A. Konteks Penelitian

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan Islam. Lembaga pendidikan saat ini tidak hanya dituntut untuk mempertahankan kualitas pembelajaran, tetapi juga mampu melakukan inovasi dalam tata kelola kelembagaan melalui pemanfaatan teknologi digital. Pondok pesantren sebagai salah satu institusi pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun generasi yang berkarakter, sehingga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai -nilai tradisi kepesantrenan yang menjadi identitasnya.

Transformasi digital dalam lingkungan pesantren bukan hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup perubahan pola pikir, strategi pengelolaan, serta kepemimpinan dalam mengarahkan seluruh elemen pesantren menuju sistem pelaya nan yang lebih efektif, transparan, dan responsif. Dalam konteks tersebut, kepemimpinan pesantren menjadi faktor penting karena keberhasilan transformasi digital sangat dipengaruhi oleh kemampuan pimpinan dalam menyusun perencanaan, membangun visi digital, mengelola perubahan, serta mendorong keterlibatan seluruh warga pesantren. Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang mulai melakukan pengembangan layanan berbasis digital sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat modern. Transformasi tersebut menunjukkan adanya upaya kepemimpinan pesantren dalam menghadirkan sistem pelayanan yang lebih mudah, cepat, dan terintegrasi bagi seluruh pemangku kepentingan, baik santri, orang tua, tenaga pendidik, maupun masyarakat luas.

Dalam proses transformasi digital tersebut, aspek pertama yang menjadi perhatian adalah perencanaan digital pesantren. Perencanaan digital menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan teknologi di lingkungan pesantren, mulai dari identifikasi kebutuhan, pemilihan sistem digital, pengelolaan sumber daya, hingga strategi implementasi. Keberhasilan digitalisasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada bagaimana pemimpin pesantren mampu menyusun strategi yang sesuai dengan karakt eristik dan kebutuhan lembaga.

Aspek kedua adalah visi dan misi digital pesantren. Transformasi digital membutuhkan arah yang jelas agar pemanfaatan teknologi tidak hanya bersifat administratif, tetapi menjadi bagian dari pengembangan mutu pesantren secara berkelanjutan. Visi dan misi d igital mencerminkan bagaimana kepemimpinan pesantren memahami peran teknologi sebagai instrumen untuk meningkatkan efektivitas pelayanan, memperkuat komunikasi, serta menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Aspek ketiga adalah pengembangan layanan digital pesantren sebagai bentuk implementasi dari transformasi kepemimpinan tersebut. Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi telah mengembangkan beberapa layanan digital, antara lain layanan dompet digital bagi siswa atau santri untuk mendukung transaksi yang lebih praktis dan aman, layanan digital bagi orang tua sebagai media komunikasi dan pemantauan perkembangan santri, sistem absensi digital bagi tenaga pendidik dan kependidikan untuk meningkatkan kedisiplinan serta efektivitas administrasi, serta layanan digital dalam bidang promosi sebagai strategi memperkenalkan pesantren kepada masyarakat secara lebih luas.

Namun demikian, implementasi layanan digital dalam lingkungan pesantren juga menghadirkan berbagai tantangan, seperti kesiapan sumber daya manusia, kemampuan adaptasi pengguna, keberlanjutan sistem, serta kesesuaian teknologi dengan budaya organisasi pesan tren. Oleh karena itu, diperlukan kajian mendalam mengenai bagaimana transformasi kepemimpinan dilakukan dalam mengembangkan layanan digital tersebut.

Penelitian ini penting dilakukan untuk memahami bagaimana peran kepemimpinan Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi dalam merancang strategi digital, membangun visi digital kelembagaan, serta mengimplementasikan layanan berbasis teknologi sebagai bagia n dari peningkatan kualitas pelayanan pesantren. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh gambaran mengenai model transformasi kepemimpinan digital dalam konteks pesantren, sekaligus memberikan kontribusi teoritis dan praktis bagi pengembangan manajemen pesantren di era digital.

B. Fokus Masalah

1. Bagaimana strategi kepemimpinan Pondok Pesantren Islam Salafiyah

Abu Zairi dalam merencanakan transformasi digital pesantren?

2. Bagaimana kepemimpinan pesantren membangun visi dan misi digital

sebagai arah pengembangan layanan pesantren di era transformasi teknologi?

3. Bagaimana implementasi kepemimpinan dalam mengembangkan dan

mengelola layanan digital di Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisis strategi kepemimpinan Pondok Pesantren Islam

Salafiyah Abu Zairi dalam merencanakan transformasi digital pesantren.

2. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran kepemimpinan

pesantren dalam membangun visi dan misi digital sebagai arah pengembangan kelembagaan di era teknologi.

3. Untuk menganalisis implementasi kepemimpinan dalam pengembangan

layanan digital pesantren serta mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan dalam proses transformasi digital di Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi.

D. Signifikasi dan Manfaat Penelitian

1. Signifikansi Penelitian

ransformasi digital dalam lembaga pendidikan Islam menjadi suatu kebutuhan strategis dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan

teknologi, dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap layanan pendidikan yang efektif, cepat, dan transparan. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki karakteristik khas berbasis nilai keislaman tidak hanya dituntut untuk mempertahankan tradisi keilmuan, tetapi juga mampu melakukan inovasi dalam tata kelola kel embagaan melalui pemanfaatan teknologi digital.

Penelitian mengenai “Transformasi Kepemimpinan Dalam Mengembangkan Layanan Digital di Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi” memiliki signifikansi karena mengkaji aspek yang lebih mendalam mengenai peran kepemimpinan dalam mengarahkan perubahan digita l di lingkungan pesantren. Transformasi digital bukan sekadar proses penggunaan teknologi, melainkan perubahan strategis yang membutuhkan visi kepemimpinan, perencanaan yang matang, pengelolaan sumber daya, serta kemampuan membangun budaya organisasi yang adaptif terhadap perubahan. Secara akademik, penelitian ini penting karena kajian mengenai transformasi digital pada lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren, masih relatif berkembang. Sebagian besar penelitian digitalisasi pendidikan lebih banyak berfokus pada penggunaan teknologi pembelajaran atau sistem informasi, sementara aspek kepemimpinan sebagai penggerak utama transformasi digital belum banyak dikaji secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai bagaimana pemimpin pesantren menjalankan perannya dalam merancang visi digital, mengelola perubahan, dan mengembangkan layanan berbasis teknologi yang sesuai dengan karakteristik pesantren.

Secara praktis, penelitian ini memiliki signifikansi dalam memberikan gambaran mengenai proses transformasi digital yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi melalui pengembangan berbagai layanan digital, seperti dompet digital santri, layanan komunikasi dengan orang tua, sistem absensi tenaga pendidik dan kependidikan, serta layanan promosi pesantren. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan

strategi digitalisasi pesantren agar lebih efektif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.

2. Manfaat Penelitian

1) Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian manajemen pendidikan Islam, khususnya dalam bidang kepemimpinan transformasional dan transformasi digital pada lembaga pendidikan berbasis pesantren. Hasil penelitian ini da pat memperkaya pemahaman mengenai hubungan antara kepemimpinan, strategi digital, dan inovasi layanan dalam konteks organisasi pendidikan Islam.

Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi akademik bagi penelitian selanjutnya yang membahas kepemimpinan digital, manajemen perubahan, serta pengembangan teknologi dalam lembaga pendidikan Islam.

