ABSTRAK

Filsafat berasal dari bahasa Yunani, adalah cinta akan pengetahuan dan kebenaran. Filsafat pendidikan adalah ilmu yang membahas berbagai aspek dalam bidang pendidikan. Fungsi filsafat dalam konteks ini mencakup aspek spekulatif, normatif, kritik, teori, praktik, dan integratif. Pendidikan Islam, sebagai bagian integral dari filsafat pendidikan, memiliki tujuan untuk membimbing manusia dalam mencari kebenaran, menghormati nilai-nilai transendental, dan membentuk pribadi muslim yang berakhlak karimah.Artikel ini menggunakan metode penelitian library research untuk menggali pengetahuan dari berbagai sumber literatur. Tahap-tahap metode ini mencakup pemilihan topik penelitian, pengumpulan sumber informasi relevan, evaluasi kredibilitas sumber, analisis, dan interpretasi hasil. Pada bagian hasil dan pembahasan, artikel ini membahas konsep ontologi dalam pendidikan Islam. Ontologi mengeksplorasi hakikat pendidikan, epistemologi berfokus pada sumber pengetahuan dan metode pendidikan. Kesimpulannya, filsafat pendidikan, dengan ontologi, memberikan kerangka yang kuat untuk memahami dan membimbing pendidikan Islam.

Kata Kunci: Ontologi, Filsafat Pendidikan Islam.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nyalah makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulisan naskah yang berjudul “Pendidikan Islam Dalam Perspektif Ontologi” ini dalam rangka pengembangan salah satu tri darma perguruan tinggi, yaitu bidang penelitian.

Penulis Menyadari bahwa tulisan ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, semua kritik dan saran pembaca akan penulis terima dengan senang hati demi perbaikan lebih lanjut.

Tulisan ini dapat penulis selesaikan berkat adanya bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, terutama dosen dan teman teman semuanya yang telah memberikan masukan dalam Menyusun naskah ini. Akhimya, semoga tulisan yang jauh dari sempuma ini ada manfaatnya.

Bondowoso, 24 Oktober 2025

Penulis

DAFTAR ISI

Cover I

Abstrak II

Kata pengantar III

Daftar Isi IV

BAB I PENDAHULUAN 1

1. Latar Belakang 1

2. Rumusan Masalah 1

3. Tujuan 2

4. Manfaat 2

BAB II PEMBAHASAN 3

1. Pengertian Pendidikan Islam 3

2. Pengertian Ontologi 7

3. Aspek Ontologi Dalam Pendidikan Islam di Indonesia 8

4. Esensi ontologi dalam pendidikan Islam 10

BAB III PENUTUP 12

Daftar Pustaka 13

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Islam merupakan agama yang dapat klasifikasikan sebagai agama terbesar dan dianut banyak umat manusia di dunia yang tersebar di berbagai kepingan dunia (Hakim & Mubarok, 2017). Keberadaan umat Islam dulu, kini dan seterusnya tidak terlepas dari sebuah pedoman hidup yang memiliki keautentikan yang selalu terjaga hingga hari kiamat, diagungkan dengan kekuasaan Allah SWT, kitab suci yang tidak pernah tercampur dengan kebohongan, dari mana pun asalnya (Anggoro & Muhyiddin, 2019). Serta menyandarkan hidup kepada pedoman tersebut adalah sebuah keharusan untuk menggapai ridho Illahi dan mempermudah jalan bagi yang mempedomaninya ke dalam surga. Oleh karena itu dengan turunnya Al-Qur’an bertujuan membimbing dan memberikan pegangan kehidupan yang tidak terbantahkan, Al-Qur’an memberikan berbagai prinsip yang sistematis serta ajaran terintegral kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad Saw.

Ilmu pengetahuan sebagai instrumen pembantu dalam menjelaskan isi kandungan Al-Qur’an memperoleh tempat yang fundamental, dialog Al-Quran menggunakan konsep universal seperti sains (Zainiyati, 2014). Islam terutama dalam hal sains dan teknologi Ini adalah agama yang selalu mendorong menjadi manusia berpengetahuan, kemudian Al- Qur’an melihat dengan jelas pendidikan merupakan masalah terpenting dalam membangun, memperbaiki situasi umat manusia dikehidupan ini (Lubis & Anggraeni, 2019).

