro

Tesis ini berfokus secara spesifik pada satu tokoh KH Hasyim Asy'ari dengan fokus rekonstruksi memakai pisau analisis CIPP

4

Zainuddin (2023) ”Konsep Epistemologi Pendidikan Islam Menurut K.H. Hasyim Asy'ari dan Relevansinya bagi Pendidikan Karakter di Madrasah"

Meneliti tokoh K.H. Hasyim Asy'ari dan pemikiran karakter etisnya

Penelitian Zainuddin berfokus pada analisis epistemologi filosofis secara makro tanpa membedah struktur kurikulum secara sistemik

Tesis ini mengkhususkan diri pada rekonstruksi manajemen kurikulum formal menggunakan instrumen yang terukur (Model CIPP)

5

Fathoni (2024)

"Evaluasi Program Kurikulum Tahfidz Al-Qur'an Berbasis Model CIPP Stufflebeam di Pondok Pesantren Modern"

Menggunakan kerangka kerja evaluasi model CIPP dari Daniel Stufflebeam

Penelitian Fathoni adalah riset evaluatif lapangan (field research) pada kurikulum hafalan Al-Qur'an yang sudah berjalan di lembaga tertentu

Tesis ini menggunakan model CIPP bukan sebagai alat evaluasi lapangan, melainkan sebagai cetak biru teoritis (framework) untuk merekonstruksi isi sebuah kitab klasik

G. KAJIAN PUSTAKA

1. Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim dan Pemikiran K.H. Hasyim Asy'ari

Kitab ini terdiri dari beberapa bab esensial yang mencakup: keutamaan ilmu dan ilmuwan, akhlak murid terhadap dirinya sendiri, akhlak murid terhadap gurunya, akhlak murid terhadap pelajaran, akhlak guru terhadap dirinya sendiri, akhlak guru saat mengajar, serta akhlak bersama buku/literatur. Pemikiran beliau berakar pada epistemologi Islam sufistik-kondisional yang menempatkan kesucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebagai prasyarat mutlak dalam memperoleh ilmu yang berkah (nafi’).

2. Teori Pengembangan dan Evaluasi Kurikulum Model CIPP (Daniel Stufflebeam)

Model CIPP dipandang sebagai pendekatan evaluasi kurikulum yang berorientasi pada perbaikan (improvement-oriented approach). Dalam tesis ini, CIPP digunakan sebagai kerangka kerja analisis balik sekaligus cetak biru rekonstruksi:

1. Context (Konteks): Menganalisis latar belakang kebutuhan, permasalahan moral, relevansi lingkungan, dan tujuan dasar mengapa model kurikulum etis ini harus dihadirkan.

2. Input (Masukan): Menganalisis kesiapan sumber daya manusia (kualifikasi pendidik), karakteristik peserta didik, materi (isi kitab), sarana, dan strategi pendukung kurikulum.

3. Process (Proses): Menganalisis bagaimana interaksi pembelajaran, penerapan metode transfer nilai, kendala lapangan, dan pembiasaan etika dijalankan di ruang kelas/lingkungan sekolah.

4. Product (Hasil): Menganalisis ketercapaian kompetensi lulusan, perubahan perilaku (moral outcome), keberlanjutan dampak akhlak, serta internalisasi nilai kesantunan akademik.

3. Konsep Rekonstruksi Kurikulum

Rekonstruksi kurikulum adalah proses menata kembali, memperbarui, dan memformulasikan ulang komponen-komponen kurikulum lama agar memiliki daya fungsional, adaptabilitas, dan efisiensi yang lebih tinggi tanpa merusak nilai fundamental kebenaran asalnya.

H. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis Penelitian Kepustakaan (Library Research) dan studi pemikiran tokoh. Pendekatan yang digunakan adalah Analisis Isi (Content Analysis) yang bersifat filosofis-pedagogis, serta pendekatan sistem untuk membedah komponen kurikulum lewat model CIPP.

1. INSTRUMEN PENELITIAN

Dalam penelitian kualitatif kepustakaan (library research), instrumen utamanya adalah peneliti sendiri (human instrument). Peneliti bertindak sebagai perencana, pengumpul, penganalisis, penafsir data, hingga menjadi pelapor hasil penelitian. Namun, untuk menjaga objektivitas, validitas, dan keandalan data, peneliti memerlukan instrumen bantu berupa Pedoman Dokumentasi Analisis Isi (Content Analysis Documentation Guide). Instrumen bantu ini disusun berdasarkan sintesis antara komponen kurikulum kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim dengan dimensi Model CIPP (Context, Input, Process, Product).