2) Manfaat Praktis a. Bagi Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan rekomendasi strategis bagi pimpinan pesantren dalam mengembangkan transformasi digital, meningkatkan efektivitas layanan, serta memperkuat tata kelola pesantren melalui pemanfaatan teknologi yang berkelanjutan.

b. Bagi Pimpinan dan Pengelola Pesantren Penelitian ini dapat menjadi bahan refleksi dalam memahami peran kepemimpinan digital, terutama dalam aspek perencanaan, pengambilan keputusan, pengelolaan perubahan, serta membangun kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perkembangan teknologi.

c. Bagi Tenaga Pendidik, Kependidikan, Santri, dan Orang Tua Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai manfaat dan peran layanan digital dalam meningkatkan

kualitas pelayanan pesantren, memperkuat komunikasi, meningkatkan efisiensi administrasi, serta menciptakan hubungan yang lebih efektif antara pesantren dan masyarakat. d. Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian ini dapat menjadi referensi dan dasar pengembangan penelitian mengenai transformasi digital, kepemimpinan pendidikan Islam, serta inovasi layanan pada lembaga pendidikan berbasis pesantren dengan perspektif yang lebih luas.

e. Untuk At Taqwa Bondowoso Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan dan kelembagaan di Kampus At -Taqwa Bondowoso, khususnya dalam bidang manajemen pendidikan Islam, kepemimpinan, dan transformasi digital lembaga pendidikan berbasis pesantren. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber referensi akademik dalam memahami bagaimana strategi kepemimpinan mampu mendorong inovasi layanan pendidikan melalui pemanfaatan teknologi digital.

Selain itu, penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Kampus At -Taqwa Bondowoso dalam mengembangkan model tata kelola digital yang lebih adaptif, baik dalam pengelolaan administrasi akademik, pelayanan mahasiswa/santri, komunikasi kelembagaan, maupun penguatan sistem informasi pendidikan. Temuan penelitian ini juga dapat menjadi contoh praktik baik (best practice) dalam pengembangan transformasi digital pada lembaga pendidikan Islam yang tetap mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan. Bagi sivitas akademika Kampus At -Taqwa Bondowoso, penelitian ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi kelembagaan yang berkaitan dengan kepemimpinan digital, manajemen perubahan, dan pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

E. Definisi Konseptual

Definisi konseptual dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan batasan pemahaman terhadap konsep-konsep utama yang menjadi dasar kajian, sehingga tidak terjadi perbedaan interpretasi terhadap istilah yang digunakan. Adapun konsep utama dalam penelitian dengan judul “Transformasi Kepemimpinan Dalam Mengembangkan Layanan Digital di Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi” meliputi transformasi kepemimpinan, pengembangan layanan digital, dan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam.

1. Transformasi Kepemimpinan

Transformasi kepemimpinan dalam penelitian ini dimaknai sebagai proses perubahan dan pengembangan peran kepemimpinan dalam mengarahkan organisasi pesantren untuk menghadapi perkembangan teknologi melalui strategi, visi, inovasi, dan pengelolaan perubahan. Transformasi kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan pemimpin dalam mengambil keputusan, tetapi juga mencakup kemampuan membangun kesadaran bersama, menciptakan budaya organisasi yang adaptif, serta menggerakkan seluruh elemen pesantren untuk m endukung proses digitalisasi.

Dalam konteks penelitian ini, transformasi kepemimpinan merujuk pada bagaimana pimpinan Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi menjalankan fungsi kepemimpinan dalam merancang perencanaan digital, membangun visi dan misi digital pesantren, mengelola per ubahan, serta memastikan keberlanjutan implementasi layanan berbasis teknologi.

2. Perencanaan Digital Pesantren

Perencanaan digital pesantren merupakan proses penyusunan strategi dan langkah sistematis dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung tata kelola, pelayanan, dan pengembangan kelembagaan pesantren. Perencanaan digital mencakup identifikasi kebutuh an teknologi, penentuan prioritas layanan digital, penyediaan sumber daya pendukung, serta strategi

penerapan sistem digital yang sesuai dengan tujuan dan karakteristik pesantren.

Dalam penelitian ini, perencanaan digital pesantren dipahami sebagai upaya kepemimpinan Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi dalam merancang arah pengembangan teknologi sebagai bagian dari peningkatan kualitas layanan kepada santri, orang tua, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan masyarakat.

3. Visi dan Misi Digital Pesantren

Visi dan misi digital pesantren merupakan arah strategis yang menggambarkan tujuan dan komitmen lembaga dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari pengembangan organisasi. Visi digital menunjukkan gambaran masa depan yang ingin dicapai melalui pemanfaatan teknologi, sedangkan misi digital menjelaskan langkah -langkah strategis yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam penelitian ini, visi dan misi digital pesantren merujuk pada bagaimana pimpinan Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi mengintegrasikan pemanfaatan teknologi dengan nilai -nilai kepesantrenan untuk menciptakan sistem pelayanan yang efektif, transp aran, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.

4. Layanan Digital Pesantren

Layanan digital pesantren merupakan bentuk pemanfaatan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan kepada seluruh pemangku kepentingan pesantren secara lebih efektif, cepat, dan mudah diakses. Layanan digital mencakup penggunaan sistem atau aplikasi ber basis teknologi yang mendukung kegiatan administrasi, komunikasi, pelayanan santri, serta pengembangan citra kelembagaan. Dalam penelitian ini, layanan digital pesantren mencakup beberapa bentuk layanan yang telah dikembangkan di Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi, yaitu:

a. Layanan Dompet Digital Santri

Merupakan sistem layanan berbasis digital yang digunakan untuk mendukung transaksi keuangan santri secara lebih praktis, aman, dan terkontrol dalam lingkungan pesantren.

b. Layanan Digital Orang Tua Merupakan sistem pelayanan berbasis teknologi yang memberikan kemudahan bagi orang tua dalam memperoleh informasi, melakukan komunikasi, serta memantau perkembangan atau aktivitas santri selama berada di pesantren.

c. Layanan Absensi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Merupakan sistem digital yang digunakan untuk mendukung pengelolaan kehadiran tenaga pendidik dan kependidikan sehingga meningkatkan efektivitas administrasi, kedisiplinan, dan akurasi data. d. Layanan Digital Promosi Pesantren Merupakan pemanfaatan media dan teknologi digital sebagai sarana penyampaian informasi, publikasi program, serta penguatan citra pesantren kepada masyarakat luas.

5. Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi

Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi merupakan lembaga pendidikan Islam yang menjadi lokasi penelitian, yang memiliki peran dalam menyelenggarakan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman serta melakukan inovasi kelembagaan melalui pengembangan laya nan digital. Dalam penelitian ini, Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi diposisikan sebagai konteks organisasi yang mengalami proses transformasi kepemimpinan dalam menghadapi tuntutan perkembangan teknologi dan kebutuhan pelayanan pendidikan modern.

F. Orisinalitas Penelitian

Kajian mengenai digitalisasi lembaga pendidikan telah banyak dilakukan, namun sebagian besar penelitian lebih berfokus pada aspek penerapan teknologi, efektivitas sistem informasi, atau pemanfaatan aplikasi dalam proses pembelajaran. Sementara itu, penelitian ya ng secara khusus mengkaji

transformasi kepemimpinan dalam mengembangkan layanan digital pada lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren masih relatif terbatas. Penelitian ini memiliki kebaruan (novelty) karena tidak hanya melihat digitalisasi sebagai proses penerapan teknologi, tetapi menganalisis bagaimana kepemimpinan pesantren menjadi faktor utama dalam mengarahkan perubahan tersebut. Fokus penelitian diarahka n pada bagaimana pimpinan pesantren menyusun perencanaan digital, membangun visi dan misi digital, serta mengembangkan layanan digital sebagai bagian dari strategi peningkatan tata kelola pesantren.

Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital dalam lembaga pendidikan sangat dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan, kesiapan sumber daya manusia, dan budaya organisasi. Namun, penelitian tersebut sebagian besar dilakukan pada lembaga pendidikan umum atau perguruan tinggi, sedangkan konteks pesantren memiliki karakteristik berbeda karena menggabungkan siste m pendidikan modern dengan nilai -nilai tradisional keislaman. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang lebih spesifik mengenai bagaimana pemimpin pesantren melakukan adaptasi dan inovasi digital tanpa menghilangkan karakteristik kelembagaan pesantren. Orisinalitas penelitian ini terletak pada beberapa aspek berikut:

1. Konteks Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi, yang menjadi objek kajian mengenai praktik transformasi kepemimpinan dalam pengembangan layanan digital. Kajian mengenai transformasi digital pada pesantren masih belum banyak dilaku kan, khususnya pada pesantren salafiyah yang melakukan inovasi layanan berbasis teknologi.