Pendidikan Islam dengan titik tekanan yang berbeda dari pendidikan umum lainnya, untuk memahami konsepnya perlu mengambil perspektif yang berbeda. Maka dengan itu sepenuhnya dapat dipahami, terutama oleh semua pendidik dan siswa. Pendidikan umum tertuju pada rasionalitas dan kepraktisan, sedangkan pendidikan menumbuhkan sikap yang diciptakan oleh Iman dan taqwa lebih didahulukan (Sulasmi, Akrim, & Gunawan, 2019).

Tujuan yang ingin dicapai dalam proses pemutakhiran normatif dan nilai Al-Qur'an dalam pendidikan mengandung tiga aspek harus diperhatikan,dibesarkan oleh pendidikan. Pertama adalah tingkat spiritual, kedua dimensi budaya dan ketiga dimensi kecerdasan yang membawa perkembangan. Oleh karena itu, disebutkan bahwa nilai-nilai Al-Qur'an yang terkandung adalah realitas, nilai kebenaran (ahli metafisika dan ilmuwan) dan nilai moral yang sangat besar. Nilai-nilai dari keduanya akan membimbing dirinya dan orang banyak dalam kehidupan.

2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian pendidikan islam menurut para tokoh.?

2. Bagaimana definisi ontologi menurut beberapa filfuf.?

3. Bagaimana perspektif ontologi terhadap pendidikan islam.?

4. Seperti apa Esensi ontologi dalam pendidikan Islam.?

3. Manfaat

1. Bisa memahami dan mengetahui pengertian pendidikan islam menurut para tokoh.

2. Bisa mengetahui definisi ontologi menurut beberapa filfuf.

3. Bisa mengetahui perspektif ontologi terhadap pendidikan islam.

4. Dapat mengetahui Esensi ontologi dalam pendidikan Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian pendidikan islam

Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem. Definisi tradisional menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Sama Hal nya Menurut Lahmuddin Lubis yang menjelaskan bahwa Pendidikan Islam dapat diartikan pendidikan yang seluruh aspeknya visi, misi, tujuan, proses belajar mengajar, pendidik, peserta didik, sarana prasarana, pembiayaan, pengelolaan, lingkungan, evaluasi dan sebagainya haruslah didasarkan pada ajaran Islam tersebut. Pendidikan yang demikian itulah yang disebut pendidikan Islam atau pendidikan yang Islami.

Pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa Muslim yang bertakwa Pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa Muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. dari beberapa pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa pendidikan islam adalah suatu sistem yang menyatakan seperangkat komponen dan unsur-unsur dimana seluruh aspeknnya visi, misi, tujuan serta proses belajar mengajar dalam upaya secara sadar mengarah dan membimbing pertumbuhan berdasarkan ajaran islami.

2. Pengertian Ontologi

The theory of being qua being yaitu ilmu yang mengakui akan keberadaan, secara etimologi ontologi dapat dimaknai sebagai sesuatu yang ada. Ontologi adalah bagian paling umum dari filsafat sedangkan metafisika adalah salah satu bab kajian dari filsafat. Secara universal istilah ontologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mengeksplorasi tentang esensi dari segalanya, inti dari penelitian ontologi yaitu menjelaskan keadaan sebenarnya, bukan keadaan sementara yang terus mengalami perubah (Zaqiah & Rusdiana, 2014).

Sesudah mengeksplorasi terutama pada bagian primer terhadap kajian ilmu filsafat, misalnya pengetahuan, moral dan sosial, kehutanan, manusia serta dunia dan alam semesta, lalu adanya eksplanasi terkait ontologi. Ontololgi akan sangat sulit untuk dipahami jika terjadi pemisahan dari urutan-urutan bagian filsafat lainnya. Ontologi membahas terkait objek yang dikaji, bagaimana wujud fundamental dan hubungannya dengan menggunakan daya pikir. Secara ontologis, ilmu membatasi lingkup ulasan keilmuannya hanya dalam wilayah yang berada dalam jangkauan pengetahuan manusia (Nasution, 2016).

Dengan demikian, objek penganalisisian yang berada pada wilayah pra pengalaman (misalnya proses penciptaan manusia) atau pasca pengalaman (misalnya hidup setelah kematian) tidak meliputi pembahasan dalam kajian ontologi. Adapun yang menjadi dasar ontologi ilmu yaitu analisis objek material dari ilmu tertentu yang merupakan hal-hal yang berkaitan dengan objek empiris (berdasarkan pengalaman). Analisis proses terbentuknya ilmu adalah landasan epistimologi ilmu.