Berikut adalah Kisi-Kisi Instrumen Analisis Teks Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim Berbasis Model CIPP:

1. Matriks Kisi-Kisi Instrumen Penelitian

Dimensi CIPP

Indikator Analisis Kurikulum

Fokus Penelusuran Teks Kitab

Context

* Landasan/Rasionalitas

* Tujuan Kurikulum

* Relevansi Lingkungan

* Latar belakang urgensi menuntut ilmu dan menjaga etika.

* Tujuan hakiki pendidikan (spiritual & intelektual).

* Kebutuhan sosial dan keagamaan masyarakat

Input

* Karakteristik Pendidik

* Karakteristik Peserta Didik

* Karakteristik Materi/Isi

* Syarat etis, spiritual, dan intelektual seorang Guru

* Kesiapan mental dan adab yang harus dimiliki Murid.

* Klasifikasi literatur atau jenis ilmu yang berkah.

Process

* Strategi Pembelajaran

* Metode Internalisasi Nilai

* Manajemen Kelas & Lingkungan

* Adab guru saat mengajar dan berinteraksi.

* Metode pembiasaan (habituasi) akhlak di dalam majelis

* Cara mengatasi kendala atau pelanggaran etika belajar.

Product

* Kompetensi Lulusan

* Indikator Keberhasilan

* Dampak Jangka Panjang

* Profil lulusan ideal (‘alim yang ‘amil / berilmu dan beramal).

* Perubahan perilaku etis dan spiritual murid.

* Keberlanjutan kemanfaatan ilmu di tengah masyarakat.

2. Lembar Kerja Instrumen (Format Dokumentasi Data)

Saat membaca lembar demi lembar Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim, peneliti akan menggunakan lembar kerja (kartu data) dengan format sebagai berikut untuk melakukan Kondensasi Data:

1. Kode Data: C-01 (Contoh: Context - Data ke 1)

2. Bab/Halaman Kitab: Bab 1 / Halaman 12

3. Kutipan Teks Asli (Arab/Terjemahan): "..."

4. Kategori Dimensi CIPP: Context / Input / Process / Product

5. Analisis & Reduksi Peneliti: (Uraian singkat peneliti mengenai arti teks tersebut jika dihubungkan dengan komponen kurikulum modern).

3. Instrumen Rekonstruksi Kurikulum (Output Akhir)

Setelah data teks diklasifikasikan, peneliti menggunakan instrumen akhir berupa Matriks Sintesis Rekonstruksi untuk merancang model kurikulum baru:

Dimensi CIPP

Konsep Asli kitab (Turats)

Hasil rekonstruksi menjadi Model Kurikulum Modern

Context

Etika mencari ilmu demi ridho Allah dan membersihkan jiwa dari kebodohan

Tujuan Kurikulum: Menghasilkan lulusan yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan kesucian spiritual (Intelektual-Sufistik).

Input

Guru harus berwudhu’, bersuci, dan berniat ikhlas sebelum mengajar.

Kualifikasi Pendidik: Guru wajib memiliki kompetensi kepribadian dan spiritual yang tersertifikasi secara internal (bukan hanya kompetensi pedagogis).

Process

Murid mendengarkan dengan khusyuk dan tidak memotong pembicaraan guru

Metode Pembelajaran: Penerapan metode Habituasi Etika Akademik dan Mentoring interpersonal interaktif

Product

Ilmu yang bermanfaat (nafi’) dan mendatangkan keberkahan hidup.

Standar Kelulusan: Penilaian kelulusan tidak hanya berbasis IPK/Nilai Angka, melainkan portofolio rekam jejak akhlak dan pengabdian masyarakat.