2. Perspektif Kajian

Penelitian ini menggunakan perspektif kepemimpinan sebagai titik utama analisis. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih banyak mengkaji aspek teknologi atau sistem informasi, penelitian ini menempatkan

pemimpin pesantren sebagai aktor strategis yang menentukan arah, keberhasilan, dan keberlanjutan transformasi digital.

3. Fokus Transformasi Digital yang Komprehensif

Penelitian ini tidak hanya mengkaji satu bentuk layanan digital, tetapi menganalisis rangkaian proses transformasi yang meliputi: • perencanaan digital pesantren, • perumusan visi dan misi digital pesantren, • pengembangan layanan digital bagi santri, orang tua, tenaga pendidik dan kependidikan, serta masyarakat melalui layanan promosi digital.

4. Kontribusi terhadap Pengembangan Manajemen Pesantren

Penelitian ini diharapkan menghasilkan pemahaman mengenai model transformasi kepemimpinan digital pada lembaga pesantren yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan tata kelola pendidikan Islam di era teknologi.

Dengan demikian, penelitian berjudul “Transformasi Kepemimpinan Dalam Mengembangkan Layanan Digital di Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi” memiliki nilai kebaruan karena mengkaji hubungan antara kepemimpinan, strategi digital, dan inovasi layanan d alam konteks pesantren. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan kajian kepemimpinan pendidikan Islam serta kontribusi praktis bagi pesantren dalam merancang strategi transformasi digital yang berkelanjutan.

G. Kajian Pustaka

1) Penelitian Terdahulu a) enelitian Aldes Cyntia Permata, Aris Dwi Nugroho, dan Fransisko Chaniago berjudul “The Strategic Role of Leadership: Realizing a Value-Based Digital Transformation in Islamic Boarding Schools.” Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kepemimpinan strategis memiliki peran sentral dalam mewujudkan transformasi digital di pondok pesantren. Kepemimpinan yang adaptif, visioner, dan berlandaskan nilai -nilai Islam mampu mengintegrasikan teknologi

digital ke dalam tata kelola pesantren tanpa menghilangkan identitas dan budaya pesantren. Selain itu, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, komunikasi strategis, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam keberhasilan transformasi digital yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. b) Penelitian Adib Riyadi, Asror Maulana, dan Ahmad Yani berjudul “Transformasi Gaya Kepemimpinan Kiai di Era Digital (Studi pada Pondok Pesantren Modern Al Ittihad Cianjur).” Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan kiai mengalami perubahan dari pola kepemimpinan yang bersifat tradisional menuju kepemimpinan yang lebih kolaboratif, partisipatif, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi digital. Transformasi tersebut berdampak pada peningkatan efektivitas manajemen pesantren, pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran, serta penguatan komunikasi organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. c) Penelitian Alfian Abdul Ghaffar, Ratna Rosita Pangestika, Amalia Nurannisa Sudirman, Akyas Hilmi Maksum, dan M. Najmi Nadif berjudul “Digitalisasi Layanan di Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi.” Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa digitalisasi layanan pesantren diterapkan melalui sistem administrasi digital, pembayaran elektronik (cashless), pengelolaan data santri secara terintegrasi, serta penyediaan layanan informasi berbasis teknologi. Implementasi layanan digital tersebut mampu meningkatkan efisiensi administrasi, mempercepat pelayanan kepada santri, mengurangi penggunaan kertas (paperless office), serta meningkatkan kualitas tata kelola pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan partisipasi langsung.

H. Kajian Teori

1. Pengertian Manajemen

Manajemen merupakan ilmu dan seni perencanaan, pengorganisasian, pengerakan/pengarahan dan pengawasan terhadap usaha-usaha para anggota organisasi dan pengunaan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan sebelumnya. Dalam setiap proses pelaksanaan manajemen terdapat pengelompokkan yang membuat suatu organisasi atau kelompok memiliki tingkatan tingkatan tertentu yang memiliki tugas dan tanggung jawab masing masing (Anisa, 2021:151).

Menurut George R. Terry menjelaskan bahwa “manejemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan orang lain.” Oleh sebab itu maka berdasarkan pengertian tersebut, ada tiga hal, yang perlu diperhatikan dalam manajemen yaitu Pertama, manajemen sebagai ilmu pengetahuan bahwa manajemen memerlukan ilmu pengetahuan. Kedua, manajemen sebagai seni dimana manajer harus memiliki seni atau keterampilan memanage. Ketiga, manajemen sebagai profesi, bahwa manajer yang profesional bisa me -manage secara efektif dan efisien (Tambak et al., 2023 ; 32)

Manajemen sebagai proses atau kerangka kerja dengan mengarahkan kelompok atau orang-orang agar mencapai tujuan- tujuan organisasi. Proses tersebut terdiri dari pengetahuan tentang segala hal yang wajib dan perlu dilakukan, kemudian menjabarkan bagaimana cara menerapkanya memberikan arahan bagaimana seharusnya mereka melakukan serta memberikan suatu ukuran yaitu efektif dan tidaknya semua yang telah dikerjakan (Sigit Priyo, 2023 : 12). Manajemen pula menempatkan suatu kegiatan pada membimbing suatu gerombolan sedemikian sehingga tercapai tujuan bersama dalam organisasi yang bersifat universal. Pada proses pelaksanaannya, manajemen mempunyai tugas -tugas khusus yang

wajib dilaksanakan. Tugas -tugas khusus itulah yang bisa diklaim sebagai fungsi -fungsi manajemen sehingga pada arah organisasi dimulai asal menentukan arah organisasi di masa depan, membangun aktivitas-kegiatan organisasi, mendorong terbinanya kerjasama ant ar sesama anggota organisasi serta mengawasi kegiatan dalam mencapai tujuan yang efektif dan efisien (Suherman et al., 2024: 113). Manajemen merupakan semua prosedur dari kegiatan yang memberikan bimbingan, kerja sama dengan pembagian peran yang jelas dan menyediakan berbagai fasilitas dari berbagai usaha dan melibatkan sekolompok orang dan diorganisir pada suatu organisasi formal unt uk mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya secara efektif dan efisien (Sigit Priyo Sembodo, 2023 : 11). Para pakar mendefinisikan manajemen secara beragam, diantaranya: 1) Edgar Schein Manajemen sebagai profesi yang menuntut kerja profesional. Karakteristiknya meliputi pengambilan keputusan berdasarkan prinsip umum, pencapaian standar prestasi kerja tertentu, dan adanya kode etik yang kuat. Dalam konteks pesantren, manajemen harus dilakukan secara profesional untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengembangan santri (Liriwati et al., 2021:34). 2) George R. Terry Manajemen adalah proses khusus yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengimplementasian, dan pengawasan untuk mencapai sasaran organisasi dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Proses ini penting dalam pengelolaan pesantre n untuk memastikan bahwa semua sumber daya digunakan secara efektif dalam mencapai tujuan pendidikan (Anisa, 2021 : 154).

3) Ordway Tead Manajemen sebagai proses dan perangkat yang mengarahkan serta membimbing aktivitas organisasi untuk mencapai tujuan yang

telah ditentukan. Dalam pesantren, manajemen harus mampu mengarahkan santri dan pengelola untuk mencapai visi dan misi pesantren.

4) James A. F. Stoner Definisi: Manajemen adalah proses perencanaan, organisasi, kepemimpinan, dan pengawasan terhadap usaha anggota organisasi serta penggunaan semua sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam manajemen pesantren untuk memotivasi santri dan pengelola dalam mencapai tujuan bersama.