فَلََٓ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنََۙ ؕ وَمَا لََ تُبْصِرُوْنََۙ

“Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat.” ( Q.S Al-Haqqah: 38-39)

Berkaitan dengan Firman Allah Swt Q.S Al-Al-haqqah ayat 38-39 tersebut M. Quraish Shihab mengungkap bahwa ada keabsahan yang tidak mampu dicapai oleh indera manusia, sehingga dengannya tidak bisa dilakukan pengamatan serta percobaan. Jika melihat persepsi ideologi dari sudut pandang Islam adalah sistem kepercayaan yang penuh dengan nilai-nilai ketuhanan yang intisarinya adalah nilai kebenaran mutlak yang berfungsi sebagai panduan sikap dan menentukan wawasan setiap Muslim (Inayah, 2018).

Mengimani sebuah sistem kepercayaan dengan inti ilahi memandu setiap insan ke dalam wawasan yang benar tentang kehidupan dunia dan akhirat. Setiap dogma wawasannya bersumber dari wahyu Tuhan maka setiap kebenaran yang terdapat tidak bisa diragukan, sebab itu bukanlah hasil opini dan manipulasi manusia, tetapi melainkan sebuah keyakinan yang berisi wahyu dari Tuhan. Wawasan ketuhanan merupakan dasar dari pendidikan Islam. Semua kegiatan pendidikan Islam diilhami dan difokuskan pada keyakinan akan keesaan Tuhan dan membentuk apersepsi manusia akan kedudukannya sebagai hamba (Samho, 2019).

Instruksi dalam membaca dari Al-Qur'an, terutama ayat pertama membumi (Iqra’) adalah sebuah kewajiban dan keharusan dimulai dengan menyebut nama Allah Swt. Dapat dipahami bahwa ayat tersebut memberikan aksentuasi bahwa setiap keaktifan menganalisis kelimuan seharusnya berpedoman dengan fondasi ketuhanan. Karena hakikat dasar ilmu adalah asas pengkuhan keimanan kepada sang maha pencipta Allah Swt serta adanya interpretasi Yang Maha Suci merupakan sentral teori ilmu pengetahuan Islam. Memiliki pola pikir Islam sebuah keyakinan yang absolut bahwa segala sesuatu bersumber dari yang satu yaitu Allah Swt (AKRIM, 2022).

3. Aspek Ontologi Dalam Pendidikan Islam di Indonesia

Persoalan ontologi merupakan persoalan “ada” atau hakekat, substansi awal dalam filsafat pendidikan Islam. Lazimnya, persoalan ontologi selalu dimulai dengan pertanyaan “apa”, seperti contoh apa itu pendidikan, apa itu filsafat, dan sebagainya. Persoalan ini dianggap penting sebagai pijakan awal Untuk mengkaji persoalan-persoalan yang akan muncul berikutnya. Islam sebagai agama yang kita pedomani mempersyaratkan ketauhidan sebagai awal membuka pengetahuan-pengetahuan selanjutnya. Syarat ini diwujudkan dengan dua kalimat syahadat sebagai ikrar kesetiaan dan janji serta pengakuan manusia kepada sang pencipta-Nya atas pengetahuan awal yang dimilikinya.

Purwanto berpendapat makna pokok kalimat syahadat adalah pembebasan dari belenggu kepercayaan, disusul kepercayaan kepada Allah, Tuhan yang sebenarnya, demi keteguhan dan kelestarian kebebasan itu sendiri. Pengetahuan yang dimaksud adalah tiada Tuhan yang mencipta selain Allah Swt, dan Muhammad Saw., sebagai utusan pembawa pengetahuan tersebut ke dunia. Informasi tentang syarat yang diikrarkan oleh manusia kepada pencipta-Nya tersebut membawa ke persoalan pendidikan, tentang bagaimana bentuk setia, janji dan pengakuan manusia, dalam pendidikan Islam. Dalam Islam, kesetian, janji dan pengakuan, diwujudkan dalam tiga hal pokok yakni, Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya merupakan satu kesatuan pendidikan yang penting, dan mutlak ditanamkan pendidik kepada peserta didik.