J. DATA DAN SUMBER DATA

1. Data primer merupakan sumber data utama yang memiliki otoritas tertinggi dan menjadi objek langsung dalam analisis isi penelitian ini, meliputi:

a) Kitab asli Adabul 'Alim wal Muta'allim karya K.H. Hasyim Asy'ari penerbitnya

b) Terjemahan resmi Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim yang diakui dan diterbitkan oleh institusi resmi

2. Data sekunder berfungsi sebagai data pendukung, pisau analisis, serta instrumen pembanding untuk melakukan rekonstruksi kurikulum, meliputi:

a) Literatur utama mengenai teori Manajemen Kurikulum dan Model Evaluasi CIPP karya Daniel Stufflebeam (seperti buku Systematic Evaluation dan The CIPP Model for Evaluation).

b) Buku-buku biografi resmi K.H. Hasyim Asy'ari dan sejarah berdirinya Pesantren Tebuireng guna memahami setting sosial-historis penulisan kitab.

c) Artikel, jurnal ilmiah nasional maupun internasional, serta tesis/disertasi terdahulu yang relevan dengan pemikiran pedagogis K.H. Hasyim Asy'ari dan aplikasi model CIPP.

d) Dokumen Kebijakan Pendidikan Nasional kontemporer, mencakup UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Standar Nasional Pendidikan (SNP), serta regulasi terbaru Kementerian Agama mengenai kurikulum pendidikan karakter berbasis moderasi beragama dan akhlak karimah.

K. PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi dengan metode kategorisasi tematik literatur. Langkah-langkah sistematis yang ditempuh oleh peneliti meliputi:

1. Eksplorasi Naskah (Close and Comprehensive Reading):

Peneliti melakukan pembacaan secara menyeluruh, mendalam, dan berulang terhadap teks asli beserta terjemahan Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya K.H. Hasyim Asy'ari untuk menangkap keutuhan gagasan filosofis-pedagogis yang terkandung di dalamnya.

2. Kondensasi Konten (Data Extracting & Isolating):

Peneliti menandai, memilah, dan mengisolasi paragraf, frasa, atau teks bahasa Arab asli yang secara substansial memuat indikator dan unsur-unsur pembentuk sistem kurikulum, sekaligus menyingkirkan teks materi yang tidak relevan dengan fokus penelitian.

3. Kategorisasi CIPP (Thematic Coding):

Peneliti melakukan pengodean (coding) dengan mengelompokkan data teks yang telah diisolasi ke dalam 4 dimensi instrumen evaluasi sistemik, yaitu: Matriks Konteks (Context), Matriks Masukan (Input), Matriks Proses (Process), dan Matriks Produk (Product).

L. ANALISIS DATA

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis kualitatif interaktif sebagaimana yang dikembangkan oleh Miles, Huberman, dan Saldaña. Proses analisis ini dilakukan secara bersamaan, fleksibel, dan saling berinteraksi selama penelitian berlangsung.

Proses analisis data kualitatif tersebut dijabarkan ke dalam langkah-langkah sistematis sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data (Data Collection)

Langkah awal dari rangkaian analisis ini adalah menghimpun seluruh data mentah dari sumber-sumber teoritis. Karena penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), proses data collection dilakukan secara tekstual dengan metode dokumentasi.

Aktivitas: Peneliti mengumpulkan, membaca, dan mentranskripsikan teks-teks dalam Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya K.H. Hasyim Asy’ari sebagai data primer, serta buku, jurnal, dan dokumen kurikulum CIPP sebagai data sekunder.

Sifat Analisis: Pada tahap ini, peneliti sudah mulai melakukan analisis awal dengan cara menandai kalimat, paragraf, atau bab dalam kitab yang memuat indikator-indikator kurikulum (seperti tujuan pendidikan, peran guru, metode mengajar, dan capaian lulusan).

2. Kondensasi Data (Data Condensation)

Data mentah berupa ratusan lembar teks kitab yang telah dikumpulkan pada tahap data collection kemudian dipilah dan dipadatkan.

Aktivitas: Peneliti melakukan pemilihan (selecting), pemfokusan (focusing), penyederhanaan (simplifying), dan pengabstrakan (abstracting). Teks-teks kitab yang tidak relevan dengan struktur kurikulum disingkirkan, sedangkan teks yang bermakna mendalam mengenai etika pedagogis diringkas dan diberi kode (coding) berdasarkan dimensi CIPP (Context, Input, Process, Product).

3. Penyajian Data (Data Display)

Setelah data dikondensasikan, data tersebut diorganisasikan ke dalam bentuk yang terstruktur agar hubungan antar-komponennya terlihat jelas.