5) Luther Gulick Manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan yang berusaha memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja sama untuk mencapai tujuan, serta membuat sistem ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan. Dalam konteks pesantren, manajemen harus memperhatikan aspek kemanusiaan dan sosial dalam pengelolaan pendidikan (Liriwati et al., 2021: 34).

Dalam hal ini jika dikaitkan dengan Ponpes atau manajemen mutu pendidikan berbasis pesantren berarti peningkatan kualitas pendidikan tersebut berorientasi pada nilai-nilai keagamaan atau nilai ke-Islaman (kepesantrenan), yang telah menjadi budaya pada bang sa Indonesia (Aini, 2021 : 453).

Manajemen pendidikan Islam adalah proses mengelola atau mengatur pendidikan Islam. Obyek atau ruanglingkup Pendidikan Islam sangat luas, karena mencakup pendidikan isalm formal (lembaag pendidikan), pendidikan Islam informas (pendidikan keluarga) dan pendidikan Islam non formal (pondok pesanten dan majelis ta’lim). Disinilah titik perbedaan yang sangat fundamental dan urgensial antara manajemen pendidikan dengan manajemen pendidikan Islam. Perbedaan ini mengharuskan para manajer mamiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk secara utuh dan

komprehensif agar bisa mengimplementasikan nilai -nilai dan proses manajemen ke dalam pendidikan islam (Tambak et al., 2023 : 25).

2. Fungsi Manajemen Pesantren dalam Pendidikan Islam

Adapun fungsi -fungsi manajemen pendidikan islam yang terdapat dalam kewirausahaan adalah sebagai berikut: a) Perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah proses menentukan arah yang akan ditempuh dan kegiatan -kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses ini ditentukan tentang apa yang harus dilakukan, kapan dikerjakan/dimulai, bagaimana melakukannya, dengan cara apa hal tersebut dilaksanakan, dan siapa yang akan melakukan pekerjaan tersebut , Proses tersebut itulah yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu rencana (Sunardi & Sohib, 2020 :23).

Pengertian Perencanaan Menurut George R. Terry, perencanaan adalah suatu pekerjaan mental yang memerlukan pemikiran, imajinasi serta kesanggupan melihat ke masa yang akan datang (Anisa, 2021 : 154 ). Fungsi Perencanaan berisi tentang perumusan dari tindakan -tindakan untuk mencapai tujuan serta untuk menghadapi hambatan yang akan muncul dan menggangu kelancaran pekerjaan. Seperti bagaimana cara untuk mencapai tujuan dan rencana untuk mengadakan pengawas an agar penyelengaraan pekerjaan dapat dilaksanakan dengan optimal Perencanaan adalah tahap awal dalam manajemen yang berfungsi untuk menyusun program usaha santri secara sistematis dan terarah. Dalam konteks pesantren, perencanaan mencakup penetapan tujuan, penyusunan strategi, serta pengalokasian sumber daya yang diperlukan untuk mendukung keberlangsungan program kewirausahaan santri. Perencanaan yang matang akan menjadi landasan ba gi pelaksanaan program yang efektif dan efisien .

(Risma Savhira Dwi Lestari & Mochammad Amaludhin Alwi, 2022;112 ).

b) Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian diartikan sebagai kegiatan pembagian tugas- tugas pada orang yang terlibat dalam kerjasama sekolah. Karena tugas ini demikian banyak dan tidak dapat diselesaikan satu orang saja, tugas -tugas ini dibagi untuk dikerjakan oleh masing masing u nit organisasi. kegiatan pengorganisasian menentukan siapa yang akan melaksanakan tugas sesuai prinsip pengorganisasian (Beno et al., 2022: 11).

Organizing adalah pengelompokan dan pengaturan orang untuk dapat digerakkan sebagai satu kesatuan sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan, menuju tercapainya tujuan yang ditetapkan, Wujud dari pelaksanaan organizing adalah tampaknya kesatuan yang utuh, kekompakan, kesetiakawanan dan terciptanya mekanisasi yang sehat, sehingga kegiatan lancar, stabil dan mudah mencapai tujuan yang ditetapkan. Proses organizing yang menekankan pentingnya tercipta kesatuan dalam segala tindakan.(Yaqutunnafis & Nurmiati, 2021: 201) Pengorganisasian dilakukan dengan menata dan mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki pesantren, seperti tenaga pendidik, fasilitas, waktu, dan modal, agar program entrepreneur santri berjalan optimal. Penataan ini bertujuan menciptakan sistem kerja yan g terarah, efisien, dan mendukung tercapainya tujuan kewirausahaan santri.

c) Pengarahan (Actuating)

Actuating atau pengarahan adalah kegiatan yang membuat seluruh anggota organisasi mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas dan sangat bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha usaha pengorganisasian (Anisa, 2021: 155).

Actuating/pelaksanaan ini merupakan bentuk dari perencanaan yang telah dibuat sehingga dibuktitikan dengan perbuatan/pelaksanaan. Seb agai pemimpin edialnya berupaya untuk selalu menggerakkan bawahannya agar melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai yang telah direncanakan. Bentuk dari penggerakan tersebut bisa berbentuk memberi perintah, memberi petunjuk dan memotivasi, pelaksanaan pekerjaan dilakukan dengan berpedoman pada rencana yang telah disusun (Sunardi & Sohib, 2020 : 215).

Fungsi Actuating merupakan bagian dari proses kelompok atau organisasi yang dapat dipisahkan. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan kedalam fungsi actuating ini adalah directing, commanding, Actuating merupakan inti dari pada management yaitu menggerakkan untuk mencapai hasil, Proses actuating adalah memberikan perintah, petunjuk, pedoman dan nasehat serta keterampilan dalam berkomunikasi (Yaqutunnafis & Nurmiati, 2021: 200).

Pengarahan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan kepada santri merupakan bagian penting dari proses pembinaan jiwa kewirausahaan di pesantren. Melalui kegiatan ini, santri tidak hanya dibekali dengan keterampilan teknis dalam mengelola usaha, tetapi juga diarahkan untuk membentuk pola pikir kreatif, mandiri, dan visioner. Pendampingan yang intensif membantu santri memahami tantangan nyata dunia usaha serta cara menghadapinya dengan strategi yang tepat, tanpa meninggalkan prinsip -prinsip keislaman yang menjadi fondasi utama kehidupan mereka. d) Pengawasan (Controlling).

Pangawasan dan evaluasi dapat diartikan sebagai salah satu kegiatan untuk mengetahui realisasi perilaku personel dalam organisasi pendidikan dan apakah tingkat pencapaian tujuan

pendidikan sesuai dengan yang dikehendaki, kemudian apakah perlu diadakan perbaikan (Susanto, 2021: 131) Sistem Evaluasi yang menekankan pada aspek Aplikatif bukan hanya bersifat kognitif atau sebagai jargon yang dihafalkan dengan prinsip -prinsip integraistas, komunitas dan obtektifitas yang adil. Dengan adanya fasilitas yang memadai seperti berbagai macam laboratoruim, sistem evaluasi yang diterpakan pada sekolah di pesantren Pangeran Diponegoro juga melibatkan aspek aplikatif yaitu praktik praktik pelajaran yang didapat (Aini, 2021:454). Controlling/pengawasan ini merupakan proses penilaian terhadap suatu pekerjaan agar mengetahui sejauhmana upaya upaya yang telah dilakukan apakah sudah tercapai sesuai dengan tarjet atau tidak. Sehingga jika menemukan suatu kendala maka seorang pemimpin berupaya menentukan tindakan-tindakan dalam menyelesaikan masalah (Sunardi & Sohib, 2020 : 216).