Pertama, rumusan tujuan pendidikan Islam yang secara umum diorientasikan untuk membentuk insan kamil (abdullah dan khalifah Allah). Konsepsi tujuan ini adalah konsekuensi logis dari al-Qur’an yang memproyeksikan manusia untuk mengabdi kepada Allah dan menjadi khalifah Nya. Tujuan ini tidak hanya mengandung dimensi normatif pada pembetukan religious beings, tetapi juga mencakup pada pembentukan manusia sebagai historical beings yang memiliki kesadaran dalam konteks sosial yang berhadapan dengan dimensi dimensi multikultural, seperti gender, ras, agama, politik, dan budaya15. Implikasi dari fenomena di atas adalah bahwa konstruksi kegiatan pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada pembangunan moral semata, tetapi juga perlu melihat aspekaspek lain yang cukup dominan dalam mengarahkan peserta didik dalam menjalani aktivittas sosialnya.

Kedua, analisa ontologis terhadap pendidikan Islam tampak pada lahirnya teori fitrah dalam pendidikan. Fitrah berarti potensi yang dimiliki manusia untuk menerima agama, iman, dan tauhid serta perilaku suci. Meski semua manusia memiliki potensi ini tidak serta merta secara aktual tewujud dalam kenyataan. Dalam perkembangannya, potensi yang berwujud fitrah dapat tertutupi oleh polusi jika tidak mendaptkan perhatian secara seksama, karena fitrah bisa bertambah atau berkurang. Dan di sinilah arti penting pendidikan Islam.

dalam teori tabula rasa, manusia dipandang sebagai kertas putih bersih yang terbebas dari coretan. Lingkunganlah yang mengisi coretan dalam kertas putih tersebut. Artinya, manusia terlahir dalam keadaan pasif. Sebaliknya, fitrah memandang manusia lebih dari ibarat kertas putih dan bersih, karena dalam diri manusia terdapat potensi yang terbawa sejak lahir, yakni daya untuk menerima agama atau tauhid. Perbedaan yang signifikan antara konsep fitrah dan teori tabula rasa terletak pada konsepsi manusia, apakah ia pasif atau memiliki potensi aktif sejak lahir. Dalam tabu larasa, manusia adalah pasif dalam kelahirannya, sementara fitrah mengakui bahwa manusia memiliki potensi aktif dalam kelahirannya. Meski demikian, konsepsi fitrah tidak menafikan pengaruh lingkungan terhadap pembentuk karakter manusia. Lingkungan hanya dianggap salah satu faktor yang bisa menjadi bertambah atau berkurangnya fitrah tersebut. Lingkungan yang biasa disebut intervensi pendidikan memiliki andil dan kontribusi besar dalam mewujudkan cita-cita fitrah dalam diri peserta didik.

Pendidikan ber-Islam merupakan jawaban pertama atas persoalan ontologis dalam Pendidikan Islam. Ber-Islam berarti menyerahkan diri sepenuhnya dan menerima seluruh konsekuensi secara sempurna dalam ajaran Islam. Pendidikan ber-Islam berarti mengupayakan pembimbingan, pendidikan dan pembinaan dalam mengenalkan Islam secara keseluruhan kepada peserta didik.

Jawaban kedua atas persoalan ontologis adalah pendidikan beriman, yakni mengajarkan peserta didik untuk mempercayai seluruh ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw., merupakan pedoman hidup bagi manusia untuk mengabdi kepada Allah swt. Amir Hamzah Lubis menyatakan bahwa salah satu aspek kepribadian manusia adalah unsur spiritual yang sedang mengalami perkembangan, sehingga diperlukan ajaran tentang keimanan agar potensi beriman anak dapat terarah sesuai dengan keimanan yang diajarkan Islam Pendidikan keimanan menurut Amir Hamzah Lubis mutlak diperlukan agar potensi iman dalam diri anak dapat berkembang sesuai dengan tuntutan ajaran keimanan dalam Islam16.

Jawaban ketiga atas persoalan ontologis adalah pendidikan ber-Ihsan. Menurut Mamluatul Inayah, dalam memahami makna ihsan dengan pendekatan semantik, ihsan termasuk kata yang ringkas tetapi mengandung pengertian yang luas (Jawamii’al kalim) ihsan berarti isyarat terhadap pengawasan dan ketaatan yang baik. Peserta didik yang merasa diawasi atau dijaga Allah maka amalnya akan baik. Ihsan dalam konteks pendidikan berarti menanamkan keyakinan agar suasana hati dan perilaku peserta didik senantiasa merasa dekat dengan Tuhan sehingga tindakannya sesuai dengan aturan Allah.