Aktivitas: Peneliti menyajikan data hasil kondensasi ke dalam bentuk Matriks Sintesis Rekonstruksi Kurikulum. Matriks ini menyandingkan teks etika kepatutan dari kitab dengan komponen kurikulum modern Barat (CIPP). Penyajian dalam bentuk matriks naratif ini memudahkan peneliti untuk melihat bagaimana konsep klasik abad ke-20 dapat ditransformasikan ke dalam dokumen kurikulum formal abad ke-21.

4. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing and Verification)

Langkah terakhir adalah merumuskan makna dari data yang telah disajikan untuk menjawab rumusan masalah.

Aktivitas: Peneliti menarik kesimpulan teoritis berupa rancangan utuh "Model Kurikulum Berbasis Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim. Kesimpulan awal yang ditarik senantiasa diverifikasi kembali dengan cara membaca ulang teks asli kitab, melakukan triangulasi sumber pustaka, serta mendiskusikannya dengan dosen pembimbing atau pakar kurikulum Islam untuk memastikan keabsahan rekonstruksi yang dibuat.

M. PENGECEKAN DAN KEABSAHAN DATA

Untuk menjamin keaslian, ketepatan, dan keabsahan hasil rekonstruksi kurikulum dari pemikiran K.H. Hasyim Asy'ari ini, peneliti menggunakan beberapa teknik pengecekan keabsahan data sebagai berikut:

1. Triangulasi Sumber Pustaka (Source Triangulation)

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan dan mengecek balik data yang diperoleh dari suatu sumber pustaka dengan sumber pustaka lainnya.

Penerapannya: Peneliti menguji konsistensi isi Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim (sebagai data primer) dengan cara membandingkannya dengan karya-karya K.H. Hasyim Asy'ari yang lain (seperti Risalah Ahlussunnah Wal Jama'ah), biografi resmi beliau, serta catatan sejarah mengenai praktik pembelajaran di Pesantren Tebuireng pada masa hidup beliau (sebagai data sekunder). Jika pemikiran di kitab selaras dengan praktik sejarahnya, maka data tersebut valid.

2. Triangulasi Teori (Theory Triangulation)

Teknik ini dilakukan dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas dan menginterpretasikan data yang sama agar tidak bias pada satu sudut pandang saja.

Penerapannya: Saat melakukan rekonstruksi kurikulum, peneliti tidak hanya mengunci analisis pada Model CIPP Daniel Stufflebeam secara kaku, tetapi juga menyandingkannya dengan teori-teori pengembangan kurikulum kontemporer lainnya (seperti Teori Pengembangan Kurikulum Hilda Taba atau Ralph Tyler) serta Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang berlaku saat ini. Hal ini memastikan draf kurikulum hasil rekonstruksi benar-benar kokoh secara akademis.

3. Ketekunan Pengamatan Teks (Prolonged Engagement & Persistent Observation)

Dalam penelitian pustaka, ini berarti peneliti melakukan pembacaan secara berulang-ulang, mendalam, dan teliti (hermeneutika) terhadap teks-teks kitab.

Penerapannya: Peneliti tidak hanya membaca terjemahan, melainkan menelaah struktur teks asli berbahasa Arab dalam Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim Peneliti secara tekun mencari makna implisit (tersirat) di balik pilihan kata (dhamir atau istilah) yang digunakan oleh K.H. Hasyim Asy'ari, sehingga pemaknaannya tidak dangkal atau salah tafsir saat dimasukkan ke dalam dimensi CIPP.

4. Diskusi Teman Sejawat & Konfirmasi Pakar (Peer Debriefing & Expert Judgment)

Teknik ini dilakukan dengan mengekspos hasil draf analisis dan rekonstruksi kurikulum kepada orang lain yang dipandang mampu memberikan masukan kritis.

Penerapannya: Peneliti mendiskusikan hasil kondensasi data dan draf matriks CIPP dengan rekan sesama mahasiswa pascasarjana, dosen pembimbing, pakar Manajemen Kurikulum, serta kiai/akademisi yang ahli dalam bidang turats (kitab kuning) pesantren. Masukan dan koreksi dari para ahli ini menjadi dasar verifikasi akhir keabsahan model kurikulum yang dibangun.