3. Manajemen Pondok Pesantren Dalam Mengembangkan Entrepreneur

Santri Manajemen pondok pesantren dalam mengembangkan jiwa entrepreneur santri dijalankan melalui serangkaian fungsi manajerial yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan (Sunardi & Sohib, 2020 : 214). Perencanaan dilakukan dengan menyusun program usaha santri yang terintegrasi dalam kurikulum dan aktivitas pesantren. Pengorganisasian dilakukan dengan menata sumber daya manusia, keuangan, dan fasilitas pesantren untuk mendukung program entrepreneur. Pen garahan dan pelatihan diberikan kepada santri melalui pembinaan langsung di unit usaha pesantren, sementara pengawasan dilakukan melalui evaluasi dan audit secara berkala untuk memastikan efektivitas program serta mencegah penyalahgunaan dana.

Pondok Pesantren Salafiyah Abu Zairi sebagai objek penelitian juga berupaya mengembangkan kewirausahaan santri melalui berbagai

program yang terstruktur. Namun, pengelolaan dan manajemen program tersebut masih menghadapi tantangan yang perlu diidentifikasi dan diatasi agar tujuan pengembangan entrepreneur santri dapat tercapai secara optimal.

Peran penting yang membuat nilai plus kewirausahaan di lingkungan pesantren ialah karena para santri tidak hanya mendapatkanilmu-ilmu wirausaha akan tetapi juga mendapatkan nilainilai keislaman serta suri tauladan yang didapat selama menjadi santri di pesantren. Hal ini dapat menjadi modal bagi para santri untukberwirausaha karena pesantren merupakan lembaga pendidikan untuk mencetak manusia yang religius dan mandiri (Sigit Priyo Sembodo, 2023: 12).

1. Prinsip Inovasi dan Adaptasi Teknologi

Penguasaan teknologi digital dalam kewirausahaan santri menjadi kebutuhan untuk bersaing di era industri 4.0 dan society 5.0 (Irhamnie, 2023 : 149 ). Era digital menuntut pesantren untuk mampu beradaptasi. Manajemen kewirausahaan harus terbuka pada inovasi seperti pemasaran digital, e -commerce, dan platform bisnis syariah online. Rowley dan Jackson menjelaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia ada lah sebuah proses yang dilakukan untuk mengembangkan pengetahuan, keahlian, kemampuan bekerja, dan kompetensi kompetensi yang dikembangkan melalui pelatihan, pembelajaran organisasi, manajemen kepemimpinan dan manajemen pengetahuan untuk kepentingan peningkatan kinerja (Isnaini, 2022: 48).

I. Pendekatan dan Jenis Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat pospositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen)

dimana peneliti adalah sebagai intrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara Purposive dan Snowbaal, tehnik pengumpulan dengan Trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada generalisasi.

Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang tidak berfokus pada pengumpulan data berupa angka atau statistik, melainkan menghasilkan data-data deskriptif yang berupa kata -kata, gambaran, dan perilaku objek yang diteliti. Data yang diperoleh biasanya berupa wawancara, observasi, dokumen, dan catatan lapangan yang kemudian dianalisis secara mendalam untuk memahami fenomena secara komprehensif dan kontekstual (Lexy J. Moleong, 2021 : 27).

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan merupakan jenis penelitian yang dilakukan secara langsung di lokasi atau tempat penelitian, dalam hal ini di pesantren, dengan tujuan untuk memperoleh data dan informasi yang akurat terkait fenomena atau masalah yang sedang diteliti. P eneliti terjun langsung ke lapangan untuk memahami secara mendalam kondisi nyata yang terjadi, sehingga dapat menemukan permasalahan spesifik dan mencari solusi yang tepat berdasarkan data lapangan tersebut. Penelitian lapangan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, kemudian dianalisis secara sistematis untuk memberikan deskripsi yang lengkap dan objektif mengenai manajemen pesantren, khususnya dalam pengelolaan program usaha santri.

J. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Islam Salafiyah Abu Zairi. Lokasinya terletak di Desa Pakisan, RT 06 RW 01, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Indonesia,

Lokasinya berada kurang lebih 10 km dari pusat Kecamatan Tlogosari dan dapat dijangkau melalui jalur utama menuju arah barat dari Pasar Tlogosari. Jika dari arah Kabupaten Bondowoso, perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh melalui jalur Bondowoso Tlogosari dengan waktu tempuh sekitar 1 jam

K. Instrumen Penelitian

beberapa instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi terkait manajemen pesantren dan pengembangan kewirausahaan santri adalah sebagai beriku:

1. Pedoman wawancara/Interview.

Wawancara mendalam akan dilakukan dengan pengelola pesantren, pengajar, dan santri yang terlibat dalam program kewirausahaan. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai: a) Strategi perencanaan manajemen yang diterapkan dalam pengembangan kewirausahaan.

b) Pelaksanaan Program pengembangan Kerwirausahaan c) Pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh santri dalam menjalankan usaha.

d) Persepsi dan harapan santri terhadap program kewirausahaan e) Evaluasi Program pengembangan Entrepreneur terhadap kemandiraian ekonomi santrri

2. Pedoman Observasi

Selanjutnya Observasi partisipatif akan dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan program kewirausahaan di pesantren. Observasi ini akan mencakup:

a. Kegiatan pelatihan kewirausahaan dan interaksi antara santri dan pengelola.

b. Lingkungan fisik dan fasilitas yang mendukung kegiatan kewirausahaan.

c. Peran pengasuh, guru, atau pembina dalam membimbing dan mengarahkan kegiatan kewirausahaan.

d. Integrasi nilai -nilai keislaman dalam aktivitas dan keterampilan santri yerhadap kegiatan kewirausahaan. e. Dinamika kelompok santri dalam menjalankan usaha

3. Pedoman Dokumentasi

Pengumpulan data sekunder melalui dokumentasi yang relevan, seperti:

a. Laporan pesantren tentang kegiatan Entrepeneur . Kurikulum program kewirausahaan di masingmasing lembaga dibawah naungan pondok pesantren.

b. Data dan catatan kegiatan yang berkaitan dengan kewirausahaan.

c. Dokumen tertulis yang dapat dianalisis untuk mendukung temuan dari wawancara dan observasi.

d. Profil unit usaha pesantren, termasuk struktur pengelolaannya dan laporan perkembangannya.

e. Brosur, pamflet, atau media informasi lain yang digunakan dalam mempromosikan produk hasil usaha santri.

L. Data dan Sumber Data

Dalam penelitian ini peneliti dalam menentukan informan penelitian menggunakan teknik purposive sampling. purposive sampling adalah teknik sampling yang cukup sering digunakan. Metode ini menggunakan kriteria yang telah dipilih oleh peneliti dalam memilih sampel. Kriteria pemilihan sample terbagi menjadi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi merupakan kriteria sampel yang diinginkan peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Sedangkan kriteria eksklusi merupakan kriteria khusus yang menyebabkan calon responden yang memenuhi kriteria inklusi harus dikeluarkan dari kelompok penelitian.