Dengan demikian, dalam analisa ontologis, pendidikan Islam tdak dapat dipisahkan dari dimensi ilahiah (wahyu). Semua komponen yang terkandung dalam sistem pendidikan akan disarikan dari wahyu ilahi. Selain dari lahirnya term-term tertentu dalam pendidikan Islam, hal itu juga dapat dilihat dari beberapa pembahasan tentang persoalan-persoalan pendidikan yang mengacu teks ilahiah.

4. Esensi ontologi dalam pendidikan Islam

1. Realitas ganda:

Ontologi pendidikan Islam memahami realitas pendidikan secara ganda, yaitu ada yang bersifat fisik (alam dan manusia) dan ada yang bersifat gaib (spiritual dan transendental).

2. Manusia sebagai makhluk totalitas:

Ontologi melihat manusia sebagai makhluk dua dimensi: fisik (terbuat dari tanah) dan spiritual (ditiupkan roh Tuhan). Pendidikan harus mendidik secara totalitas, tidak hanya aspek fisik atau spiritual saja, untuk mencegah "kepribadian yang pecah".

3. Tujuan pendidikan:

Tujuan utamanya adalah untuk membentuk manusia utuh (insan kamil) yang memiliki karakter Islami, kesadaran spiritual, dan mampu menjalankan amanah sebagai hamba Allah SWT.

4. Konsep fitrah:

Ontologi pendidikan Islam sangat bergantung pada konsep fitrah, yaitu potensi alami dalam diri manusia untuk menerima keimanan dan nilai-nilai suci yang dibawa sejak lahir. Hal ini berbeda dengan pandangan tabula rasa yang menganggap manusia lahir kosong.

BAB III

PENUTUP

Ketika merancang kerangka pendidikan Islam ditinjau dari ontologi, ranah kehidupan keagamaan, ranah kehidupan keluarga, ranah kehidupan bermasyarakat, ranah kehidupan politik, dan ranah kehidupan budaya. Bidang kehidupan ilmiah yang dilandasi semangat Islam sebagai paradigma pendidikan Islam. Agar ilmu pendidikan Islam tidak kehilangan daya tariknya dari segi kelembagaan dan aspek fungsional, maka paradigma, struktur, dan kerangka berpikir yang tepat harus diubah dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Hal ini membutuhkan posisi dari perspektif orang, masyarakat dan dunia. Manusia diciptakan ke dunia atas penunjukan Allah sebagai khalifah. Orang-orang diberdayakan dan diberdayakan untuk mendidik diri mereka sendiri. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab individu itu sendiri untuk mendidik dirinya sendiri dan untuk memahami sifat manusia, sifat kehidupan dan kehidupan, serta tujuan dan sasaran hidup, yang dikenal sebagai ontologi.

DAFTAR PUSTAKA

Adhim, Fauzan. (2018). Filsafat Islam Sebuah Wacana Kefilsafatan Klasik Hingga Kontemporer. Literasi Nusantara.

AKRIM, AKRIM. (2022). PENDIDIKAN HUMANIS DALAM PENGELOLAAN

PENDIDIKAN DI INDONESIA. Aksaqila Jabfung.

Alimuddin, Alimuddin. (2019). Ilmu dan Agama (Kajian Pemikiran Pendidikan Prof. Dr..

Daud, Ridhwan M. (2020). PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH. PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN, 9(1).

Hannase, Mulawarman, & Arifah, Fatwa. (2019). PENANAMAN NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM.

Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin Dan Filsafat, 15(2), 219–244.

Inayah, Firda. (2018). Tauhid Sebagai Prinsip Ilmu Pengetahuan (Studi Analisis Ismail Raji Al Faruqi). Tasfiyah, 2(1), 97–122.

Julaeha, Siti. (2019). Problematika Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Karakter.

Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 7(2), 157.

Rahardjo, Mudjia. (2017). Studi kasus dalam penelitian kualitatif: konsep dan prosedurnya.

Zaqiah, Qiqi Yuliati, & Rusdiana, A. (2014). Pendidikan Nilai: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Pustaka Setia.

Syam, N. W. Filsafat Sebagai Akar Ilmu Komunikasi. (Bandung: Simbiosa Rekatama.

Purwanto. “Pluralisme Agama dalam Prespektif Nurcholish Madjid” dalam Jurnal Studi Agama, 2007, h. 22

Nuryanto, M. A. Isu-isi Kritis dalam Pendidikan Islam. (Yogyakarta: PPS UIN Suka. 2010). h. 121