M. Pengumpulan data

a. Wawancara

Wawancara atau interviu (interview) merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam penelitian deskripsi kualitatif dan deskripsi kuantitatif. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual. dalam implementasinya, wawancara dapat dilakukan secara individu atau dalam kelompok. Wawancara kelompok berlaku jika tujuan penelitian mengumpulkan data dari unit sosial seperti keluarga, manajemen yayasan, direktur dan pimpinan di masingmasing lembaga pendidikan , dan Pengurus pesantren. Sementara itu, wawancara individu fokus secara rinci dan secara konkretkan pada menerima data dari informan. Wawancara adalah proses komunikasi atau interaksi, dengan tanggapan antara peneliti dan topik penelitian (informan). Proses ini memungkinkan para peneliti untuk menerima data yang valid dan relevan tergantung pada fokus penelitian. Wawancara terstruktur adalah sebuah wawancara yang sudah dirumuskan dan dibuat kerangka awal tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan kepada responden. (Raco, 2019 : 120)

Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan wawancara terstruktur. Wawancara terstruktur adalah jenis wawancara di mana pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dirumuskan dalam kerangka atau panduan wawancara (panduan wawancara). Dengan demikian, para peneliti dapat memastikan bahwa semua aspek survei dapat dijawab secara sistematis dan konsisten oleh responden. Pendekatan ini memfasilitasi proses analisis data karena data yang diperoleh bersifat terfokus dan komparatif b. Observasi Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bias penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu dan pearasaan emosi seseorang. Observasi

dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian (Walliman, 2011: 10). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode observasi nonpartisipasi sebagai teknik pengumpulan data. Observasi nonpartisipasi adalah metode di mana peneliti berperan sebagai pengamat yang tidak secara langsung terlibat atau berpartisipasi dalam kegi atan atau situasi yang diamati. Dengan kata lain, peneliti mengamati peristiwa atau aktivitas yang berlangsung tanpa ikut serta secara aktif dalam proses tersebut (Lexy J. Moleong, 2021 ; 39).

Observasi nonpartisipasi memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data secara objektif dan sistematis melalui pengamatan langsung, baik secara fisik maupun menggunakan media elektronik seperti rekaman video, foto, atau alat perekam suara. Pendekatan ini memberikan keleluasaan bagi peneliti untuk melihat fenomena secara menyeluruh tanpa memengaruhi jalannya aktivitas yang diamati. Melalui metode observasi ini, peneliti diharapkan dapat mengamati secara langsung kejadian -kejadian yang berlangsung di lapangan, khususnya dalam pelaksanaan fungsi manajemen pesantren terkait program usaha santri. Observasi ini membantu peneliti mengident ifikasi masalah-masalah yang muncul secara nyata di lapangan, sehingga dapat menjadi dasar untuk menemukan gagasan baru atau rekomendasi perubahan yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pengelolaan lembaga pesantren itu sendiri.

Dengan demikian, observasi nonpartisipasi menjadi instrumen penting dalam penelitian lapangan ini karena memberikan data empiris yang valid dan relevan tanpa mengganggu proses alami yang sedang berlangsung.

c. Dokumentasi Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data

berupa dokumen seperti ini bias dipakai untuk menggali informasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoritik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna . Studi dokumenter (documentary study) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganlisis dokumendokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik . Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang : 1) Keadaan staff dan karyawan Pondok Pesantren Salafiyah Abu Zairi Bondowoso.

2) Keadaan siswa di Pondok Pesantren Salafiyah Abu Zairi Bondowoso 3) Struktur organisasi Pondok Pesantren Salafiyah Abuzairi Bondowoso. 4) Kurikulum Entrepreneur Pondok Pesantren Salafiyah Abuzairi Bondowoso.

5) Program kerja dan kegiatan Entrepreneur di Mts dan MA Hidayatullah Pondok Pesantren Salafiyah Abuzairi Bondowoso. 6) Program kerja dan kegiatan Entrepreneur di Madrasah Tsanawiyah Hidayatullah Pondok Pesantren Salafiyah Abuzairi Bondowoso. 7) Kalender Pendidikan dan Kurikulum Madrasah Aliyah Hidayatullah Pondok Pesantren Salafiyah Abu zairi Bondowoso. 8) Data sarana dan prasaran yang ada di Pondok Pesantren Salafiyah Abu Zairi Bondowoso.

N. Analisis Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data model interaktif. Dalam penelitian kualitatif memungkinkan dilakukan analisis data pada waktu peneliti berada di lapangan maupun setelah kembali dari lapangan baru dilakukan analisis. Pada pene litian ini analisis data telah dilaksanakan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Alur analisis mengikuti model analisis interaktif sebagaimana diungkapkan Miles - Huberman dan Saldana (Mattew B Miles, A. Michael Hubermann, 2014) . Proses analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan empat tahap, yaitu: a. Kondensasi Data

Miles dan Huberman menyatakan bahwa kondensasi data merujuk pada lima proses yaitu: selecting (proses pemilihan), focusing (pengerucutan), simplifiying (penyederhanaan), abstracting (peringkasan), dan transforming (transformasi data). Dalam kondensasi data merujuk kepada proses menyeleksi, memfokuskan, menyederhanakan, memisahkan dan memindahkan data dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut : Pengumpulan data, kesimpulan -kesimpulan, penarikan/verifikasi, kondensasi data dan penyajian data (Mattew B Miles, A. Michael Hubermann, 2014).

1) Pemillihan Data (Selecting)

Miles dan Huberman menyatakan bahwa dalam menganalisis data peneliti harus bertindak selektif, maksud dari selektif adalah bisa menentukan manakah dimensi -dimensi yang lebih penting, hubungan hubungan yang mungkin lebih bermakna, informasi apa yang dapat dikumpulkan dan dianalisis. Peneliti mengumpulkan seluruh informasi yang berupa catatan observasi,catatan wawancara dan data dokumentasi untuk memperkuat penelitian.

2) Fokus Data (Focusing)

Miles dan Huberman menyatakan bahwa pada analisis data perlu memfokuskan data sebagai bentuk praanalisis. Pada tahap ini, peneliti memfokuskan data yang berhubungan dengan fokus penelitian. Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap seleksi data. Peneliti h anya membatasi data yang berdasarkan rumusan masalah. Fokus data pada penelitian ini yaitu proses Manajemen Keuangan. 3) Abstraksi Data (abstarcting)

Abstraksi adalah upaya dalam membuat rangkuman yang inti, proses, dan pernyataan -pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap di dalamnya. Pada tingkatan ini, data yang telah terhimpun dievaluasi. Pada tahap penelitian ini, jika data penelitian baik dari observasi, wawancara dan dokumentasi telah mencukupi maka data akan dievaluasi apakah sudah bisa menjawab fokus penelitian.

4) Penyederhanaan dan Perubahan (Simplifying dan Transforming) Setelah dievaluasi data dalam penelitian ini seterusnya akan disederhanakan dan dirubah dengan berbagai cara, dalam hal ini dilakukan dengan melalui pemilihan yang ketat, melalui rangkuman atau keterangan singkat,dan mengelompokkan data. Untuk menyederhanakan data, peneliti menumpulkan data dalam dalam bentuk tabel b. Penyajian data (Data Display)

Penyajian data dapat berupa bentuk tulisan atau kata-kata, gambar, grafik dan tabel. Tujuan sajian data adalah untuk menggabungkan informasi sehingga dapat menggambarkan keadaan yang terjadi. Dalam hal ini, agar peneliti tidak kesulitan dalam penguasaan in formasi baik secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari hasil penelitian, maka peneliti harus membuat naratif, matrik atau grafik untuk memudahkan penguasaan informasi atau data tersebut. Dengan demikian peneliti dapat tetap menguasai data dan tid ak tenggelam dalam kesimpulan informasi yang dapat membosankan (Mattew B Miles, A. Michael Hubermann, 2014).

Hal ini dilakukan karena data yang terpencar -pencar dan kurang tersusun dengan baik dapat mempengaruhi peneliti dalam bertindak secara ceroboh dan mengambil kesimpulan yang memihak, tersekat -sekat daan tidak mendasar. Untuk display data harus disadari seba gai bagian dalam analisis data.

c. Penarikan kesimpulan (Conclution,Drawing/ Verifiaction) Penarikan kesimpulan dilakukan selama proses penelitian berlangsung seperti halnya proses reduksi data, setelah data terkumpul cukup memadai maka selanjutnya diambil kesimpulan sementara, dan setelah data benar-benar lengkap maka diambil kesimpulan akhir.

Gambar 1. Komponen Analisis Data Model Interkatif : Miles – Huberman dan Saldana (Matthew B. Miles et al., 2014)

O. Pengecekan Keabsahan data

Uji keabsahan data akan menggunakan Triangulasi Sumber yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui alat dan waktu yang berbeda dengan Cara:

1. Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil interview.

2. Membandingkan apa yang dikatakan oleh informan di depan umum

dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

3. Membandingkan apa yang dikatakan orang dalam penelitian dengan

apa yang dikatakan sepanjang waktu.

4. Membandingkan apa yang dikatakan informan dengan berbagai

pendapat informan lainnya, sesuai dengan status dan kelas sosial yang ada.

5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan.

6. Triangulasi metode, dilakukan dengan mendapatkan level

kepercayaan dengan melakukan pengecekan teknik pengumpulan datanya atau sumber datanya.

P. Tahapan-tahapan Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian, peneliti akan melalui tahapan -tahapan sebagaimana yang ditetapkan sebagai berikut: 1) Tahap Pra -lapangan, dalam hal ini peneliti menyiapkan berbagai keperluan sebelum terjun ke lapangan, termasuk kesiapan adminsitrasi , etika dan mental sebelum penelitian (termasuk perizinan) baik dari IAI

At Taqwa maupun dari Pondok Pesantren Salafiyah Abu Zairi Bondowoso 2) Tahap pekerjaan lapangan, meliputi 1. Memahami latar penelitian 2. Memasuki lapangan Dan 3. Mengumpulkan data terkait dengan Pondok Pesantren Salafiyah Abu Zairi Bondowoso.

3) Tahap Analisa data hasil penelitian, dalam hal ini setelah semua data terkumpul, peneliti menganalisa keseluruhan data dan kemudian dideskripsikan dalam laporan.

Q. Sistematika Penulisan

Dalam sitematika penulisan ini akan dijelaskan kerangka pemikiran yang Untuk memberikan gambaran yang jelas dan terstruktur mengenai arah dan isi dalam penyususn tesis ini, Sistematika ini disusun agar memudahkan pembaca dalam memahami alur penelitian dan isi dari masing-masing bagar lebih mudah dalam pembahasannya. Adapun sistematika penulisan sebagai berikut : Bab I berisi Pendahuluan pada bab ini terdiri dari latar belakang dari permasalahan yang diteliti, fokus penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, serta definisi istilah. Bab ini menjadi pijakan awal untuk memahami konteks dan urgensi dari kajian tentang manajemen pesantren dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan santri.

Bab II berisi Kajian Pustaka, Pada bab ini berisi tentang kajian pustaka, yang meliputi; hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti lain yang permasalahannya ada kesamaan dengan penelitian ini, Pada bab ini dipaparkan berbagai literatur dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik penelitian, khususnya yang berkaitan dengan manajemen pondok pesantren dan pengembangan kewirausahaan di lingkungan pesantren. tinjauan pustaka tentang pengertian dan fungsi teori manajemen.

Bab III berisi Metode Penelitian , dalam bab ini peneliti mengemukakan tentang metode dan prosedur penelitian merupakan hasil penelitian yaitu: 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian, 2. Lokasi Penelitian 3. Subyek Penelitian 4. Teknik Pengumpulan Data 5. Analisa Data 6. Keabsahan Data 7. Tahap -tahap Penelitian serta 8. Sistematika penulisan.

Bab IV membahas Paparan Data dan Analisis, Dalam bab ini peneliti mengemukakan hasil penelitian yang mencakup tentang data dan analisis data. manajemen dalam mendukung program -program kewirausahaan di Pondok Pesantren Salafiyah Abuzairi.

BAB V berisi Pembahasan, dalam bab ini peneliti akan mendeskripsikan

hasil temuan tentang bagaimana strategi manajerial di pesantren mendukung proses pembentukan jiwa dan praktik kewirausahaan di kalangan santri. Bab VI Bab Penutup, berisi kesimpulan dari keseluruhan penelitian, termasuk implikasi dari temuan -temuan terhadap pengembangan lembaga pesantren di masa mendatang. Selain itu, disampaikan pula rekomendasi atau saran-saran yang ditujukan kepada pihak -pihak terkait untuk pengembangan lebih lanjut, baik dari sisi manajemen maupun program entrepreneur di pesantren.

Daftar Pustaka Abroza, A. (2024). Mengeksplorasi Implementasi Kewirausahaan di Pondok Pesantren. Jurnal Pendidikan Tambusai , 8(1), 5335 –5343. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/13228 Adhim, F. (2020). Arah Baru Manajemen Pondok Pesantren. In Nucl. Phys. Afriana, riza devi. (2017). Manajemen Pembelajaran Entrepreneurship Dalam Upaya Peningkatan Outcome Santri Di Pondok Pesantren Daarul Aitam Nurul Iman Kuripan Kidul Kesugihan Cilacap. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 6(November), 5–24.

Aini, E. Z. (2021). Manajemen Pondok Pesantren dalam Pengembangan Mutu Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro Sleman. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan , 3(6), 4750 –4756. https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i6.1543 Anisa, C. A. (2021). Tingkat Manajemen Dan Manajer Beserta Fungsi -Fungsi Manajemen. Leadership:Jurnal Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam , 2(2), 150–164. https://doi.org/10.32478/leadership.v2i2.712 Asandimitra, N., Widyastuti, W., Artanti, Y., & ... (2022). Pelatihan manajemen usaha dan etika bisnis santripreneur pada Pondok Pesantren Mukmin Mandiri Kota Sidoarjo. Jurnal Abdi … .

https://abdiinsani.unram.ac.id/index.php/jurnal/article/view/475 Asri, K. H. (2022). Pengembangan Ekonomi Kreatif di Pondok Pesantren Melalui Pemberdayaan Kewirausahaan Santri Menuju Era Digital 5.0. Alif, 1(1), 17–

26. https://doi.org/10.37010/alif.v1i1.710

Aziz, A. A. (2020). Manajemen Pondok Pesantren Dalam Membentuk Santri Yang Berjiwa Entrepreneur. Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah , 5(3), 233 –254. https://doi.org/10.15575/tadbir.v5i3.2104 Beno, J., Silen, A. ., & Yanti, M. (2022). manajemen pengembangan pesantrendalam kewirausahaan santri di pesantren miftahul ulum kalisat jember. Braz Dent J., 33(1), 1–12.

Cayo, H., Setiawan, B., Fatimah, N., Kurniawan, A., Latukismo, T. H., & Prasetya, A. (2024). Model Pengembangan Kewirausahaan Berbasis Santri . 2, 204 –

210.

Creswell, J. W. (2019). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. In SAGE Publications, Inc. Fachrian, A. (2021). Pesantren Dan Wirausaha. Jurnal Islamika Granada, 1(2), 54–

60. https://doi.org/10.51849/ig.v2i1.16

Firdaus, F., & Hermawan, H. (2021). Manajemen Kurikulum Berbasis Pesantren Di Smp Muhammadiyah Jono Bayan Purworejo. Tamaddun, 22(2), 113. https://doi.org/10.30587/tamaddun.v22i2.3610 Fitrianingsih. (2023). PERAN PONDOK PESANTREN DALAM MENUMBUHKAN JIWA ENTREPRENEUR SANTRI (Studi. 31(1), 82–87. Gunawan, O. A. (2022). Manajemen Pondok Pesantren Al -Ashriyyah Nurul Iman Bogor Oky Ari Gunawan. Indonesian Journal of Islamic Educational Management, 5(1), 12–22.

Irhamnie, A. A. (2023). Implementasi manajemen Pondok Pesantren pada program kewirausahaan santri: Studi deskriptif pada Pondok Pesantren Al Musyahadah Rumah Cerdas Indonesia … . digilib.uinsgd.ac.id. https://digilib.uinsgd.ac.id/70556/ Iskandar, K. A., & Safrianto, A. S. (2020). Pengaruh Keterampilan Wirausaha Dan Pengalaman Usaha Terhadap Keberhasilan Kewirausahaan. Jurnal Ekonomi Dan Industri, 21(1), 14–20. https://doi.org/10.35137/jei.v21i1.403 Isnaini, N. (2022). Manajemen Pondok Pesantren Annuqayah Dalam Mengembangkan Sdm Santri Dibidang Entrepreneurship. In Jurnal Manajemen Bisnis Syariah . academia.edu.

https://www.academia.edu/download/93551372/2789.pdf Kementrian Agama, K. R. (2018). Al -Qur’an Al -Karim dan Terjemahannya. In Komplek Percetakan Al Qur’anul Karim Kepunyaan Raja Fahd (p. 1281). Kementerian Agama RI.

Lexy J. Moleong. (2021). Metodologi Penelitian Kualitatif (revisi). Remaja Rosdakarya.

Liriwati, F. Y., Mulyadi, M., & Syahid, A. (2021). Pendampingan Manajemen Kewirausahaan di Pondok Pesantren Dalam Pemberdayaan Ekonomi

Masyarakat. In Journal of Community.

Mattew B Miles, A. Michael Hubermann, J. S. (2014). Qualitative Data Analysis (3rd ed.). Sage Publication.

Matthew B. Miles, Huberman, A. M., & Johnny Saldaña. (2014). Data Analysis Qualitative A Methods Sourcebook. In Research on Humanities and Social Sciences (Vol. 3, Issue 2). Sage Publication. https://doi.org/10.1016/S0301 4622(98)00172-0 Mochammad Afifuddin. (2022). Peran Pesantren dalam Pengembangan Ekonomi Syariah (Studi pada Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Pondok Pesantren Zainul Hasan). ILTIZAMAT: Journal of Economic Sharia Law and Business Studies, 2(1), 214–230. https://doi.org/10.55120/iltizamat.v2i1.915 Mufarrikoh, Z. (2024). Manajemen Pengembangan Kompetensi Entrepreneurship Santri: Studi Kasus Pada Pondok Pesantren Nurul Islam II Jember. Students’ Difficulties at Elementary School in Increasing Literacy Ability, 4(1), 1–12. Nawawi, U. (2022). Manajemen pendidikan entrepreneur dalam meningkatkan kompetensi wirausaha santri pada pondok pesantren riyadlusharfiwalmantiq. J-STAF: Siddiq, Tabligh, Amanah, Fathonah .

https://ejournal.alfarabi.ac.id/index.php/staf/article/view/48 Nuraeni, Y. A. (2022). Peran Pendidikan dalam Pembentukan Jiwa Wirausaha. Ilmu Pendidikan (ILPEN) , 1(2), 38 –53. https://poskita.co/2020/06/20/peran pendidikan-dalam-pembentukan-jiwa-wirausaha/ Nurrohmat, F. F. (2024). PERAN PONDOK PESANTREN DALAM MEMBANGUN JIWA ENTREPRENEUR SANTRI (Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul Yogyakarta) . elibrary.almaata.ac.id.

http://elibrary.almaata.ac.id/id/eprint/5229 Panut, P., Giyoto, G., & Rohmadi, Y. (2021). Implementasi Undang -Undang Nomor 18 Tahun 2019 Tentang Pesantren Terhadap Pengelolaan Pondok Pesantren. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam , 7(2), 816 –828. https://doi.org/10.29040/jiei.v7i2.2671 Raco, J. . (2019). Metode Peneliti an Kualitatif.pdf (p. 120). Grasindo. Risma Savhira Dwi Lestari, & Mochammad Amaludhin Alwi. (2022). Zakat

Produktif sebagai Instrumen Pengentasan Kemiskinan untuk Masyarakat Usia Produktif. Malia (Terakreditasi) , 14(1), 19 –36. https://doi.org/10.35891/ml.v14i1.3680 Saerozi, I. (2023). Manajemen Pondok Pesantren. repository.penerbiteureka.com. https://repository.penerbiteureka.com/uk/publications/567195/manajemenpondok-pesantren Santosa, A. B. (2024). Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Di Pesantren : Menciptakan Lembaga Pendidikan yang Sejahtera Developing Entrepreneurial Spirit in Pesantren : Creating Prosperous Educational Institutions. 15(1), 39–53.

Sigit Priyo Sembodo, A. (2023). Manajemen Pondok Pesantren dalam Membentuk Kemampuan Entrepreneurship Santri di Pondok Pesantren Fathul Ulum Jombang. Journal of Islamic Education Management & Research (JIEMR) , 1(1), 1–18. https://doi.org/10.51178/jiemr.v1i2.1496 Suherman, U., Esya, E. M., & Cipta, E. S. (2024). Konsep Perencanaan Dalam Manajemen Pendidikan. Journal of Teacher Training and Educational Research, 1(3), 109 –116.

https://ojs.literasiedu.org/index.php/jotter/article/view/251 Sumpiuh, K., Banyumas, K., Saifuddin, P. K. H., & Purwokerto, Z. (2021). Di Pondok Pesantren Al -Anwar Bogangin Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri.

Sunardi, S., & Sohib, S. (2020). Implementasi Manajemen Kewirausahaan dalam Meningkatkan Life Skill Santri di Pondok Pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang. Al-Idaroh: Jurnal Studi Manajemen Pendidikan Islam , 4(2), 210–

226. https://doi.org/10.54437/alidaroh.v4i2.167

Susanto, H. (2021a). Manajemen Pondok Pesantren Dalam Mengembangkan Kewirausahaan Berbasis Agrobisnis Di Pondok Pesantren Darul Aufa. Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam , 5(2), 121 –138. https://doi.org/10.32478/evaluasi.v5i2.629 Susanto, H. (2021b). Manajemen Pondok Pesantren Dalam Mengembangkan Kewirausahaan Berbasis Agrobisnis Di Pondok Pesantren Darul Aufa.

Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan … . https://e -journal.staimaalhikam.ac.id/evaluasi/article/view/629 Syahputra, D. R., & Aslami, N. (2023). Prinsip-Prinsip Utama Manajemen George

R. Terry. Manajemen Kreatif Jurnal (MAKREJU), 1(3), 51–56.

Syarifudin, A., Yetri, Y., & Thahir, A. (2023). Manajemen Pondok Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Kemandirian Entrepreneur Santri Pondok Pesantren Salafiyah Baitul Kirom Lampung Selatan. … : Journal of Islamic Education … . http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/El idare/article/view/16801 Tambak, S. P., Maulidya, A., & Khairani, K. (2023). Tujuan Manajemen Pendidikan Islam. Transformasi Manageria: Journal of Islamic Education Management, 3(2), 515–528. https://doi.org/10.47467/manageria.v3i2.3180 Tharaba, M. F. (2023). An-Natiq Jurnal Kajian Islam Interdisipliner STRATEGI

KEPALA MADRASAH DALAM MENGEMBANGKAN KOMPETENSI

ENTERPRENEUR BERBASIS AL- QUR ’ AN Suci Hidayati , Marno , Fahim Tharaba Pendahuluan Pendidikan dan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan . H. 3, 33–41.

Vinet, L., & Zhedanov, A. (2011). A “missing” family of classical orthogonal polynomials. Journal of Physics A: Mathematical and Theoretical , 44(8), 1–

14. https://doi.org/10.1088/1751-8113/44/8/085201

Walliman, N. (2011). Research_Methods_The_Basics_Nicholas (1st ed.). Routlagde.

Yanti, S. D. (2021). Implementasi manajemen pondok pesantren pada program kewirausahaan santri: Penelitian di Pondok Pesantren An -Nawawi Tanara Serang Banten. digilib.uinsgd.ac.id. https://digilib.uinsgd.ac.id/40916/ Yaqutunnafis, L., & Nurmiati, N. (2021). Manajemen Pondok Pesantren dalam Meningkatkan Pendidikan Kewirausahaan Siswa. Jurnal Ilmu Manajemen , 10(2), 143. https://doi.org/10.32502/jimn.v10i2.2884